Tampilkan postingan dengan label Hankam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hankam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 November 2016

[Teror] Penyanderaan Warga Indonesia Meningkat

Filipina Perangi Bandit Ilustrasi. 

K
elompok bersenjata Filipina kembali menculik dua nelayan asal Indonesia di perairan Malaysia Timur. Militer Filipina mengungkapkan seperti dilansir Reuters, Minggu (20/11/2016) unit pasukan siaga mencegat para penculik saat berlayar menuju ke Filipina Selatan.

Militer Filipina menduga kejadian ini didalangi oleh kelompok militan Abu Sayyaf. Lima pria bertopeng dan bersenjata menyerang dua nelayan Indonesia yang tengah memancing ikan di Sabah, Malaysia, Sabtu 19 November malam.

"Kelompok bersenjata membawa para korban menuju Filipina selatan, ketika kami mencegatnya," ujar Juru Bicara Militer Filipina, Mayor Filemon Tan. Sebagai bagian dari gerakan separatisnya, kelompok pemberontak Abu Sayyaf beroperasi di wilayah Kepulauan Sulu dekat dengan Malaysia. Kelompok ini diketahui memberi sumpah setianya pada kelompok radikal Al-Qaeda.

Pembajakan dan penyanderaan dikenal sebagai tindakan dalam rangka mencari keuntungan oleh para bandit atau para kelompok pemberontak. Kini tentara Filipina berupaya meningkatkan serangan untuk membongkar jaringan mereka.

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, baru-baru ini membahas ancaman maritim kelompok Abu Sayyaf dengan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak. Pertemuan tersebut menghasilkan kerjasama dalam upaya menghentikan aksi penculikan.

Kelompok Abu Sayyaf terkenal brutal dan kejam. Mereka tak segan-segan membunuh para sandera dengan cara dipenggal, jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. Kini mereka memiliki 22 tawanan yang berasal dari berbagai negara seperti Belanda, Jerman, Korea Selatan, serta lima orang asal Malaysia, dua warga Indonesia, enam warga Vietnam dan enam warga Filipina. (rfa)

  Okezone  

Sabtu, 19 November 2016

Indonesia Tolak Tuduhan Lalai Atas Bangkai Kapal Perang

Pemerintah dan militer Indonesia menolak disalahkan atas lenyapnya bangkai kapal perang Belanda dan Inggris, yang tenggelam di Laut Jawa tahun 1942. Kedua negara memrotes Indonesia karena kasus itu.ilustrasi pertempuran di laut Jawa [istimewa]

Pemerintah Indonesia dan Angkatan Laut menolak disalahkan atas lenyapnya enam bangkai kapal Inggris dan Belanda yang ditenggelamkan Jepang di Laut Jawa selama Perang Dunia II.

"Pemerintah Belanda tidak bisa menyalahkan pemerintah Indonesia karena mereka tidak pernah meminta kami untuk melindungi kapal-kapal mereka," kata Bambang Budi Utomo, Kepala Pusat Arkeologi Nasional di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Karena tidak ada kesepakatan atau pengumuman ketika kapal-kapal itu hilang, jadi itu bukan tanggung jawab kami," tambahnya.

Angkatan Laut Republik Indonesia menyatakan, bangkai kapal-kapal PD II milik Belanda dan Inggris memang tidak seharusnya diganggu, namun hal bukan tanggung jawab Indonesia untuk melindunginya.

Angkatan Laut Indonesia tidak dapat memantau semua wilayah sepanjang waktu,” kata juru bicara Angkatan Laut Indonesia Gig Jonias Mozes Sipasulta kepada kantor berita AFP.

Kalau mereka bertanya mengapa kapal-kapal itu hilang, saya akan bertanya balik, mengapa mereka tidak menjaga kapal-kapalnya?,” kata Sipasulta.

Pemerintah Belanda sebelumnya menuntut jawaban dari Indonesia atas hilangnya bangkai kapal-kapal perang mereka, antara lain Hr Ms De Ruyter yang panjangnya 170 meter.

Niederlande Kriegsschiff De Ruyter Koninklijke Marine (picture-alliance/arkivi)Kapal perang andalan Belanda "De Ruyter" sepanjang 170 meter yang ditenggelamkan Jepang di Laut Jawa tahun 1942

Kapal-kapal itu tenggelam tahun 1942 dalam perang laut besar di Laut Jawa antara Jepang dan angkatan laut Sekutu, yang terdiri dari Belanda, Inggris, Amerika Serikat dan Australia. Sekitar 1200 tentara dan pegawai administrasi Belanda tewas saat itu.

Penyelam amatir masih melihat bangkai kapal-kapal itu 15 tahun lalu. Belanda tahun depan bermaksud membuat acara peringatan 72 tahun peristiwa itu dan mendirikan monumen nasional.

Namun ternyata, tim ekspedisi internasional yang dikirim ke lokasi tenggelamnya kapal-kapal itu tidak menemukan bangkai-bangkainya, hanya ada tanda-tanda bahwa kapal pernah tenggelam di lokasi itu.

Selain Belanda, Inggris juga mempertanyakan hilangnya bangkai kapal-kapal perang milik mereka dan menuntut investigasi untuk menyelidiki apa yang terjadi.

Bambang Budi Utomo mengatakan, Indonesia tidak punya sumber daya untuk melakukan pengawasan dan patroli secara permanen karena daerah kepualauan yang sangat luas.

