Tampilkan postingan dengan label Analis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Analis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 November 2016

Legenda Batalion Infanteri Mekanis

✈ Ada hikmah lain di balik pensiunnya Agus Yudhoyono. Pemberitaan seputar Agus turut mengangkat nama batalion infanteri mekanis, satuan tempur relatif baru di tanah air. Kenali lebih lanjut bersama Aris Santoso. Saat Mayor Inf. Agus Harimurti Yudhoyono (kini sudah berstatus purnawirawan) memutuskan mengundurkan diri dari dinas TNI pada akhir September lalu, sehubungan niatnya untuk maju sebagai Cagub (calon gubernur) DKI Jakarta Raya, publik merasa terkejut.

Bagaimana tidak, Agus dikenal sebagai perwira muda yang cemerlang, dengan masa depan menjanjikan. Latar belakang keluarganya juga mendukung, ayah dan kakeknya adalah jenderal yang sangat terkenal. Sepertinya bukan hanya TNI yang merasa kehilangan salah seorang kader terbaiknya, namun publik juga menyayangkan pilihan Agus untuk pensiun dini.

Pilihan Agus untuk pensiun dini adalah proses politik yang masih terus bergulir. Kita masih harus menunggu bagaimana performa Agus di "palagan” yang baru. Namun ada hikmah lain di balik pensiunnya Agus, bahwa pemberitaan seputar Agus turut mengangkat nama batalion infanteri mekanis (yonif mekanis), model satuan tempur yang relatif baru di tanah air. Mengingat posisi terakhir Agus sebelum mengundurkan diri, adalah Komandan Batalion Infanteri Mekanis 203/Arya Kamuning yang berkedudukan di Tangerang.

 Para Raiders dan Yonif Mekanis 

Perjalanan karier Agus juga unik, yang seolah merefleksian perjalanan satuan infanteri lintas udara di tanah air. Pasca perang kemerdekaan, TNI (d/h ABRI) mulai membentuk satuan infanteri berkemampuan khusus, dengan kualifikasi teknis dan persenjataan yang lebih mumpuni, di atas rata-rata satuan infanteri reguler.

Mulai dasawarsa 1950-an, mulai dibentuk satuan-satuan yang di kemudian hari menjadi legendaris, bahkan hingga hari ini. Satuan dimaksud antara lain, Kopassus (April 1952), Yonif 401/Banteng Raiders (Mei 1952), Yonif Linud 328/Kujang II, Yonif Linud 330/Kujang I, dan seterusnya.

Bila satuan dengan kualifikasi khusus tersebut, sudah teruji dalam berbagai medan tugas, hingga layak memperoleh sebutan sebagai satuan legendaris. Sedang yonif mekanis, sebagai model satuan relatif baru, masih dalam tahapan menuju legendaris. Saya kira ditunjuknya Agus sebagai Komandan Yonif Mekanis 203 (Agustus 2015), merupakan bagian dari skenario pimpinan TNI AD, agar satuan Yonif Mekanis dimaksud cepat menemukan bentuknya. Mengingat Agus sebelumnya lama bertugas di satuan yang juga legendaris, yaitu Batalion Linud 305/Tengkorak Kostrad (Karawang), dan sempat menjabat sebentar sebagai Wakil Komandan Yonif Mekanis 201/Jaya Yudha.

Sekedar tambahan informasi, seluruh satuan berkualifikasi linud (lintas udara), kini sebutannya diganti menjadi batalion para raiders. Seperti Yonif Linud 305 misalnya, kini menjadi Yonif Para Raiders 305/Tengkorak. Memang perkembangannya demikian cepat, bisa jadi publik belum sempat update informasinya, termasuk soal keberadaan yonif mekanis. Sebagaimana disebut sekilas di atas, bila tidak ada berita soal Mayor Agus, bisa jadi publik juga belum paham soal keberadaan yonif mekanis.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixpHKk24HYuGtymZVvrK14IkhQ4pckKF16bsYxelX5udk860eCKklYQYp5Mir3wUvWCi4LjaHgcq1YhovZwDmqbmDdL0IFSgJ9NSNLnJ1fg-EO3ALULlMsSyqsiyhzrcAAB4ylPPYFnSG_/s1600/1442852644352+Yonif+Mekanis+201+Jaya+Yudha..jpgKalau sedikit kita runut ke belakang, segala perubahan menyangkut konsep satuan, khususnya satuan tempur, tidak lepas dari peran pimpinan yang sedang menjabat. Soal pembentukan yonif mekanis misalnya, itu adalah program saat KSAD dipegang oleh Jenderal George Toisutta.

