Tampilkan postingan dengan label TNI AD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNI AD. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 November 2016

Legenda Batalion Infanteri Mekanis

✈ Ada hikmah lain di balik pensiunnya Agus Yudhoyono. Pemberitaan seputar Agus turut mengangkat nama batalion infanteri mekanis, satuan tempur relatif baru di tanah air. Kenali lebih lanjut bersama Aris Santoso. Saat Mayor Inf. Agus Harimurti Yudhoyono (kini sudah berstatus purnawirawan) memutuskan mengundurkan diri dari dinas TNI pada akhir September lalu, sehubungan niatnya untuk maju sebagai Cagub (calon gubernur) DKI Jakarta Raya, publik merasa terkejut.

Bagaimana tidak, Agus dikenal sebagai perwira muda yang cemerlang, dengan masa depan menjanjikan. Latar belakang keluarganya juga mendukung, ayah dan kakeknya adalah jenderal yang sangat terkenal. Sepertinya bukan hanya TNI yang merasa kehilangan salah seorang kader terbaiknya, namun publik juga menyayangkan pilihan Agus untuk pensiun dini.

Pilihan Agus untuk pensiun dini adalah proses politik yang masih terus bergulir. Kita masih harus menunggu bagaimana performa Agus di "palagan” yang baru. Namun ada hikmah lain di balik pensiunnya Agus, bahwa pemberitaan seputar Agus turut mengangkat nama batalion infanteri mekanis (yonif mekanis), model satuan tempur yang relatif baru di tanah air. Mengingat posisi terakhir Agus sebelum mengundurkan diri, adalah Komandan Batalion Infanteri Mekanis 203/Arya Kamuning yang berkedudukan di Tangerang.

 Para Raiders dan Yonif Mekanis 

Perjalanan karier Agus juga unik, yang seolah merefleksian perjalanan satuan infanteri lintas udara di tanah air. Pasca perang kemerdekaan, TNI (d/h ABRI) mulai membentuk satuan infanteri berkemampuan khusus, dengan kualifikasi teknis dan persenjataan yang lebih mumpuni, di atas rata-rata satuan infanteri reguler.

Mulai dasawarsa 1950-an, mulai dibentuk satuan-satuan yang di kemudian hari menjadi legendaris, bahkan hingga hari ini. Satuan dimaksud antara lain, Kopassus (April 1952), Yonif 401/Banteng Raiders (Mei 1952), Yonif Linud 328/Kujang II, Yonif Linud 330/Kujang I, dan seterusnya.

Bila satuan dengan kualifikasi khusus tersebut, sudah teruji dalam berbagai medan tugas, hingga layak memperoleh sebutan sebagai satuan legendaris. Sedang yonif mekanis, sebagai model satuan relatif baru, masih dalam tahapan menuju legendaris. Saya kira ditunjuknya Agus sebagai Komandan Yonif Mekanis 203 (Agustus 2015), merupakan bagian dari skenario pimpinan TNI AD, agar satuan Yonif Mekanis dimaksud cepat menemukan bentuknya. Mengingat Agus sebelumnya lama bertugas di satuan yang juga legendaris, yaitu Batalion Linud 305/Tengkorak Kostrad (Karawang), dan sempat menjabat sebentar sebagai Wakil Komandan Yonif Mekanis 201/Jaya Yudha.

Sekedar tambahan informasi, seluruh satuan berkualifikasi linud (lintas udara), kini sebutannya diganti menjadi batalion para raiders. Seperti Yonif Linud 305 misalnya, kini menjadi Yonif Para Raiders 305/Tengkorak. Memang perkembangannya demikian cepat, bisa jadi publik belum sempat update informasinya, termasuk soal keberadaan yonif mekanis. Sebagaimana disebut sekilas di atas, bila tidak ada berita soal Mayor Agus, bisa jadi publik juga belum paham soal keberadaan yonif mekanis.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixpHKk24HYuGtymZVvrK14IkhQ4pckKF16bsYxelX5udk860eCKklYQYp5Mir3wUvWCi4LjaHgcq1YhovZwDmqbmDdL0IFSgJ9NSNLnJ1fg-EO3ALULlMsSyqsiyhzrcAAB4ylPPYFnSG_/s1600/1442852644352+Yonif+Mekanis+201+Jaya+Yudha..jpgKalau sedikit kita runut ke belakang, segala perubahan menyangkut konsep satuan, khususnya satuan tempur, tidak lepas dari peran pimpinan yang sedang menjabat. Soal pembentukan yonif mekanis misalnya, itu adalah program saat KSAD dipegang oleh Jenderal George Toisutta.