Kalangan pengamat memperkirakan, bangkai kapal itu sudah dijarah dan dipreteli untuk dijual sebagai besi tua.

"Penjarahan benar-benar terjadi dalam skala besar, tidak hanya pada bangkai kapal Perang Dunia II ini, tetapi juga pada bangkai kapal-kapal kuno," kata Veronique DeGroot, arkeolog yang sekarang bermukim di Jakarta.

"Penjarahannya sudah berlangsung selama bertahun-tahun, sampai bangkai kapal besar bisa menghilang," katanya.

Bangkai kapal perang dan kuburan perang dilindungi oleh hukum internasional yang melarang pencemaran lokasi dan bangkai kapal perang. [hp (afp,dpa)]
 

  DW  

Pasukan Pengawal Kapolri

✈ Naked Bike Naked Bike [Ery]

Mungkin sering Anda melihat ketika sedang berada di jalan protokol Ibukota ada serangkaian iring-iringan pejabat tinggi yang dikawal motor gede (moge) digaris depan dan belakang rangkaian ketika melintas. Lain halnya dengan patroli pasukan bermotor pengawal yang menyertai iring-iringan Kapolri (Kepala Kepolisian Republik Indonesia), motor yang mereka gunakan bukan moge, melainkan naked bike. Dengan begitu, akselerasi pasukan ini lebih terbuka dibandingkan menggunakan moge karena lebih ringkas namun tetap trengginas.

Menurut penuturan personel yang Angkasa jumpai dan tak ingin disebutkan namanya, kendaraan bermotor yang dimiliki pasukan ini seluruhnya berjumlah sepuluh unit yang terdri dari tiga merek kendaraan bermotor terkemuka di dunia, yakni Harley Davidson, Victory dan Triumph.

Untuk Triumph, model yang dimiliki pasukan ini adalah MY15 Speed Triple R ABS. Model ini tidak dijual di Indonesia, namun pada kelas yang sama (roadsters), hanya Triumph Street Triple yang terdapat di Indonesia.

Soal harga, dari laman resminya, naked bike yang lahir pada tahun 2015 ini dibandrol dengan harga 14.699 dolar Amerika Serikat atau sekitar 193.924.000 Rupiah.

 SPESIFIKASI : 

☠ Horse Power 121.1 hp @ 9190 rpm
☠ Torque 75.0 lb.-ft. @ 6780 rpm
☠ Top Speed 150 mph
☠ Fuel Mileage 37 mpg
☠; Wheelbase 56.7 in.
☠ Gearbox 6 Speed
☠ Oil Capacity 1.0US Gallon
☠ Frame Aluminium beam twin-spar
☠ Brembo 4-piston Monobloc radial calipers ☠ Switchable ABS
☠ LCD Multi-Functional Instrument
☠ Digital Speedometer

 Standar Pasukan Patroli Bermotor Pengawal Kapolri 
http://www.sigsauer.com/upFiles/catalog/product/SIG516-Patrol-large.jpgPejabat tinggi baik di institusi Kepolisian maupun Tentara Nasional Indonesia (TNI) memiliki kesibukan dan mobilitas yang tinggi. Dengan tingginya mobilitas mereka dalam menjalankan tugas negara yang diemban, para pejabat tinggi didampingi pasukan patroli bermotor pengawal yang siap sedia memastikan perjalanan yang mereka lalui dalam keadaan aman. Selain itu, pasukan patroli pengawal pun dilengkapi dengan persenjataan untuk mendukung tugasnya.

Dalam rangkaian iring-iringan Kapolri, terdapat dua motor yang mengawal pada garis depan dan belakang yang terdiri dari dua personel pada setiap motor. Pasukan yang mengawal diambil dari anggota Gegana Brigade Mobil (Brimob) Polri. Pasukan ini dilengkapi dengan senjataan laras panjang SiG Sauer 516 CQB yang dipegang oleh personel yang dibonceng. Dengan senjata tersebut, pasukan ini memiliki kompetensi untuk melakukan pertempuran jarak dekat bila memang terjadi gangguan dari kelompok bersenjata.

Sebelum menjadi pasukan pengamanan Kapolri, terlebih dahulu mereka menjalani pendidikan selama satu bulan di Sentul. Pasukan ini dibentuk untuk memiliki kemampuan mengendara taktis, menggunakan senjata sambil berkendara, evakuasi, pertempuran jarak dekat (Close Quarter Battle/CQB) dan sebagainya.

Author: Fery Setiawan

  Angkasa  

Legenda Batalion Infanteri Mekanis

✈ Ada hikmah lain di balik pensiunnya Agus Yudhoyono. Pemberitaan seputar Agus turut mengangkat nama batalion infanteri mekanis, satuan tempur relatif baru di tanah air. Kenali lebih lanjut bersama Aris Santoso. Saat Mayor Inf. Agus Harimurti Yudhoyono (kini sudah berstatus purnawirawan) memutuskan mengundurkan diri dari dinas TNI pada akhir September lalu, sehubungan niatnya untuk maju sebagai Cagub (calon gubernur) DKI Jakarta Raya, publik merasa terkejut.

Bagaimana tidak, Agus dikenal sebagai perwira muda yang cemerlang, dengan masa depan menjanjikan. Latar belakang keluarganya juga mendukung, ayah dan kakeknya adalah jenderal yang sangat terkenal. Sepertinya bukan hanya TNI yang merasa kehilangan salah seorang kader terbaiknya, namun publik juga menyayangkan pilihan Agus untuk pensiun dini.

