Tampilkan postingan dengan label Helikopter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Helikopter. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 November 2016

[RIP] Helikopter Militer Brasil Jatuh

✈ Empat Orang Tewas Sebuah helikopter militer Brasil berpatroli di Rio de Janeiro. [AFP]

Sebuah helikopter militer yang mendukung operasi polisi di Rio de Janeiro jatuh, Sabtu 19 November malam, dan menewaskan empat prajurit yang ada di dalamnya.

"Pesawat jatuh dekat permukiman kumuh di kawasan selatan kota," kata juru bicara polisi militer Ivette Silva kepada Associated Press seperti dilansir Daily Mail, Minggu (20/11/2016).

Dia mengaku belum mengetahui penyebab pasti kecelakaan. Penyelidikan masih berlangsung.

Helikopter dilaporkan sedang membantu operasi anti-narkoba di daerah tersebut. Juru bicara polisi militer lainnya, Mayor Ivan Blaz, mengatakan kepada portal berita G1 bahwa indikasi awal pesawat dipaksa turun. Blaz tidak menyebutkan detail lanjutan.

Belum ada indikasi helikopter melukai seseorang di sekitar lokasi kejadian.

Sabtu malam, polisi mengelilingi helikopter berwarna biru dan putih yang telah hancur berkeping-keping. Awak media di tempat kejadian tidak diizinkan mendekati puing.

Thiago Duarte, penduduk dari permukiman kumuh Gardenia Azul, mengaku mendengar suara operasi polisi yang diwarnai baku tembak selama berjam-jam. Ia juga melihat helikopter berwarna biru dan putih berputar-putar di sekitar lokasi operasi.

"Kami menyaksikan itu semua, dan tiba-tiba teman saya mengatakan, 'Lihat! Helikopter jatuh,'" kata Duarte. Ia meyakini helikopter itu terkena tembakan.

Tembak-menembak antar geng dan antara kelompok kriminal melawan polisi sering meletus di Rio de Janeiro, yang menjadi tuan rumah Olimpiade 2016 pada Agustus. Sejumlah geng, yang menguasai banyak wilayah dan mendistribusikan narkoba, beberapa kali pernah menembak jatuh helikopter dan pesawat tanpa awak (drone).

Walaupun jarang menembak jatuh pesawat polisi atau drone, pada 2009 kawanan bandit berhasil menjatuhkan sebuah helikopter militer yang menewaskan dua prajurit. (WIL)

  Metrotv  

Kamis, 17 November 2016

Mi-17V5 TNI AD di Mali Dipanggil Kembali ke Pertiwi

 Tempo Operasi Meningkat 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjDOfqQE7avZwbRjqs9P5vNMJB4n9OMCXY23g3P6-wTacHww51qsNNV1uIJ4a9pMpRDVCZ1UDYXalegkR9ehloYa_AbazNA07V0eH0XkuiV1NJtxCkwKPeY2joTNuU2cypo2BjQMRY02Bdl/s1600/CxX-Helikopter+Mi-17.+%255BDispen+Kostrad%255D.jpgHelikopter Mi-17 di pamerkan dalam kunjungan Jokowi. [Dispen Kostrad]

M
asih soal kunjungan Presiden Jokowi ke Markas Divisi 1 Kostrad di Cilodong pada 16 November 2016. Di lapangan terbuka ditampilkan sejumlah alutsista kelas berat seperti sistem artileri CAESAR, Marder 1A3, Leopard 2A4RI, peluncur roket ASTROS, dan paling luar adalah helikopter angkut Mi-17V5 Hip-H.

Dua helikopter Mi-17V5 ini tampil menarik perhatian dengan kelir putih khas warna penugasan PBB. Ada apa gerangan? Apakah TNI akan mengirimkan heli angkut tangguh andalan Penerbad ini sebagai tambahan untuk memenuhi permintaan PBB? Rupanya setelah ditelusuri, dua helikopter ini justru baru kembali dari Mali, setelah mengemban tugas selama setahun penuh.

Dua Mi-17V5 ini adalah bagian dari tiga helikopter yang dikirimkan ke Mali pada bulan September 2015 bersama 140 personel TNI AD dan TNI AU yang tergabung dalam dalam INDO MUHU (Indonesian Medium Utility Helicopter Unit) yang dikirim ke negeri Afrika tersebut dalam rangka mendukung operasi MINUSMA (Multidimensional Integrated Stabilisation Mission in Mali) PBB untuk menstabilkan negeri yang diamuk perang saudara tersebut.

Di Mali, ketiga Mi-17V5 tersebut benar-benar menjadi tulang punggung bagi kontingen pasukan penjaga perdamaian dan staf PBB untuk berkunjung ke seluruh negeri dan juga untuk mengirimkan berbagai logistik ke pos-pos pasukan penjaga perdamaian PBB. Selain Mi-17V5 milik Penerbad tersebut, MINUSMA juga dibantu Belanda untuk pemenuhan heli angkut dengan empat unit CH-47D dan tiga AH-64D yang tergabung dalam HELIDET (Heli Detachment).

Sayang seribu sayang, misi INDO MUHU di Mali tidak diperpanjang. Kebutuhan operasi di tanah air membuat pengabdian perdana Penerbad di negeri jauh tersebut tidak berlanjut. TNI AD memang membutuhkan Mi-17V5 yang ada untuk mendukung berbagai operasi, termasuk Latancab yang saat ini sedang dilaksanakan di Natuna.