Setiap KSAD selalu membuat terobosan, selain untuk kemajuan institusi, juga agar namanya (sebisa mungkin) selalu dikenang. Seperti Ryamizard misalnya, yang sudah identik dengan pembentukan satuan raiders pada tiap kodam, karena hal ini adalah program unggulan saat Ryamizard menjadi KSAD (2002-2005). Termasuk dalam hal perubahan sebutan untuk satuan berkualifikasi lintas udara (linud), menjadi para raiders. Selain sebutan yang berganti, juga ada peningkatan status kualifikasinya.

Dalam sebuah wawancara dengan majalah militer Angkasa (edisi April 2007), Jenderal (Purn) Luhut B. Panjaitan (kini Menko. Maritim) dalam kapasitasnya sebagai sesepuh korps infanteri, menjelaskan, pembentukan yonif mekanis masih dalam tahapan persiapan, karena TNI AD (saat itu) masih fokus pada pengembangan light infantry. Light infantry dimaksud Luhut adalah satuan infanteri ringan sebagaimana kita kenal selama ini, dengan persenjataan utama adalah senapan serbu, dan pergerakan pasukannya masih dengan cara berjalan kaki. Sementara dalam yonif mekanis, pergerakan pasukan sudah menggunakan ranpur (kendaraan tempur), agar lebih cepat mencapai sasaran.

Pada pertengahan 2007 itu pula, muncul rintisan pembentukan yonif mekanis, ketika TNI sedang bersiap ke Libanon dalam misi perdamaian di bawah payung PBB (Kontingen Garuda). Saat itu instruktur dari Pusdikkav (Pusat Pendidikan Kavaleri) memberi pelatihan mengendarai ranpur pada sejumlah personel dari korps infanteri. Ranpur yang disiapkan umumnya masuk kategori kendaraan angkut personel atau biasa dikenal sebagai APC (armoured personnel carier), seperti VAB Renault (produksi Perancis) atau BTR 40 (Rusia), yang memang sesuai dengan kebutuhan pasukan infanteri.

Membantu misi perdamaian PBB di LibanonMembantu misi perdamaian PBB di Libanon

 Menanti Palagan 

Rupanya prosesnya berlangsung demikian cepat, sekitar tiga tahun kemudian. Pada Februari 2010 KSAD (saat itu) Jenderal George Toisutta sudah meresmikan berdirinya Yonif Mekanis 201/Jaya Yudha (markas Gandaria, Jakarta Timur) sebagai yonif mekanis pertama di Tanah Air. Yonif Mekanis 201 selanjutnya diperkuat dengan panser angkut personel Anoa, produksi Pindad.

Kini seluruh yonif (konvensional) di Kodam Jaya, telah ditingkatkan statusnya menjadi yonif mekanis, yaitu Yonif Mekanis 202/Taji Malela (Bekasi) dan Yonif Mekanis 203/Arya Kamuning (Tangerang). Satuan yang disebut terakhir inilah, yang sebelumnya dipimpin Mayor Inf. Purn. Agus Harimurti Yudhoyono.

Karena proses yang terlalu cepat, kalau tidak boleh disebut terburu-buru, maka dalam praktik di lapangan acapkali terjadi tumpang tindih atau irisan dalam penggunaan ranpur, antara yonif mekanis dan yonkav (reguler). Sekadar ilustrasi, dalam operasi pengamanan aksi massa 4 November (411) di Jakarta baru-baru ini misalnya, Yonif Mekanis 203 menurunkan panser Anoa, sementara Yonkav 7/Panser Khusus Kodam Jaya menurunkan panser VAB.