Pilihan Agus untuk pensiun dini adalah proses politik yang masih terus bergulir. Kita masih harus menunggu bagaimana performa Agus di "palagan” yang baru. Namun ada hikmah lain di balik pensiunnya Agus, bahwa pemberitaan seputar Agus turut mengangkat nama batalion infanteri mekanis (yonif mekanis), model satuan tempur yang relatif baru di tanah air. Mengingat posisi terakhir Agus sebelum mengundurkan diri, adalah Komandan Batalion Infanteri Mekanis 203/Arya Kamuning yang berkedudukan di Tangerang.

 Para Raiders dan Yonif Mekanis 

Perjalanan karier Agus juga unik, yang seolah merefleksian perjalanan satuan infanteri lintas udara di tanah air. Pasca perang kemerdekaan, TNI (d/h ABRI) mulai membentuk satuan infanteri berkemampuan khusus, dengan kualifikasi teknis dan persenjataan yang lebih mumpuni, di atas rata-rata satuan infanteri reguler.

Mulai dasawarsa 1950-an, mulai dibentuk satuan-satuan yang di kemudian hari menjadi legendaris, bahkan hingga hari ini. Satuan dimaksud antara lain, Kopassus (April 1952), Yonif 401/Banteng Raiders (Mei 1952), Yonif Linud 328/Kujang II, Yonif Linud 330/Kujang I, dan seterusnya.

Bila satuan dengan kualifikasi khusus tersebut, sudah teruji dalam berbagai medan tugas, hingga layak memperoleh sebutan sebagai satuan legendaris. Sedang yonif mekanis, sebagai model satuan relatif baru, masih dalam tahapan menuju legendaris. Saya kira ditunjuknya Agus sebagai Komandan Yonif Mekanis 203 (Agustus 2015), merupakan bagian dari skenario pimpinan TNI AD, agar satuan Yonif Mekanis dimaksud cepat menemukan bentuknya. Mengingat Agus sebelumnya lama bertugas di satuan yang juga legendaris, yaitu Batalion Linud 305/Tengkorak Kostrad (Karawang), dan sempat menjabat sebentar sebagai Wakil Komandan Yonif Mekanis 201/Jaya Yudha.

Sekedar tambahan informasi, seluruh satuan berkualifikasi linud (lintas udara), kini sebutannya diganti menjadi batalion para raiders. Seperti Yonif Linud 305 misalnya, kini menjadi Yonif Para Raiders 305/Tengkorak. Memang perkembangannya demikian cepat, bisa jadi publik belum sempat update informasinya, termasuk soal keberadaan yonif mekanis. Sebagaimana disebut sekilas di atas, bila tidak ada berita soal Mayor Agus, bisa jadi publik juga belum paham soal keberadaan yonif mekanis.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixpHKk24HYuGtymZVvrK14IkhQ4pckKF16bsYxelX5udk860eCKklYQYp5Mir3wUvWCi4LjaHgcq1YhovZwDmqbmDdL0IFSgJ9NSNLnJ1fg-EO3ALULlMsSyqsiyhzrcAAB4ylPPYFnSG_/s1600/1442852644352+Yonif+Mekanis+201+Jaya+Yudha..jpgKalau sedikit kita runut ke belakang, segala perubahan menyangkut konsep satuan, khususnya satuan tempur, tidak lepas dari peran pimpinan yang sedang menjabat. Soal pembentukan yonif mekanis misalnya, itu adalah program saat KSAD dipegang oleh Jenderal George Toisutta.

Setiap KSAD selalu membuat terobosan, selain untuk kemajuan institusi, juga agar namanya (sebisa mungkin) selalu dikenang. Seperti Ryamizard misalnya, yang sudah identik dengan pembentukan satuan raiders pada tiap kodam, karena hal ini adalah program unggulan saat Ryamizard menjadi KSAD (2002-2005). Termasuk dalam hal perubahan sebutan untuk satuan berkualifikasi lintas udara (linud), menjadi para raiders. Selain sebutan yang berganti, juga ada peningkatan status kualifikasinya.

Dalam sebuah wawancara dengan majalah militer Angkasa (edisi April 2007), Jenderal (Purn) Luhut B. Panjaitan (kini Menko. Maritim) dalam kapasitasnya sebagai sesepuh korps infanteri, menjelaskan, pembentukan yonif mekanis masih dalam tahapan persiapan, karena TNI AD (saat itu) masih fokus pada pengembangan light infantry. Light infantry dimaksud Luhut adalah satuan infanteri ringan sebagaimana kita kenal selama ini, dengan persenjataan utama adalah senapan serbu, dan pergerakan pasukannya masih dengan cara berjalan kaki. Sementara dalam yonif mekanis, pergerakan pasukan sudah menggunakan ranpur (kendaraan tempur), agar lebih cepat mencapai sasaran.

Pada pertengahan 2007 itu pula, muncul rintisan pembentukan yonif mekanis, ketika TNI sedang bersiap ke Libanon dalam misi perdamaian di bawah payung PBB (Kontingen Garuda). Saat itu instruktur dari Pusdikkav (Pusat Pendidikan Kavaleri) memberi pelatihan mengendarai ranpur pada sejumlah personel dari korps infanteri. Ranpur yang disiapkan umumnya masuk kategori kendaraan angkut personel atau biasa dikenal sebagai APC (armoured personnel carier), seperti VAB Renault (produksi Perancis) atau BTR 40 (Rusia), yang memang sesuai dengan kebutuhan pasukan infanteri.