Setiap KSAD selalu membuat terobosan, selain untuk kemajuan institusi, juga agar namanya (sebisa mungkin) selalu dikenang. Seperti Ryamizard misalnya, yang sudah identik dengan pembentukan satuan raiders pada tiap kodam, karena hal ini adalah program unggulan saat Ryamizard menjadi KSAD (2002-2005). Termasuk dalam hal perubahan sebutan untuk satuan berkualifikasi lintas udara (linud), menjadi para raiders. Selain sebutan yang berganti, juga ada peningkatan status kualifikasinya.

Dalam sebuah wawancara dengan majalah militer Angkasa (edisi April 2007), Jenderal (Purn) Luhut B. Panjaitan (kini Menko. Maritim) dalam kapasitasnya sebagai sesepuh korps infanteri, menjelaskan, pembentukan yonif mekanis masih dalam tahapan persiapan, karena TNI AD (saat itu) masih fokus pada pengembangan light infantry. Light infantry dimaksud Luhut adalah satuan infanteri ringan sebagaimana kita kenal selama ini, dengan persenjataan utama adalah senapan serbu, dan pergerakan pasukannya masih dengan cara berjalan kaki. Sementara dalam yonif mekanis, pergerakan pasukan sudah menggunakan ranpur (kendaraan tempur), agar lebih cepat mencapai sasaran.

Pada pertengahan 2007 itu pula, muncul rintisan pembentukan yonif mekanis, ketika TNI sedang bersiap ke Libanon dalam misi perdamaian di bawah payung PBB (Kontingen Garuda). Saat itu instruktur dari Pusdikkav (Pusat Pendidikan Kavaleri) memberi pelatihan mengendarai ranpur pada sejumlah personel dari korps infanteri. Ranpur yang disiapkan umumnya masuk kategori kendaraan angkut personel atau biasa dikenal sebagai APC (armoured personnel carier), seperti VAB Renault (produksi Perancis) atau BTR 40 (Rusia), yang memang sesuai dengan kebutuhan pasukan infanteri.

Membantu misi perdamaian PBB di LibanonMembantu misi perdamaian PBB di Libanon

 Menanti Palagan 

Rupanya prosesnya berlangsung demikian cepat, sekitar tiga tahun kemudian. Pada Februari 2010 KSAD (saat itu) Jenderal George Toisutta sudah meresmikan berdirinya Yonif Mekanis 201/Jaya Yudha (markas Gandaria, Jakarta Timur) sebagai yonif mekanis pertama di Tanah Air. Yonif Mekanis 201 selanjutnya diperkuat dengan panser angkut personel Anoa, produksi Pindad.

Kini seluruh yonif (konvensional) di Kodam Jaya, telah ditingkatkan statusnya menjadi yonif mekanis, yaitu Yonif Mekanis 202/Taji Malela (Bekasi) dan Yonif Mekanis 203/Arya Kamuning (Tangerang). Satuan yang disebut terakhir inilah, yang sebelumnya dipimpin Mayor Inf. Purn. Agus Harimurti Yudhoyono.

Karena proses yang terlalu cepat, kalau tidak boleh disebut terburu-buru, maka dalam praktik di lapangan acapkali terjadi tumpang tindih atau irisan dalam penggunaan ranpur, antara yonif mekanis dan yonkav (reguler). Sekadar ilustrasi, dalam operasi pengamanan aksi massa 4 November (411) di Jakarta baru-baru ini misalnya, Yonif Mekanis 203 menurunkan panser Anoa, sementara Yonkav 7/Panser Khusus Kodam Jaya menurunkan panser VAB.