Dua panser tersebut sebenarnya masuk kategori yang sama, yaitu jenis angkut personel (APC). Sebenarnya Yonkav 7 memiliki ranpur jenis lain, yaitu panser V-150 (Perancis), yang bisa jadi faktor pembeda dengan ranpur organik yonif mekanis. Mengingat V-150 memiliki meriam (canon), sementara ranpur yonif mekanis umumnya hanya dilengkapi senjata mesin berat, sebagai cara mempertahankan diri, saat mendorong pasukan (infanteri reguler) ke titik sasaran. Ini merupakan salah satu fenomena, bagaimana yonif mekanis di Tanah Air sedang mencari bentuk, sehingga terkesan masih ambigu dalam penggunaan ranpur.

http://icdn.antaranews.com/new/2014/10/ori/20141017431.jpgTerlihat pula dalam pengalaman berikut, bagaimana ranpur yonif mekanis terkadang bisa lebih canggih dari ranpur organik yonkav reguler, yang jauh lebih lama berdiri. Sebagaimana terjadi pada Yonif Mekanis 413/Bremoro (Solo), yang sudah mengoperasikan ranpur Marder (produksi Jerman), jenis ranpur yang menggunakan roda rantai (tracked infantry vehicles).

Masih di sekitaran Jawa Tengah, Yonif Mekanis 411 (Salatiga) dan Yonif Mekanis 412 (Purworejo) segera memperoleh sekian unit M113 (produksi AS). Marder dan M113, dalam khazanah ranpur biasa disebut sebagai IFV (infantry fighting vehicle), jadi sedikit berbeda dengan APC. Ini memang terkesan ironi, mengingat ada sebagian yonkav yang masih mengoperasikan tank ringan AMX 13 (Perancis), yang sudah tergolong tua, kemudian panser Saladin dan Saracen, produksi Inggris tahun 1950-an.

Sebagaimana disebut sekilas di atas, apabila satuan infanteri regular seperti Yonif 400/Raiders (dahulu Yonif 401/Banteng Raiders) atau Yonif Para Raiders 328/Kujang II, sudah sampai tingkatan legendaris, maka satuan yonif mekanis sedang berproses atau mencari jalan menuju legenda. Menilik pengalaman satuan tempur pada umumnya, butuh waktu relatif lama untuk menjadi satuan legendaris.

Terkait yonif mekanis, setidaknya karena dua hal. Pertama, palagan untuk yonif mekanis lebih terbatas dibanding infanteri. Yonif mekanis lebih sebagai antisipasi masalah di kawasan urban (perkotaan), sementara bagi yonif reguler bisa diterjunkan di medan apapun. Kedua, ranpur yonif mekanis (khususnya panser Anoa), belum pernah teruji dalam medan tempur yang sesungguhnya (battle proven).

 Perang Kota dan Alokasi Anggaran 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJEGYSetmvcxR5JDvWCwPSahb89_mSC7nilikkg2Qy1KEAf8QBU-9TQg-4M1JsKfdY4l6TzdtIl4VuPyrjngIeI9PLXIMKQeXVF_XKS6ZzW4z41zbI0gGx3nAIlY5NOuSV3XaLGROC3B-a/s1600/pindad02pr1v4t33r.jpgPercepatan pembentukan yonif mekanis di Tanah Air boleh disebut pengalaman menarik. Proyek bisa berjalan mulus, karena ada titik temu antara pengembangan konsep perang kota (urban warfare) dan alokasi anggaran. Konsep perang kota sudah dikenal TNI AD sejak tahun 1980-an, salah satunya diwujudkan dengan pembentukan Detasemen 81 Kopassus (kini Satgultor 81), sebagai respons adanya ancaman di ruang urban, seperti pembajakan pesawat atau gedung bertingkat. Dalam konteks perang kota inilah kemudian muncul dua konsep turunan, sebagai panduan dalam operasi riil di lapangan, yakni MOUT (military operations on urban terrain) dan PJD (pertempuran jarak dekat, close quarters battle).

Mengacu pada praktik di negara Barat (khususnya AS, Jerman dan Australia), pembentukan yonif mekanis merupakan kelanjutan atau bagian dari konsep MOUT/PJD. Yonif mekanis dibentuk untuk memenuhi prinsip kecepatan dalam menuju titik sasaran, prinsip yang tidak bisa ditawar dalam operasi perkotaan.