Jadilah pada 21 Oktober 2016 ketiga Mi-17V5 yang tadinya malang-melintang di Mali itu dibongkar dan dimasukkan ke dalam perut pesawat angkut strategis An-124-100 milik Volga Dnepr yang membawanya kembali ke Indonesia. Setelah selesai dirakit kembali, dua Mi-17V5 inilah yang kemudian ditampilkan dalam kunjungan Presiden Jokowi.

Dari TNI belum terdengar rencana untuk mengirimkan misi dan helikopter pengganti ke Mali, walaupun PBB sudah mengajukan permohonan. Dengan kembalinya Mi-17V5 Penerbad ke tanah air, MINUSMA mengalami kekurangan armada helikopter yang kronis. CH-47D milik Belanda yang masih ada pun rencananya akan ditarik pada awal 2017.

Untungnya pada 1 November, Pemerintah Jerman menyatakan komitmennya mengisi celah yang ditinggalkan Indonesia dan Belanda untuk kebutuhan helikopter MINUSMA. Adalah tiga unit helikopter NH-90 dan tiga EC665 Tiger Jerman yang akan menggantikan peran Mi-17V5, CH-47D, dan AH-64D di Mali.

Author: Aryo Nugroho

  ★ Angkasa  

Rabu, 16 November 2016

PT DI Kembangkan Helikopter Anti-Kapal Selam Pesanan TNI-AL

➶ Diserahkan Mulai Tahun Depan➶ Ilustrasi helikopter Panther [google]

Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso mengatakan tengah menyiapkan pengembangan helikopter pesanan TNI Angkatan Laut dengan kemampuan anti-kapal selam. “Tahun depan kami mulai membuat pesanan TNI Angkatan Laut untuk helikopter anti-kapal selam,” katanya di Bandung, Selasa, 15 November 2016.

Budi mengatakan helikopter anti-kapal selam itu dibangun bersama Airbus Helicopters Perancis. Fisik helikopter Panther itu mirip dengan pesawat operasional yang dipergunakan Basarnas, yakni AS365 N3+ Dauphin. “Kalau Dauphin itu versi sipil, helikopter Panther itu versi militernya,” ucapnya.

PT Dirgantara Indonesia mendapat pesanan dari TNI Angkatan Laut untuk membangun 11 unit helikopter anti-kapal selam. “Angkatan Laut memesan 11 unit, sudah 2 tahun lalu. Tinggal delivery mulai tahun depan,” kata Budi.

Budi mengatakan pengerjaan helikopter Dauphin menjadi modal bagi PT Dirgantara Indonesia untuk mengembangkan helikopter anti-kapal selam Panther. Helikopter pesanan Basarnas itu, misalnya, diserahkan hari ini. “Dengan mengerjakan pesanan Basarnas, ini menjadi pengetahuan dasar kami untuk mengembangkan pesawat ini,” tuturnya.

Menurut Budi, tipe militer Panther itu menjadi pilihan TNI Angkatan Laut karena kemampuannya mendarat di kapal yang berukuran relatif kecil, yakni kapal laut dengan tipe sigma class ship. “Trennya bagus, karena makin lama kapal Angkatan Laut di mana pun itu makin kecil, enggak pakai kapal-kapal besar. Meriam udah enggak ada yang gede-gede lagi di kapal itu, juga makin kecil, sehingga semua peralatan yang dibutuhkan semakin kecil,” ujarnya.

Budi mengaku, kendati belum rampung, rencana PT Dirgantara mengembangkan helikopter anti-kapal selam sudah menarik minat sejumlah negara. “Beberepa negara Timur Tengah yang punya kapal kecil juga tertarik menggunakan hal yang sama, tapi kami selesaikan dulu pesanan Angkatan Laut. Kalau selesai, baru kita ke negara lain,” ucapnya.

Menurut Budi, PT Dirgantara berencana memperbanyak konten lokal untuk helikopter Panther anti-kapal selam pesanan TNI Angkatan Laut itu. Sejumlah sistem akan ditanam di helikopter anti-kapal selam pesanan TNI Angkatan Laut itu. Di antaranya, peralatan sonar yang bisa diturunkan dalam laut hingga persenjataan torpedo anti-kapal selam. “Panther untuk Angkatan Laut ini kita bongkar habis karena harus diisi peralatan sonar, torpedo, dan lain-lain.

Direktur Niaga dan Restrukturisasi PT Dirgantara Indonesia Budiman Saleh mengatakan PT Dirgantara menggandeng sejumlah vendor untuk memasok peralatan mendukung sistem helikopter hingga persenjataan. “Contohnya torpedo, roket, kemudian sensor-sensor macam-macam, ada juga FLIR, serta sonar yang dicelupkan ke laut. Yang merakit dan mendesain itu PT Dirgantara Indonesia, bukan domainnya Airbuss,” katanya.

Menurut Budiman, lewat produk itu, PT Dirgantara memegang property right atau license mission helikopter itu. “Nah, yang memegang paten, property right, intellectual property right helikopter anti-kapal selam itu kami. Kalau Airbuss mau jualan itu monggo, tapi dia jualan platform saja.

Budiman mengatakan harga pesawat yang telah dipasangi berbagai sistem mission itu bisa lebih mahal ketimbang penjualan platform dasar pesawatnya. Dia mencontohkan penjualan pesawat CN235 yang kosong berkisar US$ 26–28 juta. Tapi, dengan tambahan berbagai sistem mission, seperti untuk kebutuhan patroli maritim, harganya bisa melonjak menjadi US$ 45–60 juta.