Membantu misi perdamaian PBB di LibanonMembantu misi perdamaian PBB di Libanon

 Menanti Palagan 

Rupanya prosesnya berlangsung demikian cepat, sekitar tiga tahun kemudian. Pada Februari 2010 KSAD (saat itu) Jenderal George Toisutta sudah meresmikan berdirinya Yonif Mekanis 201/Jaya Yudha (markas Gandaria, Jakarta Timur) sebagai yonif mekanis pertama di Tanah Air. Yonif Mekanis 201 selanjutnya diperkuat dengan panser angkut personel Anoa, produksi Pindad.

Kini seluruh yonif (konvensional) di Kodam Jaya, telah ditingkatkan statusnya menjadi yonif mekanis, yaitu Yonif Mekanis 202/Taji Malela (Bekasi) dan Yonif Mekanis 203/Arya Kamuning (Tangerang). Satuan yang disebut terakhir inilah, yang sebelumnya dipimpin Mayor Inf. Purn. Agus Harimurti Yudhoyono.

Karena proses yang terlalu cepat, kalau tidak boleh disebut terburu-buru, maka dalam praktik di lapangan acapkali terjadi tumpang tindih atau irisan dalam penggunaan ranpur, antara yonif mekanis dan yonkav (reguler). Sekadar ilustrasi, dalam operasi pengamanan aksi massa 4 November (411) di Jakarta baru-baru ini misalnya, Yonif Mekanis 203 menurunkan panser Anoa, sementara Yonkav 7/Panser Khusus Kodam Jaya menurunkan panser VAB.

Dua panser tersebut sebenarnya masuk kategori yang sama, yaitu jenis angkut personel (APC). Sebenarnya Yonkav 7 memiliki ranpur jenis lain, yaitu panser V-150 (Perancis), yang bisa jadi faktor pembeda dengan ranpur organik yonif mekanis. Mengingat V-150 memiliki meriam (canon), sementara ranpur yonif mekanis umumnya hanya dilengkapi senjata mesin berat, sebagai cara mempertahankan diri, saat mendorong pasukan (infanteri reguler) ke titik sasaran. Ini merupakan salah satu fenomena, bagaimana yonif mekanis di Tanah Air sedang mencari bentuk, sehingga terkesan masih ambigu dalam penggunaan ranpur.

http://icdn.antaranews.com/new/2014/10/ori/20141017431.jpgTerlihat pula dalam pengalaman berikut, bagaimana ranpur yonif mekanis terkadang bisa lebih canggih dari ranpur organik yonkav reguler, yang jauh lebih lama berdiri. Sebagaimana terjadi pada Yonif Mekanis 413/Bremoro (Solo), yang sudah mengoperasikan ranpur Marder (produksi Jerman), jenis ranpur yang menggunakan roda rantai (tracked infantry vehicles).

Masih di sekitaran Jawa Tengah, Yonif Mekanis 411 (Salatiga) dan Yonif Mekanis 412 (Purworejo) segera memperoleh sekian unit M113 (produksi AS). Marder dan M113, dalam khazanah ranpur biasa disebut sebagai IFV (infantry fighting vehicle), jadi sedikit berbeda dengan APC. Ini memang terkesan ironi, mengingat ada sebagian yonkav yang masih mengoperasikan tank ringan AMX 13 (Perancis), yang sudah tergolong tua, kemudian panser Saladin dan Saracen, produksi Inggris tahun 1950-an.

Sebagaimana disebut sekilas di atas, apabila satuan infanteri regular seperti Yonif 400/Raiders (dahulu Yonif 401/Banteng Raiders) atau Yonif Para Raiders 328/Kujang II, sudah sampai tingkatan legendaris, maka satuan yonif mekanis sedang berproses atau mencari jalan menuju legenda. Menilik pengalaman satuan tempur pada umumnya, butuh waktu relatif lama untuk menjadi satuan legendaris.

Terkait yonif mekanis, setidaknya karena dua hal. Pertama, palagan untuk yonif mekanis lebih terbatas dibanding infanteri. Yonif mekanis lebih sebagai antisipasi masalah di kawasan urban (perkotaan), sementara bagi yonif reguler bisa diterjunkan di medan apapun. Kedua, ranpur yonif mekanis (khususnya panser Anoa), belum pernah teruji dalam medan tempur yang sesungguhnya (battle proven).

 Perang Kota dan Alokasi Anggaran 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJEGYSetmvcxR5JDvWCwPSahb89_mSC7nilikkg2Qy1KEAf8QBU-9TQg-4M1JsKfdY4l6TzdtIl4VuPyrjngIeI9PLXIMKQeXVF_XKS6ZzW4z41zbI0gGx3nAIlY5NOuSV3XaLGROC3B-a/s1600/pindad02pr1v4t33r.jpgPercepatan pembentukan yonif mekanis di Tanah Air boleh disebut pengalaman menarik. Proyek bisa berjalan mulus, karena ada titik temu antara pengembangan konsep perang kota (urban warfare) dan alokasi anggaran. Konsep perang kota sudah dikenal TNI AD sejak tahun 1980-an, salah satunya diwujudkan dengan pembentukan Detasemen 81 Kopassus (kini Satgultor 81), sebagai respons adanya ancaman di ruang urban, seperti pembajakan pesawat atau gedung bertingkat. Dalam konteks perang kota inilah kemudian muncul dua konsep turunan, sebagai panduan dalam operasi riil di lapangan, yakni MOUT (military operations on urban terrain) dan PJD (pertempuran jarak dekat, close quarters battle).