Sementara pada waktu hampir bersamaan, pemerintah (baca Kemenhan) berkomitmen memperkuat produk dalam negeri dalam pengadaan alutsista (alat utama sistem persenjataan), sehingga Pindad memproduksi panser Anoa dalam skala besar. Dengan kebijakan seperti ini, artinya alokasi anggaran untuk pembentukan yonif mekanis memang sudah tersedia. Pada gilirannya alokasi anggaran harus diserap, itu sebabnya pembentukan yonif mekanis terkesan cepat. Sampai-sampai publik tidak mengetahui detail keberadaan yonif mekanis, padahal ada dana rakyat yang dipakai untuk membiayai operasional yonif mekanis, khususnya dalam pengadaan ranpur.

Penulis: Aris Santoso Penulis: Aris Santoso (ap/rzn)

Sejak lama dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD. Kini bekerja sebagai staf administrasi pada lembaga HAM (KontraS). Tulisan ini adalah pendapat pribadi.


*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

  DW  

Minggu, 13 November 2016

Fakta Anyar Diucapkan Bos Bappenas Soal Ekonomi, Pengusaha & Perang

✈ N219  [PTDI]

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2016 sebesar 5,02 persen. Pertumbuhan ekonomi secara kumulatif sampai dengan triwulan III 2016 tumbuh sebesar 5,04 persen.

Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, nilai Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III 2016 berdasarkan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) mencapai Rp 2.428,7 triliun dan berdasarkan Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) mencapai Rp 3.216,8 triliun.

"Sudah bagus, perlu upaya sisi pertumbuhan ekonomi dan kualitasnya," ujar Suhariyanto di kantornya, Jakarta, Senin (6/11).

Sementara pertumbuhan ekonomi di beberapa negara yang selama ini menjadi mitra dagang Indonesia masih bervariasi. Seperti ekonomi AS menguat dari 1,3 persen menjadi 1,5 persen.

Kemudian, ekonomi China stagnan di 6,7 persen. Pertumbuhan ekonomi Singapura melambat dari 2,0 persen menjadi 0,6 persen dan ekonomi Korea Selatan juga melambat dari 3,3 persen menjadi 2,7 persen.

Meski demikian, ada fakta lain di balik pertumbuhan ekonomi ini serta jumlah pengusaha di Indonesia. Menteri PPN/Bappenas, Bambang Brodjonegoro membeberkannya dalam acara di Perbanas Institute, Jakarta.

 1. Kondisi ekonomi saat ini tak ada bedanya dengan masa penjajahan 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgGGNsKPN-7oDi742j_ItQPOxUjuQ5a0xeQyjVil_JWyg9Kbdx-nSFkpcxPTtlttFrX_Bu1Js8HFPMjJ5X7YWEuPkWwni49O6M-IZeBtTxJ8zHNMZSUy2T5TyQiK9TWjYMtWqK8KAdKXEc/s819/gold+mine+freeport.jpgMenteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, menilai perekonomian Indonesia saat ini tak ubahnya dengan kondisi perekonomian di masa penjajahan. Alasanya, sampai saat ini Indonesia masih mengandalkan pendapatan dari komoditas seperti rempah-rempah di zaman penjajahan.

"Kenapa? Karena waktu Belanda masuk Indonesia mereka punya alasan. Apa yang mereka kejar? Sumber Daya Alam. Tahun 1600-an, 1700-an. Portugis, Spanyol, Belanda mereka kejar rempah-rempah kita. Kalian mikir ngapain mereka jauh-jauh cari rempah-rempah kita. Komoditas yang menjadi andalan kita," ujarnya di Perbanas Institute, Jakarta, Sabtu (12/11).

"Jangan lupa waktu itu mereka di Eropa pengen makan enak karena kehidupannya bagus. Akhirnya mereka tahu kalau makan enak itu pakai bumbu. Maka mereka datang ke Indonesia," sambungnya.

Setelah bertahun-tahun dijajah dan terus digerus hasil kekayaan alamnya dengan melakukan sistem tanam paksa, Indonesia akhirnya merdeka. Selepas era tersebut, Indonesia tidak lagi mengandalkan komoditas melainkan hasil minyak yang ditemukan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Belanda yakni Royal Deutch Shell.