   Tempo  

Selasa, 15 November 2016

[Dunia] Kisah Heli Apache Disandingkan Dengan Mi-28

✈ Di medan pengujian Swedia AH-64A Apache [suwalls]

TNI AD berencana mengoperasikan helikopter seranig AH-64 Apache Longbow tahun depan. Banyak pihak beranggapan kalau heli Apache adalah helikopter serang kelas berat paling canggih dan tak terkalahkan di dunia. Benarkah demikian?

Pembangunan citra positif Apache dilakukan komprehensif, mulai dari publikasi kisah suksesnya di Perang Teluk, hingga dijadikan bintang di beberapa film garapan Hollywood, seperti Fire Birds dan G.I. Joe: The Rise of Cobra. Sebaliknya, produk Rusia kerap dihina-dina, bahkan dikesankan Rusia menjual produknya ke negara lain dengan kualitas nomor dua.

Satu kisah menarik saat heli Apache dibandingkan dengan heli Rusia Mi-28 terjadi justru bukan di medan tempur, tetapi di medan pengujian Swedia. Saat itu Swedia ingin mencari pengganti helikopter Hkp 9A alias BO-105CB yang merupakan helikopter antitank utama dan telah digunakan sejak 1980-an. Kontes yang diluncurkan pada 1995 ini diikuti oleh Mi-28 Havoc, Ka-50 Werewolf, AH-64A Apache, Bell AH-1W Super Cobra, A129 Mangusta, Euroopter Tiger, dan Denel CSH-2 Rooivalk.

Syarat utamanya adalah heli terpilih harus bisa beroperasi di iklim Skandinavia yang sangat dingin, dan pengujiannya berlangsung sangat komprehensif. AD Swedia minta agar seluruh heli yang memenuhi syarat harus diterbangkan pilot Swedia. Pengujian mencakup uji penembakan dengan amunisi tajam. Selain mudah dirawat, heli yang terpilih juga harus minim biaya operasional.

Akhirnya setelah seleksi awal, terpilihlah AH-64A dan Mi-28. AH-64A boleh dikata punya segalanya; baru menang perang dengan menggasak sekian puluh tank Irak, dan sistemnya sudah matang. Mi-28 masih tertatih-tatih dalam fase pengembangan akhir. Betapapun, tim Rusia siap ketika mereka dipanggil ke Swedia untuk evaluasi selama empat minggu pada April 1995.

Pengujian dilakukan di Distrik Militer Utara yang beriklim kutub untuk mengetes kemampuan mesin dan sistem senjata, baik atas sasaran darat maupun udara. AS mengirimkan dua AH-64A yang berpangkalan di Hanau, Jerman untuk uji coba. Sementara awak dari Swedia dilatih di Mesa, Arizona.

Setelah segalanya siap, AH-64A diterbangkan pilot Swedia dan AS ke Swedia dan mendarat di Linkoping pada Agustus 1995. Selama empat minggu diuji, kedua AH-64A membukukan 99 jam terbang. Performanya kurang memuaskan. Satu atau dua heli mengalami kerusakan. Beragam problem timbul seperti sistem software bermasalah, tabung roket tak bisa digunakan, sistem kamera di hidung harus diganti, laser designator rusak, satu sistem kanon M230 komponennya butuh diganti, dan rotor harus diperbaiki.

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/b8/b3/7b/b8b37bfe225a4cb2e2c89058aba769c9.jpgMi 28 [wallpaperscraft.com]

Lima dari 20 sorti misi yang direncanakan gagal dilaksanakan. Sistem navigasinya ditemukan bermasalah dimana koordinat lintang utara yang lebih besar dari 65 derajat tidak dapat dimasukkan. Kelihatannya programmer sistem terlalu malas mengecek dan berharap AH-64A tidak akan digunakan di Skandinavia, yang ternyata terbukti salah! Karena sistem navigasi bermasalah, misi terbang malam akhirnya tak bisa dilakukan.

Sementara itu, satu Mi-28 Bort 042 dikirim ke Swedia menggunakan pesawat angkut Il-76 dikoordinasikan oleh Rosvoorouzhenie yang merupakan pendahulu Rosoboronexport. Pilot-pilot Swedia dikirim ke Moskow untuk berlatih dengan Mi-24 dan Mi-28. Namun karena keterbatasan sistem dimana Mi-28 saat itu masih menggunakan sistem kemudi tunggal, akhirnya awak Swedia hanya bisa duduk sebagai juru tembak. Koordinasi dengan pilot Rusia yang justru tak bisa berbahasa Inggris dilakukan dengan penerjemah yang terbang di helikopter chaser.

Dengan profil misi serupa dengan AH-64A, Mi-28 justru bersinar. Awak Swedia yang terbang di kursi depan menemukan bahwa sistem bidiknya bekerja baik, ergonomi di kokpit terbukti bagus walau sudut pandang terbatas, dan heli dapat dioperasikan oleh pilot yang baru memiliki sedikit pengalaman di Mi-28.

Akurasi penembakan sangat baik dan rudal Shturm dan Ataka yang ditembakkan dari jarak 4,7 kilometer mengenai sasarannya dengan CEP hanya satu meter. Roket S-80 yang diuji bahkan dikatakan akurat sampai jarak 4.000 meter dengan akurasi 88% dari 40 penembakan. Selama 30 jam pengujian, tidak sekalipun ada masalah yang membuat sorti Mi-28 dibatalkan. Sejumlah problem minor memang ada, namun bisa diselesaikan. AD Swedia menganggap bahwa Mi-28 adalah helikopter yang kuat dan andal.