Mengacu pada praktik di negara Barat (khususnya AS, Jerman dan Australia), pembentukan yonif mekanis merupakan kelanjutan atau bagian dari konsep MOUT/PJD. Yonif mekanis dibentuk untuk memenuhi prinsip kecepatan dalam menuju titik sasaran, prinsip yang tidak bisa ditawar dalam operasi perkotaan.

Sementara pada waktu hampir bersamaan, pemerintah (baca Kemenhan) berkomitmen memperkuat produk dalam negeri dalam pengadaan alutsista (alat utama sistem persenjataan), sehingga Pindad memproduksi panser Anoa dalam skala besar. Dengan kebijakan seperti ini, artinya alokasi anggaran untuk pembentukan yonif mekanis memang sudah tersedia. Pada gilirannya alokasi anggaran harus diserap, itu sebabnya pembentukan yonif mekanis terkesan cepat. Sampai-sampai publik tidak mengetahui detail keberadaan yonif mekanis, padahal ada dana rakyat yang dipakai untuk membiayai operasional yonif mekanis, khususnya dalam pengadaan ranpur.

Penulis: Aris Santoso Penulis: Aris Santoso (ap/rzn)

Sejak lama dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD. Kini bekerja sebagai staf administrasi pada lembaga HAM (KontraS). Tulisan ini adalah pendapat pribadi.


*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

  DW  

[Foto] Garuda di Belantara Konfik Dunia

✈ Serba-serbi kontingen Garuda di Luar negeri

UN Friedenstruppen im Libanon

Terimakasih Pada Dunia. Kontingen Garuda awalnya adalah sebuah tanda terimakasih Soekarno terhadap dunia internasional yang telah mendukung kemerdekaan Indonesia. Sejak pertamakali bertugas tahun 1957 untuk menjaga perbatasan Mesir, TNI hingga kini telah bertugas di setidaknya 70 misi perdamaian PBB.
UN Friedenstruppen im Libanon

11 Kontingen di Libanon. Salah satu operasi terbesar TNI di luar negeri adalah mengawal perdamaian di Libanon pasca serangan Israel tahun 2006 silam (UNIFIL). Untuk misi pelik tersebut TNI menurunkan hingga 11 kontingen yang menggabungkan kekuatan udara, laut dan darat.
UN Friedenstruppen im Libanon

Srikandi TNI. Untuk misi di Libanon TNI tidak segan membawa prajurit perempuan. Tampak dalam gambar adalah Sri Sulistyowati yang ditugaskan sebagai perawat di klinik milik UNIFIL di kota Taibe. Seluruhnya TNI menugaskan 13 perempuan untuk mengawal masa damai di Libanon.
UN Friedenstruppen Schiff vor der libanesischen Küste

Taring Laut. Pasukan Garuda yang paling spektakuler adalah kontingen 28H. Dalam misi tersebut TNI AL mengirimkan 107 prajurit beserta kapal fregat jenis terbaru milik TNI, KRI Bung Tomo-357, untuk mengawasi perairan Libanon.
UN Friedenstruppen im Libanon

Pasukan Lintas Negara. Sebelum mengirimkan KRI Bung Tomo, TNI juga pernah menempatkan kapal korvet kelas Sigma buatan Belanda, KRI Sultan Iskandar Muda, di Libanon. Di sana TNI bergabung bersama angkatan laut negara lain dari Jerman, Brazil dan Turki untuk mencegah penyelundupan senjata oleh kelompok Hizbullah di Libanon Selatan.
UN Friedenstruppen im Libanon

Keberatan Israel. Israel sempat mengutarakan keberatan ketika PBB berniat menunjuk Indonesia sebagai komandan baru angkatan laut UNIFIL buat menggantikan Italia. Pemerintah negeri Yahudi itu berdalih, sikap Indoensia yang menolak mengakui kedaulatan Israel bisa mempersulit kerjasama antara pasukan kedua negara di lapangan.
UN Friedenstruppen im Sudan

Damai di Tanah Darah. Misi besar lain TNI adalah mengawal damai di kawasan Sudan yang remuk dilanda perang, Darfur (UNAMID). Hingga setengah juta orang kehilangan nyawa dalam perang antara pemerintah dan pasukan pemberontak. Militer Sudan berulangkali melanggar resolusi PBB dengan melancarkan serangan udara yang kebanyakan menewaskan warga sipil.
UN Friedenstruppen im Sudan

Pasukan Spesial. Di Sudan TNI/Polri bertugas mengawal bantuan kemanusiaan dan melindungi warga sipil dari pertempuran. Awal 2015 silam Indonesia mengirimkan sekitar 800 pasukan yang dilengkapi dengan 24 Panser ANOA, 30 truk angkut dan 34 kendaraan ringan. Kontingen tersebut terhitung spesial karena dididik khusus untuk mengemban misi damai di Darfur.
UN Friedenstruppen im Sudan

Bahaya Maut Mengintai. Prajurit TNI dan anggota Polri tidak cuma ditugaskan mengawal pengiriman bantuan kemanusiaan, tetapi juga ikut turun ke lapangan untuk membangun fasilitas kesehatan dan pendidikan. Bertugas di Darfur bukan tanpa bahaya. Sejak pertama kali diterjunkan, sudah sebanyak 192 prajurit UNAMID yang tewas saat bertugas.
UN Friedenstruppen im Sudan