"Hasil minyak kita menjadi andalan pada saat itu yang ditemukan oleh Shell. Setelah itu hasil-hasil olahan kayu juga menjadi andalan. Kemudian masuk ke manufkatur, tekstil, garmen itu bagus. Tapi sayangnya karena kolaps akhirnya kita balik lagi ke komoditas. Mulai dari batu bara, tambang, sawit dan lainnya. Makanya ekonomi Indonesia kayak jaman penjajahan Belanda," pungkasnya.

 2. Kemenkop cuma rajin cetak pengusaha UKM 
http://www.banjirpesanan.com/wp-content/uploads/2015/09/ukm.jpgMenteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) dan Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengkritik kinerja Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop). Menurutnya, Kemenkop terlalu fokus memperbanyak UKM tapi tidak meningkatkan level UKM itu sendiri.

"Saya kritik Kementerian UKM memperbanyak pengusaha UKM. Tapi lupa mendorong untuk menaikan kelas UKM menjadi pengusaha besar. Masa mau jadi pengusaha UKM mulu," ujarnya di Perbanas Institute, Jakarta, Sabtu (12/11).

Mantan Menteri Keuangan ini khawatir, jika di saat Kemenkop memperbanyak jumlah UKM, tapi banyak juga UKM yang mati. Hal ini dinilai akan membuat UKM menjadi sulit naik kelas dan tidak akan memberi kontribusi lebih bagi negara.

"Dia lupa kalau ada cerita sebanyak 1000 UKM bangkrut walau ada 1000 UKM baru. Saya engga menyalahkan kementerian nya, tapi mentalnya," tuturnya.

 3. Pengusaha di Indonesia itu-itu saja, tak ada yang baru 
https://w-dog.net/wallpapers/2/4/462647656854265/jakarta-indonesia-evening-city-capital-jakarta-indonesia-night-town-metropolis-capital-skyscraper-house-buildings-lighting-lights.jpgMenteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengeluhkan kurangnya enterpreneur atau wirausaha yang ada di Indonesia. Padahal, keberadaan pengusaha tersebut mempengaruhi kualitas suatu negara.

"Indonesia kekurangan enterpreneur. Nah ini menjadi pembeda antara negara maju dan negara biasa," ujarnya dalam diskusi di Perbanas Institute, Jakarta, Sabtu (12/11).

Salah satu penyebab kurangnya enterpreneur di Indonesia karena disebabkan adanya dominasi dari wirausaha lain yang sudah lama. Bambang menyebut, dalam beberapa puluh tahun terakhir, para enterpreneur hanya seolah turun menurun dari satu keluarga.

Bambang mencontohkan, pada saat dahulu dirinya masih kuliah sampai beberapa tahun terakhir, dalam peringkat-peringkat pengusaha maupun perusahaan yang mendominasi jajaran atas dunia kerap diisi oleh orang yang sama dan perusahaan yang sama.

"Istilahnya 4L, lo lagi ... lo lagi. Yang sama itu anaknya, bapaknya, cucunya. Waktu saya mahasiswa di UI saya rajin baca majalah. Rajin bikin rangking warga terkaya, orang terkaya, itu saya amati. Ranking itu dilakukan oleh majalah Forbes. Tidak beda enggak yang tua, yang muda, grup perusahaannya dia ... dia lagi. Sangat sedikit pengusaha baru yang masuk ke peringkat tinggi," jelas dia.

Untuk itu, dia meminta kepada semua pihak untuk bersama-sama mendorong keberadaan wirausaha beserta kualitasnya. Selain itu, dia pun mendorong agar anak muda sekarang terutama mahasiswa memiliki pola pikir untuk menciptakan usaha, bukan sebagai budak korporasi.

"Makanya kita harus menambah enterpreneur. Nah makanya kita dorong ke mahasiswa agar jadi enterpreneur. Jangan lulus mikirnya mau jadi karyawan," pungkasnya.

 4. Negara besar perang agar industri senjata mereka laku 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiw2AMfc2R1Jd4oElvEZ3qbYuzI-f70w9zyzVHaWpM5BWr2xYwchsSehcd58n446ZXtH2eDTQVLA9TXVX7Iol9G8ma-43SSTl28XMilcPZ_X2gTGnAmyzMj6LoyZoQpbGFV5dOZJt33jc5L/s1600/c.php.jpgMenteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Bambang Brodjonegoro bercerita mengenai perbedaan negara besar dengan negara kecil dalam melakukan perang. Menurut Bambang, negara besar seperti Amerika melakukan perang dengan negara lain karena tujuan bisnis.