Dua panser tersebut sebenarnya masuk kategori yang sama, yaitu jenis angkut personel (APC). Sebenarnya Yonkav 7 memiliki ranpur jenis lain, yaitu panser V-150 (Perancis), yang bisa jadi faktor pembeda dengan ranpur organik yonif mekanis. Mengingat V-150 memiliki meriam (canon), sementara ranpur yonif mekanis umumnya hanya dilengkapi senjata mesin berat, sebagai cara mempertahankan diri, saat mendorong pasukan (infanteri reguler) ke titik sasaran. Ini merupakan salah satu fenomena, bagaimana yonif mekanis di Tanah Air sedang mencari bentuk, sehingga terkesan masih ambigu dalam penggunaan ranpur.

http://icdn.antaranews.com/new/2014/10/ori/20141017431.jpgTerlihat pula dalam pengalaman berikut, bagaimana ranpur yonif mekanis terkadang bisa lebih canggih dari ranpur organik yonkav reguler, yang jauh lebih lama berdiri. Sebagaimana terjadi pada Yonif Mekanis 413/Bremoro (Solo), yang sudah mengoperasikan ranpur Marder (produksi Jerman), jenis ranpur yang menggunakan roda rantai (tracked infantry vehicles).

Masih di sekitaran Jawa Tengah, Yonif Mekanis 411 (Salatiga) dan Yonif Mekanis 412 (Purworejo) segera memperoleh sekian unit M113 (produksi AS). Marder dan M113, dalam khazanah ranpur biasa disebut sebagai IFV (infantry fighting vehicle), jadi sedikit berbeda dengan APC. Ini memang terkesan ironi, mengingat ada sebagian yonkav yang masih mengoperasikan tank ringan AMX 13 (Perancis), yang sudah tergolong tua, kemudian panser Saladin dan Saracen, produksi Inggris tahun 1950-an.

Sebagaimana disebut sekilas di atas, apabila satuan infanteri regular seperti Yonif 400/Raiders (dahulu Yonif 401/Banteng Raiders) atau Yonif Para Raiders 328/Kujang II, sudah sampai tingkatan legendaris, maka satuan yonif mekanis sedang berproses atau mencari jalan menuju legenda. Menilik pengalaman satuan tempur pada umumnya, butuh waktu relatif lama untuk menjadi satuan legendaris.

Terkait yonif mekanis, setidaknya karena dua hal. Pertama, palagan untuk yonif mekanis lebih terbatas dibanding infanteri. Yonif mekanis lebih sebagai antisipasi masalah di kawasan urban (perkotaan), sementara bagi yonif reguler bisa diterjunkan di medan apapun. Kedua, ranpur yonif mekanis (khususnya panser Anoa), belum pernah teruji dalam medan tempur yang sesungguhnya (battle proven).

 Perang Kota dan Alokasi Anggaran 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJEGYSetmvcxR5JDvWCwPSahb89_mSC7nilikkg2Qy1KEAf8QBU-9TQg-4M1JsKfdY4l6TzdtIl4VuPyrjngIeI9PLXIMKQeXVF_XKS6ZzW4z41zbI0gGx3nAIlY5NOuSV3XaLGROC3B-a/s1600/pindad02pr1v4t33r.jpgPercepatan pembentukan yonif mekanis di Tanah Air boleh disebut pengalaman menarik. Proyek bisa berjalan mulus, karena ada titik temu antara pengembangan konsep perang kota (urban warfare) dan alokasi anggaran. Konsep perang kota sudah dikenal TNI AD sejak tahun 1980-an, salah satunya diwujudkan dengan pembentukan Detasemen 81 Kopassus (kini Satgultor 81), sebagai respons adanya ancaman di ruang urban, seperti pembajakan pesawat atau gedung bertingkat. Dalam konteks perang kota inilah kemudian muncul dua konsep turunan, sebagai panduan dalam operasi riil di lapangan, yakni MOUT (military operations on urban terrain) dan PJD (pertempuran jarak dekat, close quarters battle).

Mengacu pada praktik di negara Barat (khususnya AS, Jerman dan Australia), pembentukan yonif mekanis merupakan kelanjutan atau bagian dari konsep MOUT/PJD. Yonif mekanis dibentuk untuk memenuhi prinsip kecepatan dalam menuju titik sasaran, prinsip yang tidak bisa ditawar dalam operasi perkotaan.