Kenyang Menjaga Damai. Kontingen Garuda termasuk yang paling rajin ditugaskan dalam misi damai PBB. Selain Darfur, TNI pernah mengirimkan kontingen besar ke Mesir, Kongo dan Kamboja. Secara keseluruhan hampir 30.000 prajurit TNI pernah terlibat dalam misi menjaga perdamaian di seluruh dunia. [Penulis: rzn/ap dari berbagai sumber]
  DW  

Jumat, 18 November 2016

Panglima TNI Akui Pulau Natuna Sedang Terancam

Manuver MBT leopard 2RI di Natuna [Lembaga Keris]

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menyatakan sinyal konflik berkepanjangan antar-negara di kawasan Laut Tiongkok Selatan (LTS) belum juga mereda. Jenderal Gatot mengakui konflik tersebut mengancam keutuhan dan kedaulatan Republik Indonesia. Dia menjelaskan ancaman yang paling tampak yakni, rentan lepasnya Pulau Natuna dari NKRI.

Hal tersebut disebabkan karena angkatan bersenjata Tiongkok berencana kembali membangun pulau buatan dekat dengan wilayah Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Indonesia.

Jika pulau itu ada dan Tiongkok menuntut negara lain mengakui itu adalah pulaunya, maka wilayah laut mereka akan sampai ke Natuna,” ujar Jenderal Gatot Nurmantyo saat memberikan kuliah umum di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) Depok, Jawa Barat (16/11/2015).

Panglima TNI menjelaskan Tiongkok sebelumnya juga telah membangun bangunan permanen di Scarborough Shoal, yakni pulau karang yang berdekatan dengan wilayah Filipina, serta pembangunan infrastruktur di Fiery Cross Reef di Kepulauan Spratly. “Tiongkok juga telah menyatakan kedaulatan yang tidak terbantahkan atas pulau-pulau di LTS dan perairan yang berdekatan,” tegasnya.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memberikan kuliah umum di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) Depok, (16/11/2016).

Ancaman tersebut bukan lagi teori. Ancaman itu sudah ada. Seperti misalnya ditemukannya sejumlah kapal ikan asal Tiongkok yang dikawal oleh kapal penjaga pantai Tiongkok di perairan ZEE Indonesia dekat Pulau Natuna.

Seperti kapal ikan Gui Bei Yu 27088 yang ditangkap perairan Natuna pada Mei lalu. “Jangan khawatirkan kapal ikannya saja, tapi coba perhatikan kapal pengawalnya. Dengan adanya kapal pengawal, berarti Tiongkok telah mengklaim perairan itu sebagai wilayahnya,” ungkapnya.

Selain itu, adanya klaim Tiongkok terhadap sebagian wilayahnya di negara Asia Tenggara berdasarkan sejarah masa lalunya, juga ikut menjadi kerisauan tersendiri bagi Indonesia dan negara-negara lain seperti Vietnam dan Myanmar.

Tiongkok bisa saja mengirim satu juta warganya untuk mengklaim tanah di Vietnam karena Tiongkok dulu punya wilayah di sana,” ujarnya.

Jenderal Gatot Nurmantyo menambahkan ancaman tersebut tidak hanya diantisipasi dengan cara-cara militer, namun juga dengan mengajak masyarakat untuk menumbuhkan kembali semangat persatuan.

  JPNN  

[World] Nations Unite Against Abu Sayyaf Group

Philippine Army captures 'last stronghold' of Abu Sayyaf terrorists [CNN] ★

I
ndonesia, Malaysia and the Philippines have agreed to initiate joint army training to advance efforts to secure the Sulu Sea from rampant piracy.

Indonesian Defense Minister Ryamizard Ryacudu explained that each of the countries would first begin its own army personnel training in January 2017 before conducting the joint training later in the year.

The military training will take place in Indonesia’s Tarakan in North Kalimantan, Malaysia’s Tawao Island and the Philippines’ Bongao Island.

Ryamizard said Army soldiers set to participate in the joint military training would form a special force tasked with facing the notorious Abu Sayyaf militant group that masterminded a series of recent kidnappings in Sulu waters, located in the southwestern Philippines.

It’s part of a concrete action we, ASEAN countries, are taking to secure the region,” he said in Jakarta on Thursday.

Ryamizard said the training locations would later become posts for a joint taskforce assigned to help secure Sulu waters.

The need for joint army training was discussed during a meeting between Ryamizard and his Malaysian and Philippines counterparts, Datuk Seri Hishammuddin Hussein and Delfin Lorenzana, held on the sidelines of the ASEAN Defense Ministers’ Meeting (ADMM) retreat earlier this week in Laos.

Both Malaysia and the Philippines welcomed the initiative, which will add to a joint sea patrol in Sulu waters that the three countries previously agreed upon. (hwa)

  The Jakarta Post  

Kamis, 17 November 2016

Indonesia Harus Lakukan Revolusi Mental

Bangun Kedaulatan MaritimIlustrasi Diponegoroclass, KRI DPN 365 [sindonews]

Indonesia harus membangun kedaulatan maritim sebab 75 persen wilayah Indonesia adalah lautan. Kedaulatan maritim ini digunakan untuk menjaga potensi sumber daya alam sebagai sumber utama pembangunan di masa mendatang.