"Amerika dan negara besar lainnya itu hobi perang itu semata-mata bisnis. Yang namanya peta politik global ketika Amerika dan negara lain inisiasi perang itu tujuannya jelas. Agar industri senjata mereka laku," ujarnya dalam diskusi di Perbanas Institute, Jakarta, Sabtu (12/11).

Sedangkan negara kecil, menurut Bambang, mereka melakukan perang murni untuk membela kepentingan bangsanya. Sebab, mereka tidak ingin kekayaan mereka tergerus oleh negara kecil lainnya maupun negara besar.

"Negara kecil saja yang murni perang untuk mempertahankan negaranya," ucapnya.

Selain itu, mantan Menteri Keuangan ini menambahkan, apabila negara-negara besar melakukan perang di Timur Tengah, ada dua keuntungan yang mereka dapat. Pertama dari sisi industri dan kedua dari sisi sumber daya alamnya dengan menggerus minyak di negara-negara di sana.

"Kalau perang di Timur Tengah itu mereka dapat untung double. Senjata dan minyak. Itu jelas tujuannya ekonomi. Kalau negara besar perang itu tujuannya kalau tidak untuk keuntungan industri senjata mereka ya untuk SDA," pungkasnya.

 5. Asing kuras kekayaan SDA Indonesia 
https://img.okezone.com/content/2016/10/22/320/1521795/freeport-tak-serius-bangun-smelter-olOGLxucBO.jpgIndonesia dikenal sebagai negara yang memiliki sumber daya alam (SDA) yang sangat melimpah. Besarnya potensi tersebut membuat Indonesia dilirik negara-negara lain untuk digerus nilai tambahnya.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN), Bambang Brodjonegoro bercerita mengenai cara pihak asing menggerogoti nilai tambah tambang dalam negeri. Salah satunya terjadi pada 2014 silam saat Bambang menjadi delegasi Indonesia untuk menghadiri forum The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) atau forum negara-negara maju.

Bambang yang saat itu masih menjabat sebagai Menteri Keuangan dan menceritakan bahwa Indonesia tengah di review oleh negara-negara maju perihal kebijakan dalam negeri.

Dalam kesempatan tersebut, ada kebijakan pemerintah yang begitu dikritisi keras oleh negara-negara yang tergabung dalam OECD, yaitu hilirisasi di sektor pertambangan salah satunya pelarangan ekspor tambang mentah.

"Itu saya alami langsung tahun 2013-2014, ketika Indonesia akan melarang ekspor tambang mentah. Kelihatan sekali negara-negara luar sangat tidak suka sehingga dalam forum OECD saat saya menjabat sebagai Menkeu yang menjadi delegasi Indonesia, kita sedang di review oleh OECD yang merupakan perkumpulan negara-negara maju. Ketika di review mereka mengkritisi kebijakan-kebijakan itu. kritisinya luar biasa tajam, pokoknya kita dianggap bodoh, enggak ngerti perdagangan comparative dan segala macam," ujarnya dalam diskusi di Perbanas Institute, Jakarta, Sabtu (12/11).

Mendapat kritik tersebut, mantan Menteri Keuangan ini tak terima dan merespons dengan sebuah jawaban yang cukup membuat delegasi dalam forum OECD bungkam.

"Indonesia melakukan ini karena Indonesia ingin seperti kalian semua, Indonesia ingin menjadi negara maju seperti kalian. Sejauh yang saya tahu, tidak ada satu-pun negara maju di dunia yang hidup dengan hanya ekspor bahan mentah. Cuma yang saya tekankan adalah, kamu bujuk-bujuk Indonesia masuk OECD karena kamu berpikir Indonesia akan menjadi negara maju. Karena itulah kita membuat kebijakan yang mendorong Indonesia menjadi negara maju," jelas dia.

Kemudian, Bambang menegaskan jika tidak ada satu pun negara yang ada di belahan bumi ini dapat hidup hanya dengan mengandalkan kekayaan SDA-nya. Jika ada negara yang seperti itu, kata dia, maka negara tersebut akan mendapatkan kutukan SDA.