Sayangnya, pengujian fase kedua yang rencananya akan diadakan pada 1999-2000 tidak pernah terjadi. Padahal rencananya fase kedua ini akan diikuti oleh AH-64D Longbow dan Mi-28N yang keduanya memiliki fitur dan kemampuan yang boleh dikata imbang. Krisis ekonomi mementahkan rencana pengadaan heli serang AD Swedia, dan sebagai gantinya justru Agusta A109 Power yang dibeli. Sayang sungguh sayang, kata penutup final yang akan menuntaskan siapa yang terbaik di antara dua rival yang mewakili dua kutub kekuatan besar dunia ini, tidak pernah terjadi.

Author: Remigius S. & Aryo Nugroho

  Angkasa  

Basarnas Akan Beli 13 Heli Dauphin Lagi dari PT DI

൬ 2 Helikopter Dauphin pesanan BNPP [def.pk]

Basarnas akan beli 13 unit helikopter AS365 Dauphin lewat PT Dirgantara Indonesia. Heli jenis ini dipilih untuk melengkapi tiga helikopter yang kini sudah dimiliki sehingga jumlahnya akan genap jadi satu skadron. Komitmen ini diambil sebagai upaya untuk ikut mendukung pengembangan industri strategis dalam negeri. Demikian ungkap Kepala Basarnas Marsdya TNI F.H. Bambang Soelistyo dalam jumpa pers usai Serah Terima Dua Helikopter AS365N3+ Dauphin, Selasa (15/11) di Hanggar DI, Bandung.

Bagaimana pun dari hitungan kebutuhan operasional selama ini, minimal kami memang butuh satu skadron, yang mana jumlahnya adalah 16 unit. Hingga saat ini kami baru memiliki tiga unit, yakni dua AS365 dan satu AW 139. Heli-heli ini akan ditempatkan di wilayah operasi Indonesia Barat, Tengah-Barat, Tengah-Timur, dan Timur. Heli AW139 sendiri dipilih karena performanya dinilai tepat untuk misi SAR di Papua, dan heli ini memang akan ditempatkan di sana,” ungkap Bambang Soelistyo.

Hadir dalam acara Serah Terima Helikopter Dauphin hari Selasa ini, Dirut DI Budi Santoso serta jajaran pimpinan Basarnas dan DI. Pada kesempatan sama, Bambang Soelistyo menyatakan pula kehadiran pesawat terbang dan kapal dengan teknologi modern adalah suatu keharusan bagi Basarnas demi mempermudah dan mempermudah misi dan tugas SAR di dalam negeri. Di lain pihak, untuk keperluan yang sama, Basarnas juga tengah membangun Flight Monitoring System untuk mempercepat pengambilan keputusan dalam operasi percarian dan pertolongan kecelakaan serta musibah.

Tampilan kokpit AS365 Dauphin Basarnas. [Angkasa]

Bagi DI, seperti diungkap Budi Santoso, menyiapkan Dauphin sendiri adalah hal baru. Selain mampu merakit pesawat jenis baru, enjinir pabrikan pesawat yang terletak di Bandung, Jawa Barat ini, ini selanjutnya beroleh kemampuan merancang sistem yang diperlukan untuk tugas-tugas SAR. Pengetahuan dan pengalaman serupa juga akan diperoleh lewat perancangan sistem internal untuk 11 heli AS565 Panther pesanan TNI AL yang sebentar lagi akan dikerjakan.

Panther dan Dauphin sendiri sosoknya serupa, namun Airbus Helicopters merancangnya untuk kebutuhan berbeda. Jika Panther untuk keperluan militer, Dauphin untuk sipil. “Selanjutnya property right dari sistem internal Dauphin dan Panther akan jadi milik PT DI. Dengan demikian jika Airbus Helicopters (Perancis) dapat pesanan lagi untuk helikopter dengan sistem yang sama, DI berhak atas royaltinya. Kami pikir, heli-heli dengan sistem serupa akan banyak dibutuhkan banyak negara, karena telah disesuaikan dengan trend kapal-kapal perang yang kian mengecil,” ujar Budi Santoso.

Bagi TNI AL, Panther selanjutnya memang akan kerap “disiagakan” di kapal-kapal perang terbarunya yang berasal dari kelas Sigma yang bersosok kecil dibandingkan kapal-kapal perang dari era terdahulu. Selain mampu merakit/membuat Dauphin dan Panther, DI juga telah fasih merakit/membuat helikopter jenis BO105, Bell 412, AS 332 Super Puma, EC 725 Cougar, serta AS350 Ecureuil dan AS 550/5 Fennec. Kedua tipe heli terakhir, sementara ini sedang digarap DI untuk kebutuhan Dinas Penerbangan TNI AD.
 

  ൬ Angkasa  

PT DI Serahkan Dua Helikopter Kepada Basarnas

൬ Helikopter medium class AS365N3 Dauphin buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) khusus Search and Rescue pesanan Badan SAR Nasional (Basarnas). [KOMPAS.com/Putra Prima Perdana]

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menyerahkan dua helikopter medium class AS365N3+Dauphin khusus Search and Rescue pesanan dari Badan SAR Nasional (Basarnas).

Serah terima dilakukan di Hanggar Rotary Wing KP II PTDI, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Selasa (15/11/2016).