Demikian menurut Laksamana Muda TNI Surya Wiranto, yang merupakan Staf Ahli Menko Polhukam Bidang Kedaulatan Wilayah & Kemaritiman, dalam kegiatan Kuliah Tamu bertemakan “Kedaulatan Maritim Indonesia” di ruang Seminar Fakultas Teknologi Kelautan Universitas Darma Persada (Unsada), Senin (14/11/2016) lalu.

Menurut Surya, ada empat hal yang menjadi fokus utama pembangunan di bidang maritim. Antara lain yaitu pembangunan kedaulatan maritim, penguatan hukum dan perjanjian maritim, pembangunan perbatasan maritim, dan peningkatan ketahanan dan keamanan wilayah maritim.

Untuk melaksanakan pembangunan tersebut, harus dilaksanakan revolusi mental kemaritiman. Pertama, harus diubah land based oriented menjadi maritime based oriented.

Mindset kita yang terbiasa berfokus kepada sumber daya di darat harus mulai diarahkan kepada sumber daya di laut karena daerah kita 75 persen adalah lautan. Jadi harus kita mulai dari sekarang perubahannya,” ujar Surya, melalui siaran pers ke Kompas.com.

Kedua, Indonesia harus memanfaatkan laut secara politik, ekonomi maupun keamanan. Dia menilai, Indonesia sebagai negara kepulauan yang kaya akan sumber daya alam memiliki potensi besar untuk menjadi negara yang mandiri, maju, dan kuat dalam bidang kemaritimannya.

Sementara jika ditinjau dari aspek geo-politik, geo-ekonomi, dan geo-strategis pun Indonesia seharusnya mampu menjadi negara maritim. Sehingga dalam konteks tata ruang juga harus berwawasan maritim.

Ketiga, yakni meningkatkan minat dan kesadaran akan potensi kemaritiman Indonesia serta meningkatkan semangat untuk membangun kemaritiman Indonesia, yang sesuai dengan salah satu visi pemerintah kabinet kerja 2014-2019.

Elemen pokoknya yakni maritime people, society dan government. Lalu maritime geography, resources, maritime economy, sea power dan doktrin.

 Peran TNI AL

Untuk itu, TNI juga berkepentingan menjaga kedaulatan maritim Indonesia. Sebab hakikat dari kedaulatan maritim adalah laut yang bebas dari segala ancaman.

Antara lain ancaman kekerasan, ancaman navigasi, ancaman terhadap sumber daya laut dan ancaman pelanggaran hukum.

"Keamanan laut saat ini dijaga oleh multi agen. Yakni TNI AL, Polri, Kemenhub, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Ditjen Bea Cukai, serta Ditjen imigrasi," lanjut dia.

Khusus TNI AL, saat ini memiliki sejumlah kekuatan alutsista untuk menjaga laut Indonesia. Antara lain 148 KRI, 349 KAL dan Patkamla, 62 pesawat udara, serta 422 kendaraan temput marinir.

Upaya lain, TNI AL bekerja sama Bank Indonesia (BI) mengedarkan uang kas rupiah ke 5 pulau di Provinsi Kepulauan Riau. Caranya, dengan melepas pelayaran kapal TNI AL KRI Beladau di Dermaga Utara Pelabuhan Batu Ampar, Batam, Sabtu (13/8/2016).

Sebagaimana diketahui, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas wilayah lautan mencapai 3.257.483 km persegi dan luas daratan sebesar 1.922.570 km persegi.

Ini berarti, dua pertiga wilayah Indonesia adalah lautan. Jika zona ekonomi eksklusif (ZEE) ikut diperhitungkan, maka luas lautan menjadi sekitar 7,9 juta km persegi atau 81 persen dari seluruh wilayah Indonesia.

Kedaulatan Indonesia sudah seharusnya dijaga hingga pulau-pulau terluar dan terpencil. Namun kenyataannya, transaksi ekonomi masih dilakukan dengan rupiah yang lusuh, rusak, dan tidak layak edar.

Bahkan, masih ada masyarakat di sebagian kecil daerah perbatasan yang masih melakukan transaksi ekonomi dengan mata uang asing.
 

  Kompas  

Mi-17V5 TNI AD di Mali Dipanggil Kembali ke Pertiwi

 Tempo Operasi Meningkat 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjDOfqQE7avZwbRjqs9P5vNMJB4n9OMCXY23g3P6-wTacHww51qsNNV1uIJ4a9pMpRDVCZ1UDYXalegkR9ehloYa_AbazNA07V0eH0XkuiV1NJtxCkwKPeY2joTNuU2cypo2BjQMRY02Bdl/s1600/CxX-Helikopter+Mi-17.+%255BDispen+Kostrad%255D.jpgHelikopter Mi-17 di pamerkan dalam kunjungan Jokowi. [Dispen Kostrad]

M
asih soal kunjungan Presiden Jokowi ke Markas Divisi 1 Kostrad di Cilodong pada 16 November 2016. Di lapangan terbuka ditampilkan sejumlah alutsista kelas berat seperti sistem artileri CAESAR, Marder 1A3, Leopard 2A4RI, peluncur roket ASTROS, dan paling luar adalah helikopter angkut Mi-17V5 Hip-H.

Dua helikopter Mi-17V5 ini tampil menarik perhatian dengan kelir putih khas warna penugasan PBB. Ada apa gerangan? Apakah TNI akan mengirimkan heli angkut tangguh andalan Penerbad ini sebagai tambahan untuk memenuhi permintaan PBB? Rupanya setelah ditelusuri, dua helikopter ini justru baru kembali dari Mali, setelah mengemban tugas selama setahun penuh.