"Artinya apa sih ? kalau Anda pelajari seputar SDA negara yang kebanyakan SDA itu malah menjadi negara yang tidak maju-maju. malah berpotensi berantakan," kata dia.

Untuk itu, pihaknya meminta kepada seluruh kementerian terkait maupun para pemangku kepentingan saat ini agar tidak terpengaruh dengan bujuk rayu negara lain untuk menjual hasil kekayaan SDA-nya. Bambang berpendapat, kekayaan SDA yang dimiliki Indonesia saat ini lebih baik di optimalkan di dalam negeri agar menjadi nilai tambah yang bermanfaat untuk perekonomian dalam negeri.

"Jangan terus-terusan kita dijebak untuk menjadi negara yang ekstraktif tadi. Negara yang enggak peduli sama nilai tambah, dan di sini, Anda secara tidak langsung berhadapan dengan pihak asing, pemodal asing. itu akan dengan segala cara atau taktik akan membujuk Indonesia seperti ini.

'udah deh kamu nggak usah mikirin nilai tambah atau kelapa sawit di ekspor CPO ke kita, ekspor saja nikel mentahnya ke kita, ekspor aja batu bara ke kita. kamu dapat duit, kita senang kamu senang'. Mereka senang karena mereka mendapat nilai lebih yang sebenarnya melalui nilai tambah itu,
" tutupnya. (merdeka.com)

  Riauaktual  

Perang Urat Syaraf Jokowi di Safari TNI-Polri

Analisis https://akcdn.detik.net.id/community/media/visual/2016/11/11/e969f10b-a769-4cbf-a53a-6817a926e90c.jpg?w=1080Kunjungan Presiden Jokowi ke Mako Marinir, Cilandak. [detik] ☆

Puluhan ribu orang yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI) melakukan unjuk rasa menuntut Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dihukum. Aksi itu berujung ricuh.

Polisi menetapkan belasan orang sebagai tersangka. Presiden Joko Widodo menyatakan, ada oknum politik yang menunggangi demo itu.

Semenjak kejadian itu, Jokowi melakukan safari ke lembaga penegak hukum dan pertahanan.

Dalam dua hari, Jokowi mengunjungi tiga markas pasukan elite Indonesia, yaitu Markas Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD di Cijantung, Jakarta Timur, Kamis (10/11); Markas Korps Brigade Mobil (Brimob) Polri di Kelapa Dua, Depok; dan Markas Korps Marinir TNI AL di Cilandak Timur, Jakarta Selatan.

Ada tiga poin utama yang disampaikan Jokowi dalam kunjungan tersebut, yaitu legitimasi (legitimacy), keamanan (security), dan kebhinekaan (diversity) Indonesia. Ketiga hal ini terus diulang-ulang Jokowi.

Pada kunjungan pertama di hadapan ribuan prajurit, Jokowi menekan dirinya adalah Panglima Tertinggi TNI dan Polri. Artinya, ia adalah pemimpin tertinggi dan semua prajurit TNI-Polri harus patuh padanya, tanpa terkecuali.

"Ini (Kopassus) adalah pasukan cadangan yang bisa saya gerakkan sebagai panglima tertinggi, lewat Pangab, lewat Panglima TNI untuk keperluan khusus," kata Jokowi.

Jokowi yang didampingi Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, meminta Kopassus setia kepada Indonesia, Pancasila, dan UUD 1945. Ia berharap Kopassus sebagai perekat kemajemukan dan menjaga persatuan Indonesia yang penuh keragaman suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Kunjungan kedua, di hadapan ribuan pasukan Brimob, Jokowi menegaskan dirinya sebagai pimpinan tertinggi Kepolisian.

"Sebagai pimpinan tertinggi Kepolisian, saya minta kepada seluruh Korps Brimob di seluruh tanah air untuk setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, kepada UUD 1945, dan kepada NKRI," katanya.

Lagi-lagi dengan menyebut diri sebagai pimpinan tertinggi, Jokowi memerintahkan seluruh anggota pasukan elite Polri itu untuk waspada terhadap gangguan keamanan dan ketertiban di masyarakat.