Direktur Utama PTDI Budi Santoso mengatakan, helikopter AS365N3+Dauphin ini dilengkapi dengan fitur-fitur yang sangat memudahkan rescuer dan pilot dalam proses evakuasi SAR, baik untuk evakuasi korban bencana alam ataupun mencari korban kecelakaan pesawat terbang.

"Pesawat ini kami pakaikan hoist. Selain itu, kami juga pakai fitur autopilot empat exsist agar proses hoisting lebih stabil. Dengan dibantu autopilot empat exsist, untuk rescue lebih mudah. Jadi untuk rescue yang paling penting adalah stabilitas waktu covering," ujar Budi seusai serah terima, Selasa siang.

Budi menambahkan, secara konstruksi, helikopter AS365N3+Dauphin merupakan produk kerjasama PTDI dengan perusahaan Airbus Helicopters, Perancis.

Meski bukan produk asli PTDI, teknologi dan fitur-fitur SAR yang disematkan pada helikopter ini sah menjadi produk asli buatan PTDI.

"Belum banyak (unsur) lokalnya. Nanti kami targetkan (produk) berikutnya lebih banyak lokalnya. Properti right untuk sistemnya milik PTDI. Meskipun helikopter milik Airbus, kalau ada yang perlu tipe sama dengan peralatan sama Airbus harus bayar royalti ke PTDI untuk sistemnya, karena kita yang mengembangkan teknologi pesawat ini," ungkapnya.

Di tempat yang sama, Kepala Basarnas FH Bambang Sulistyo mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk kembali memesan kembali helikopter buatan PTDI sebagai bentuk dukungan terhadap industri lokal.

"Basarnas punya komitmen untuk mendorong kekuatan industri strategis agar bisa berkembang bersama-sama menjadi kebanggaan bangsa," tuturnya.

Bambang menambahkan, dua helikopter AS365N3+Dauphin yang sebelumnya telah diserahkan oleh PTDI kepada Basarnas pada tanggal 18 Februari 2014 silam sudah banyak membantu kinerja Basarnas.

"Harapan ke depan mudah-mudahan bisa menggunakan kembali hasil produk buatan PTDI. Kalau sesuai spesifikasi kita akan manfaatkan hasil produk dari PTDI,"
 

  ൬ Kompas  

Minggu, 13 November 2016

[Video ★★★★] Latihan Taktis TNI AD

Dengan format HD https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzbHizbddwJUeRsDEiJwr-abieFoTZww9QD4IgcncXf3HVuUkirGYia5dsUcnsp7w7EORcOrOV2tiIxHDIiIJo9vkO3WzklRZr7elOqLOz4h3QhIEfF1Moj5j2RQ7OsxCiX2bTpkbQj7nG/s1600/14677170_Credit+to+Yonkav+1+Kostrad..jpgKetika MBT Leopard 2RI mengaum di Natuna [Kostrad] ☆

Setelah video besutan TNI AD beberapa waktu yang lalu kurang memuaskan dari segi kualitas gambar. Sekarang Dispenad merilis video dengan format HD.

Serangan bertubi-tubi dari alutsista milik TNI AD dengan peluru tajam, seolah dikerahkan untuk melatih profesional prajurit menghadapi situasi perang. Tentu sangat menarik untuk ditonton. Bravo TNI ... [★★★★]

Seperti biasa video rating ★★★★ di ambil dari Youtube :


  Youtube  

Sabtu, 12 November 2016

[Foto] Ujicoba Alutsista TNI AD

Latihan Taktis Antar Kecabangan 2016 Beredar penampakan alutsista TNI AD dalam latihan akhir tahun di Natuna. Foto diposkan pr1v4t33r, mandala, anas nurhafidz, supermarine dari berbagai sumber.


MBT Leopard 2RI menjalani latihan keras di Natuna. Selain melintasi daerah lumpur, juga manuver di daerah offroad. Kehandalan MBT buatan jerman ini terbukti dengan puasnya pihak TNI AD dalam latihan taktis pada awal latihan akbar di akhir tahun ini. [Berbagai sumber]

Diberitakan beberapa unit MBT Leopard 2RI menghadapi kerusakan mesin, karena kerasnya medan dan latihan. Dan dalam waktu sekitar 5 jam, recovery team berhasil mengganti mesin dan MBT dapat kembali latihan. [pr1v4t33r, sapisudamenyala]
IMG-20161112-WA0015.jpg[​IMG]
marder.jpeg

Mainan yang dibeli dari Belgia pun ikut meramaikan latihan dengan manuver di laut melakukan pendaratan pasukan di pantai. Juga Marder IFV TNI AD produk Rheimentall turut serta dalam latihan [Dispenad, anas nurhafidz, pr1v4t33r]

Alutsista lain juga diujicoba di Natuna. Diantaranya MLRS Astros dari Brasil dan Caesar dari Perancis. [Berbagai sumber]
tni.jpg

Helikopter Nbell penerbad melakukan pendaratan pasukan dan Helikopter angkut Mi17 TNI AD menurunkan meriam artileri menambah penetrasi ke wilayah musuh. [Berbagai sumber]

Artileri pertahanan udara TNI AD di persiapkan untuk menjaga kemungkinan serangan udara musuh. [Ezio@formil]
  Garuda Militer  

[Ancab 2016] Skenario Latihan Perang dan Senjata Baru TNI AD

Di Natuna https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimCiY8ftQplnyFW7kiv6AIPJgWkKZhqBqeIdrkrMgrF2yCcxmv6ibMoMvwlGmI-M_DuAZDupyTJAxPfZrjifzT3mEDNFzFjzv5CO_616F9OIusdCym58h5F_KLLDXkXhDGRIB1PIKAK1xq/s1600/leopard-2-ri-di-natuna-tni-ad.jpgMBT Leopard 2RI mengaum di Natuna [TNI AD]

Komandan Komando Pendidikan dan Latihan (Kodiklat) TNI AD, Letjen (TNI) Agus Kriswanto mengatakan, pihaknya mencoba beberapa peralatan dan senjata baru dalam latihan antar percabangan (Lat Ancab) 2016 di Natuna.