Dua Mi-17V5 ini adalah bagian dari tiga helikopter yang dikirimkan ke Mali pada bulan September 2015 bersama 140 personel TNI AD dan TNI AU yang tergabung dalam dalam INDO MUHU (Indonesian Medium Utility Helicopter Unit) yang dikirim ke negeri Afrika tersebut dalam rangka mendukung operasi MINUSMA (Multidimensional Integrated Stabilisation Mission in Mali) PBB untuk menstabilkan negeri yang diamuk perang saudara tersebut.

Di Mali, ketiga Mi-17V5 tersebut benar-benar menjadi tulang punggung bagi kontingen pasukan penjaga perdamaian dan staf PBB untuk berkunjung ke seluruh negeri dan juga untuk mengirimkan berbagai logistik ke pos-pos pasukan penjaga perdamaian PBB. Selain Mi-17V5 milik Penerbad tersebut, MINUSMA juga dibantu Belanda untuk pemenuhan heli angkut dengan empat unit CH-47D dan tiga AH-64D yang tergabung dalam HELIDET (Heli Detachment).

Sayang seribu sayang, misi INDO MUHU di Mali tidak diperpanjang. Kebutuhan operasi di tanah air membuat pengabdian perdana Penerbad di negeri jauh tersebut tidak berlanjut. TNI AD memang membutuhkan Mi-17V5 yang ada untuk mendukung berbagai operasi, termasuk Latancab yang saat ini sedang dilaksanakan di Natuna.

Jadilah pada 21 Oktober 2016 ketiga Mi-17V5 yang tadinya malang-melintang di Mali itu dibongkar dan dimasukkan ke dalam perut pesawat angkut strategis An-124-100 milik Volga Dnepr yang membawanya kembali ke Indonesia. Setelah selesai dirakit kembali, dua Mi-17V5 inilah yang kemudian ditampilkan dalam kunjungan Presiden Jokowi.

Dari TNI belum terdengar rencana untuk mengirimkan misi dan helikopter pengganti ke Mali, walaupun PBB sudah mengajukan permohonan. Dengan kembalinya Mi-17V5 Penerbad ke tanah air, MINUSMA mengalami kekurangan armada helikopter yang kronis. CH-47D milik Belanda yang masih ada pun rencananya akan ditarik pada awal 2017.

Untungnya pada 1 November, Pemerintah Jerman menyatakan komitmennya mengisi celah yang ditinggalkan Indonesia dan Belanda untuk kebutuhan helikopter MINUSMA. Adalah tiga unit helikopter NH-90 dan tiga EC665 Tiger Jerman yang akan menggantikan peran Mi-17V5, CH-47D, dan AH-64D di Mali.

Author: Aryo Nugroho

  ★ Angkasa  

Rabu, 16 November 2016

Menhan Laos dan RI Bahas Kerjasama Pendidikan Militer

Menteri Pertahanan Republik Indonesia Ryamizard Ryacudu bertemu dengan Menteri Pertahanan Republik Rakyat Demokratik Laos Chansamone Chanyalath bertukar cendera mata di kantor Kementerian Pertahanan Laos, Selasa (15/11/2017), usai membahas kerja sama bilateral.

Menteri Pertahanan Republik Indonesia Ryamizard Ryacudu bertemu dengan Menteri Pertahanan Republik Rakyat Demokratik Laos Chansamone Chanyalath, di kantor Kementerian Pertahanan Laos, Selasa (15/11).

Pertemuan itu sebagai sarana tukar menukar pandangan tentang kemungkinan kerja sama pertahanan kedua negara.

Ryamizard mengatakan, Indonesia menawarkan kerja sama pertahanan kepada Laos dalam rangka membangun saling percaya dan perdamaian di kawasan.

Dua bidang yang ditawarkan Indonesia terkait dengan industri pertahanan dan pendidikan militer, terutama undangan pendidikan untuk para perwira Laos ikut Sekolah Staf dan Komando TNI maupun angkatan.

Indonesia dan Laos bisa menggali kembali kemungkinan-kemungkinan kerja sama pertahanan,” kata Ryamizard.

Hal ini disambut oleh Chansamone Chanyalath yang mengatakan, pihaknya sangat senang dengan tawaran kerja sama baik industri pertahanan maupun pendidikan militer.

Di masa lalu, sudah banyak perwira dari Tentara Rakyat Laos yang belajar di Indonesia. Pelajaran di kelas diadakan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Pertukaran perwira itu akan membuka ruang untuk kedua negara mengembangkan ilmu militernya.

Chansamone juga menyambut itikad Indonesia untuk menyelesaikan permasalah di kawasan dengan damai.

Menurutnya, kalau pun ada hal-hal tak terduga yang terjadi di kawasan yang melibatkan negara-negara ASEAN maupun pihak luar, bisa diselesaikan secara damai baik secara bilateral dan multilateran.

Kita selesaikan dengan pembicaraan baik di tingkat kelompok kerja maupun tingkat yang lebih tinggi,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Rymizard menyinggung juga tentang keamanan maritim di Laut China Selatan. Menurutnya, massifnya jalur logistik dan perdagangan di Laut China Selatan membuat semua negara-negara ASEAN, bahkan dunia memiliki kepentingan.

Indonesia cinta damai, kita inginkan konflik bisa dihindari,” tambahnya.

   Kompas