"Sekecil apapun gangguan itu, segera selesaikan. Sekecil apapun. Jangan menunggu sampai masalahnya menjadi lebih besar dan membesar," katanya.

Ia meminta Korps Brimob menjadi pelopor persatuan, menjadi penjaga kebhinnekaan, tanpa membedakan asal suku, agama, dan golongan.

Dalam pertemuan ini, Jokowi ditemani Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Poin kunjungan masih sama: legitimasi, keamanan, dan keberagaman Indonesia.

Safari Jokowi berlanjut ke Cilandak, Markas Korps Marinir. Di hadapan tiga ribuan infanteri laut itu, Jokowi menekankan loyalitas pasukan kepada Indonesia.

"Saya ingin memastikan bahwa semuanya loyal pada negara, setia pada Pancasila, pada UUD 1945, pada NKRI, pada kebhinekaan kita," kata Jokowi.

Jokowi memerintahkan Marinir menjadi garda terdepan menghadapi gangguan bangsa dan menjadi kekuatan perekat kemajemukan bangsa.

"Sebagai panglima tertinggi TNI saya memerintahkan kepada prajurit Marinir untuk menjadi yang terdepan dalam menghadapi setiap kekuatan yang mengganggu kesatuan bangsa," tutur Jokowi.

Jokowi juga mengumpulkan prajurit TNI lintas matra di Mabes TNI AD, Senin (7/11). Keesokannya, Jokowi bertemu ratusan perwira tinggi dan menengah Polri di PTIK, Jakarta Selatan.

 Psywar Jokowi 

Kunjungan Jokowi ke pusat kekuatan pertahanan dan keamanan Indonesia memiliki tiga pesan. Khususnya kepada lawan politik yang diduga sedang menggoyang kekuatan TNI dan Polri.

Menurut Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) Universitas Padjdjaran, kedatangan Jokowi, pertama, untuk menepis info yang sedang disebar oknum-oknum tertentu bahwa TNI-Polri tidak mendukung Jokowi.

Ini bentuk psywar (perang urat syaraf) dan memberi sinyal. Menegaskan Jokowi solid mengontrol TNI Polri,” kata Muradi saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Kedua, Jokowi ingin menunjukan kekuatan dan ketegasan dirinya baik dari sisi politik, keamanan, dan pertahanan.

Ketiga, Jokowi ingin menyampaikan pesan bahwa ia memiliki kekuasaan penuh atas TNI dan Polri. Artinya, tidak ada pihak lain yang bisa menggunakan kedua institusi itu untuk kepentingan pribadi.

Penegasan secara politik bahwa dia bukan pemimpin yang diasumsikan pihak-pihak anti Jokowi, yaitu lemah dan tidak punya ketegasan. Dia mau membantah itu. Kunjungan itu juga penegasan Jokowi dalam mengontrol TNI dan Polisi,” katanya.

Menurut Muradi, pesan ini penting dikeluarkan untuk mengingatkan para TNI dan Polri untuk tidak bertindak di luar tugas dan kewajibannya, apalagi masuk terlibat dalam politik praktis.

 TNI dan Polri Menjawab 

Kedatangan Jokowi ke pusat kekuatan TNI dan Polri dijawab dengan kesetiaan oleh Gatot dan Tito.

Panglima Gatot Nurmantyo menyatakan dengan tegas bahwa Jokowi adalah Presiden Indonesia dan komandan tertinggi yang harus dipatuhi.

"TNI sebagai garda terdepan menjaga Bhinneka Tunggal Ika, serta menghadapi setiap kekuatan yang ingin mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa, dan beliau (Jokowi) atasan saya. Saya lebih baik saya menjadi tumbal melaksanakan tugas untuk menjaga kebhinekaan daripada saya menjadi presiden," kata Gatot.

Kapolri Tito Karnavian tak ketinggalan. Ia menjawab dengan tegas bahwa Jokowi adalah panglima tertinggi Polri.

"Hari ini momentum penting bagi kita Korps Brimob hadir pimpinan tertinggi Polri. Kapolri pimpinan tertinggi di internal Polri, panglima tertinggi di TNI dan Polri adalah Bapak Presiden," kata Tito. (rdk)

  CNN