"Skenario latihan ini adalah bagaimana kita menghadapi ancaman di wilayah barat RI apabila ada musuh. Deffence (bertahan) dalam strategis dan offence (menyerang) dalam rangka taktis," kata Agus, kepada batamnews.co.id, Jumat (11/11/2016).

TNI belum lama ini belanja beberapa Alutsista untuk melengkapi persenjataan. Medan tempur di Natuna menjadi lokasi ujicoba. "Ada Main Battle Tank Leopard, Tank Marder, kendaraan M113, untuk senjatanya seperti meriam Caesar 115 dan Gatling Gun, lengkap semua, banyak kaliber kita kerahkan," ujar jendral bintang tiga tersebut.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjqfo-lqBH7VUgAd0Ky0BQcs0CNu5zN_cUvGsePX8WHEN_JNEprs2HUn4GOXfLCoV4TMU1LzBsXgQGKzNsWrY92cyKn_aXVUOv3Csd6y7c7_a8030l5tRU50P63wuvOaRPG-AXzmw2OeR9/s1600/berita_326677_800x600_tank_leopar_memasuki_kawasan_yang_menjadi_lokasi_penembakan_sasaran_musuh.JPGMBT Leopard merupakan tank modern yang diproduksi dari jerman. Begitupun M113 merupakan kendaraan lapis baja beroda untuk mengangkut personel. Kendaraan ini biasa dipakai tentara Amerika dalam perang Vietnam.

Sementara meriam Caesar 115 buatan perancis untuk mencoba kekuatan Batalyon Artileri Medan (Armed) dan Gatling Gun untuk mempersenjatai helikopter

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9v2KNbM7O_LSPoUp3lV5tcy-LbgDrqpvi9kJHhnPTBqBhpCufx02OPjl-B7Kc28qD72aKqfpPmXxjSXxVMKgwZ44g0HNo-hDQL7vsZAJFg9kv_6DcpHEOZhm7Jqvz0_m-4fppUDrznSO7/s1600/berita_326677_800x600_aneka_jenis_pesawat_helli_milik_tni_ad%252Cdilibatkan_langsung_dalam_lattis_ancab_2016.JPGLatihan puncak Antar Percabangan TNI ini digelar Sabtu (12/11/2016) ini di Teluk Buton, Kecamatan Bunguran Utara Kabupaten Natuna. Sebuah pulau tak berpenghuni, yakni Pulau Pendek menjadi target sasaran. Lokasi perbukitan menjadi tempat plotting senjata tersebut.

Nampak di bukit Tanjung Datuk beberapa tank, mobil truk Meriam Caesar dan Meriam Howitzer siaga dalam menjalankan skenario latihan ini.

"Latihan gabungan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) juga akan dilakukan tanggal 19 (November 2016) nanti," ujar Agus.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6Nch-Bu-KJA42ld9lIKgrbaRgGkzqKXGDfhaO3XXTvWM4LgQRthmMXlOXK1n0J1e5ILQfFfaWFrMIPm41f6hUaJ9rJMqU7FHfFrkQRkOc1B9e9zJscmPpkjD0JDeNAbtq8HGqrLLkX8_W/s1600/Suasana+latihan+perang+di+Teluk+Buton%252C+Natuna%252C++aulia+rahman-batampos.gifIa menyebutkan, tank-tank Leopard dan senjata ini sebagian akan ditempatkan di Natuna. "Ya nggak semuanya. Nanti setelah latihan akan dibawa kembali. Ada juga yang akan ditempatkan beberapa di sini. Ini kan terkait pertimbangan secara taktis dan strategis," sebutnya.

Terkait masyarakat yang berada di dekat area latihan, Agus menolak untuk menyebut mengungsi. "Mereka bukan mengungsi, namun dikumpulkan untuk keamanan, di sana ada pembagian sembako dan pengobatan gratis. Nanti kita juga ajak nonton sama-sama," ujarnya.

  Batamnews  

Senin, 07 November 2016

Helikopter AW139 BNPP

Helikopter paling canggih di Indonesia Heli AW139 Basarnas saat menjalani uji coba penerbangan di Milan, Italia. [Cahyo Wibowo]

Kalau ada helikopter yang masuk katagori paling canggih di Indonesia, maka AgustaWestland AW139 milik Basarnas adalah salah satunya. Dikatakan paling canggih karena selain telah menggunakan avionik digital dan dilengkapi sistem kendali empat sumbu otomatis, heli ini juga dilengkapi peralatan pendukung seperti penjejak infra merah FLIR Star SAFIRE 380-HDc dan searchlight TrakkaBeam A-800.

Di Basarnas sendiri, dibandingkan dengan heli Dauphin AS365N3+, lompatan teknologi AW139 terbilang cukup jauh. AW139 sudah fully integrated 4-axis autopilot. Secara ekstrem dapat dikatakan, AW139 bisa terbang dan mendarat sendiri hanya dengan memasukkan data flight plan. Pilot pun dapat membiarkan heli terbang diam (hovering) secara otomatis. Pada saat kondisi darurat, pilot bisa menset kemampuan ini dan beranjak ke kabin untuk membantu pertolongan udara.

Heli AW139 basarnas di Apron Hanggar Indopelita, Pondok Cabe. Sumber gambar: Suharso RahmanHeli AW139 basarnas di Apron Hanggar Indopelita, Pondok Cabe. [Suharso Rahman]

Kepala Badan SAR Nasional (Kabasarnas) Marsdya TNI FHB Soelistyo pada saat heli AW139 dengan nomor registrasi HR-1301 ini diluncurkan penggunaanya 28 Februari 2016 bertepatan dengan HUT Basarnas di Buperta Cibubur mengatakan, AW139 menjadi kekuatan baru Basarnas yang akan hadir ke berbagai pelosok dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dalam peluncuran tersebut, Kabasarnas didampingi antara lain oleh Panglima TNI, Dubes Italia untuk Indonesia, perwakilan dari Kementerian Perhubungan, DPR RI, serta sejumlah gubernur di Indonesia.

Kokpit AW139 basarnas dengan konfigurasi full glass cockpit. Sumber gambar: Suharso rahmanKokpit AW139 basarnas dengan konfigurasi full glass cockpit. [Suharso rahman]

Soelistyo menegaskan, Basarnas terus berkomitmen melaksanakan operasi SAR yang efektif, efisien, cepat, andal, dan aman. Itu pula sebabnya mengapa Basarnas butuh helikopter yang pas dan sesuai kemampuan, yakni AW139. “Basarnas membutuhkan helikopter AW139 untuk operasi penyelamatan yang semakin meningkat, terutama untuk operasi SAR di medan atau di daerah yang sulit dijangkau,” kata Soelistyo.

 Kapasitas besar 

Ditengok dari sisi kapasitas, AW139 yang masuk heli katagori kelas medium memiliki kemampuan angkut yang besar. Heli mampu membawa 15 penumpang dan dua pilot. Dalam konfigurasi medis udara, heli mampu membawa empat tandu pasien (stretcher) dan empat kru medis. Sementara Dauphin hanya mampu membawa dua pilot dan 12 penumpang. Atau dua pilot, dua tandu, dan satu personel medis.

Kabin heli AW139 Basarnas mampu membawa empat tandu dan empat personel medis. Sumber gambar: Cahyo WibowoKabin heli AW139 Basarnas mampu membawa empat tandu dan empat personel medis. [Cahyo Wibowo]

Ruang kabin AW139 cukup lapang dan dirancang agar personel mudah melakukan pergerakan. Ini terlihat dari panel-panel yang sangat kompak dan tidak membuat sempit ruangan. Dari sisi kenyamanan, standar AW139 sudah dilengkapi pendingin udara (AC). Sementara heli lainnya masih mengandalkan kipas angin.

Pintu geser pada kabin AW139 juga terbilang lebar. Hal ini memberikan keleluasan bagi pergerakan loading maupun unloading. Uniknya, di bagian belakang AW139 juga terdapat ruang bagasi yang cukup besar dimana terdapat pula pintu di bagian belakang untuk memasukkan atau menurunkan bagasi.

Perangkat hoist untuk mendukung proses operasi SAR. Sumber gambar: Suharso RahmanPerangkat hoist untuk mendukung proses operasi SAR. [Suharso Rahman]

Beranjak ke mesin, AW139 menggunakan dua mesin Pratt & Whitney Canada PT6C turboshaft dengan sistem kontrol FADEC (full authority digital engine control) yang terbilang handal. Masing-masing mesin menghasilkan tenaga 1.531 HP.

AW139 mampu terbang hingga ketinggian 20.000 kaki. Bila satu mesin mati, heli masih tetap bisa beroperasi dan bahkan melakukan hovering pada ketinggian 12.000 kaki. Kemampuan ini jelas yang tertinggi dibandingkan helikopter lain di jajaran Basarnas.

Main rotor heli AW139 terdiri dari lima bilah baling-baling utama berbahan komposit dan hub berbahan titanium. Sementara pada bagian ekor, baling-baling hanya berjumlah empat dengan bahan material yang sama.

aw139 BasarnasTampak depan heli AW139 Basarnas di Hanggar Indopelipta, Pondok Cabe, Tangerang Selatan. [Cahyo Wibowo]

Dengan gabungan mesin dan konfigurasi lima baling-baling utama, AW139 mampu digeber hingga kecepatan 310 km/jam. Jarak jelajah terbang heli ini mencapai 1.250 km (pada kecepatan 306 km/jam) dan lama terbang mencapai enam jam.

Untuk roda pendarat, W139 menggunakan tiga roda yang dapat dilipat. Dua roda utama disimpan di bagian sponson yang juga berfungsi sebagai ruang untuk menyimpan perangkat emergensi.

 FLIR 380 

Sedikit mengenai kemampuan FLIR Star SAFIRE 380-HDc, di Indonesia FLIR ini merupakan yang tercanggih, bahkan dibandingkan dengan FLIR yang digunakan pada heli H225M Cougar maupun heli Bell 412EP TNI AD.

FLIR Star SAFIRE 380-HDc di hidung heli AW139 Basarnas. Sumber gambar: Roni SontaniFLIR Star SAFIRE 380-HDc di hidung heli AW139 Basarnas. [Roni Sontani]

Star SAFIRE 380-HDc mampu menyajikan gambar dan video yang jernih dan anti goyang pada jarak deteksi yang cukup jauh secara realtime. Perangkat ini terdiri dari tiga bagian yakni Turret FLIR Unit (TFU), Universal Hand Control Unit (UHCU), dan Laser Interlock Unit (LIU). Sistem FLIR 380-HDc dirancang secara khusus untuk penggunaan airborne atau dalam penerbangan, meskipun bisa digunakan pula pada kondisi yang lain.

SAFIRE 380-HDc dilengkapi sensor HD EO (High Definition Electro-Optic) terdiri dari sensor primer dan sekunder, kemudian sensor Short-Wave Infra-Red (SWIR), sensor High Definition Low Light (HD LL), dan Communications Interface Options. Sensor-sensor tersebut bekerja sesuai kondisi yang dihadapi. Misal SWIR, dapat digunakan untuk mendeteksi lebih detail huruf dan warna pada ekor pesawat atau tulisan di kapal pada kondisi cuaca yang buruk. Sensor ini juga dapat mendeteksi nomor kendaraan yang sedang melaju kencang di jalan raya.

Perangkat FLIR ini dilengkapi dengan searchlight TrakkaBeam A-800 untuk memudahkan pencarian objek SAR terutama pada malam hari atau kondisi cuaca yang gelap.

Lampu pencarian atau searchlight trakkabeam pada heli AW139 Basarnas. Sumber gambar: Suharso RahmanLampu pencarian atau searchlight trakkabeam pada heli AW139 Basarnas. [Suharso Rahman]

 770 unit 

Sejak diperkenalkan tahun 2003 dan mulai diproduksi sejak 2005, hingga saat ini AW139 tercatat telah dibuat sebanyak 770 unit. AW139 dioperasikan oleh satuan-satuan militer di 16 negara dan oleh instansi-instansi sipil di 23 negara.

Heli ambulance AW139 New South Wales, Australia. Sumber gambar: wikipediaHeli ambulance AW139 New South Wales, Australia. [wikipedia]

Kesuksesan AW139 dalam produksi dan penggunaannya di berbagai negara ini menjadi cerminan kalau heli ini merupakan heli tangguh. Dua negara adidaya, AS dan Rusia, yang masing-masing telah mampu membuat helikopter sendiri pun, turut berkolaborasi memproduksi AW139. Di AS heli AW139 dibuat di Philadelphia, sementara di Rusia di buat di Tomilino, Moskow.

Indonesia menjadi salah satu negara yang mengoperasikan heli AW yang dari sisi performa sangat bagus, namun kadang kalah pamor karena belum banyak orang tahu tentang heli ini. Selain itu di Indonesia pun masalah harga selalu menjadi sorotan karena pada umumnya pembelian barang dengan harga mahal akan diperdebatkan tanpa membandingkan masalah kelengkapan dan keunggulan performa. Beli apapun yang pertama ditanya adalah soal harga. Sementara beli alutsista dengan harga murah biasanya didapat dalam bentuk hibah.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjDnUK3hdRF_agSMcrKz26bEeKGDNy6xrG6Ps_qz9nyIer-QyFBB5G6P6_k0kOToc3Knuxnj1QPQEw7xefe2gtCxnJApsSTEk3VdUpjpqIc8WYV3DU3L0D0aJ8jCyi6kDyiqkiDAshbV3cD/s1600/IMG-20161106-WA0024Tim+Rescuer+Basarnas+tengah+berlatih+dengan+heli+AW139.++%255BDok.+Basarnas%255D.jpgTim Rescuer Basarnas tengah berlatih dengan heli AW139. [Dok. Basarnas]

Selain Basarnas, beberapa perusahaan swasta di Indonesia turut mengoperasikan heli AW termasuk heli untuk pengangkutan VVIP/VIP.

Basarnas dan Leonardo induk perusahaan AgustaWestland telah bersepakat menunjuk PT Indopelita untuk perakitan, perawatan, dan pengintegrasian sistem AW139. Satu unit AW139 untuk Basarnas dikirimkan ke Indonesia pada akhir tahun 2015 dan kemudian dirakit di Indopelita pada akhir Januari 2016 selama dua minggu hingga berhasil diujiterbang ulang.

Heli AW139 dipamerkan dalam ajang Indo Defence 2016 di Kemayoran, Jakarta Pusat. Sumber gambar: Roni SontaniHeli AW139 dipamerkan dalam ajang Indo Defence 2016 di Kemayoran, Jakarta Pusat. [Roni Sontani]

AgustaWestland juga telah mengirimkan pilot-pilot dan teknisi TNI AU yang mengoperasikan heli AW139 Basarnas ke Italia beberapa waktu lalu. Pihak AW juga mendatangkan pilot dan teknisinya ke Indonesia untuk memberikan supervisi dan pelatihan. Sebagaimana diketahui, untuk pengoperasian AW139, Basarnas bekerja sama dengan TNI AU khususnya Lanud Atang Sendjaja, Bogor.

Di ajang Indo Defence 2016, Basarnas memamerkan heli AW139 bersebelahan dengan heli Dauphin AS365N3+.

Author: Roni Sontani

 Simak video perakitan heli AW139 di Indopelita : 


  Angkasa