Sementara pada waktu hampir bersamaan, pemerintah (baca Kemenhan) berkomitmen memperkuat produk dalam negeri dalam pengadaan alutsista (alat utama sistem persenjataan), sehingga Pindad memproduksi panser Anoa dalam skala besar. Dengan kebijakan seperti ini, artinya alokasi anggaran untuk pembentukan yonif mekanis memang sudah tersedia. Pada gilirannya alokasi anggaran harus diserap, itu sebabnya pembentukan yonif mekanis terkesan cepat. Sampai-sampai publik tidak mengetahui detail keberadaan yonif mekanis, padahal ada dana rakyat yang dipakai untuk membiayai operasional yonif mekanis, khususnya dalam pengadaan ranpur.

Penulis: Aris Santoso Penulis: Aris Santoso (ap/rzn)

Sejak lama dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD. Kini bekerja sebagai staf administrasi pada lembaga HAM (KontraS). Tulisan ini adalah pendapat pribadi.


*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

  DW  

Kamis, 17 November 2016

Kisah Raider Temukan Kampung Yang Tidak Ada Dalam Peta

Prajurit Raider 700 Jelajahi Pedalaman Papua http://www.tniad.mil.id/wp-content/uploads/2016/11/papua-1.jpgBatalyon Infantri Raider 700/WYC Kodam VII/Wrb dipimpin oleh Dansatgas Letkol Inf Horas Sitinjak, saat ini mendapat kehormatan untuk melaksanakan Pengamanan Patok Batas Wilayah Republik Indonesia dengan Papua Nugini. Tugas Satgas ini adalah melakukan patroli dan pendataan ulang batas-batas patok wilayah Republik Indonesia dengan PNG. Selama penugasannya Yonif Raider 700/WYC, sudah mendapatkan 5 patok batas yang selama ini dinyatakan hilang, mulai 1984 di bangun, belum pernah dipatroli kembali.

Dalam perjalanannya tugas operasi dibagi dalam beberapa pos, dan alhasil saat melakukan patroli patok batas yang berada di sekitar pegunungan Bintang didapati sebuah kampung terisolir yang belum terdaftar dalam administrasi pemerintahan atau tidak ada di peta. Kampung Digi, warga setempat menyebutnya.

Dansatgas Pamtas RI-PNG Letkol Inf Horas Sitinjak mengatakan, ditemukannya kampung di wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang, masih belum terdaftar dalam adminstrasi pemerintahan, “Benar, anggota saya saat melakukan patroli patok batas, telah menemukan satu kampung yang sama sekali belum tersentuh pemerintah. Di dalam peta tak ada, tapi ternyata disana ada kampung, dan ini sudah kami laporkan ke pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang,” Minggu (13/11/2016).

Letkol Inf Horas Sitinjak juga menyampaikan bahwa, sebagian besar masyarakat dikampung Digi, tak tahu sebenarnya mereka warga Negara Indonesia atau PNG. Namun yang pasti kampung tersebut masuk wilayah Indonesia. “Kampung ini masuk wilayah Indonesia, dan berada pada titik koordinat 9732-2580,” paparmya.

2Terry Digibin, Tokoh Adat Kampung Digi memaparkan, “Dulu sekitar 100 orang ada itu yang tinggal di kampung, hanya kami tidak tahu apakah kami warga Indonesia atau PNG, maka sebagian warga sudah ada yang di PNG, belum pernah pemerintah Indonesia datang kemari, kami juga masih bingung, kami masuk wilayah administrasi mana, sehingga semua infrastruktur juga tidak ada, dan kami juga bingung mengeluh ke mana”.

Dikatakan lagi, warga setempat tidak memiliki penghasilan layaknya warga di kampung lain. Terlebih lagi, mata pencaharian warga berburu dan berkebun, hanya bisa untuk menyambung hidup sehari-hari. Tak hanya permasalahan ekonomi, pendidikan dan kesehatan di kampung ini juga tidak ada sama sekali. “Untuk makan kami sehari-hari makan keladi, sagu, betatas dan hasil buruan kami dihutan,untuk pendidikan dan kesehatan tidak ada. Kalua ada warga yang sakit ya kami menggunakan ramuan dari hutan juga untuk obat,” ujarnya.

Adapun struktur bangunan perumahan warga hanya terbuat dari kayu dab beratap daun sagu. Sementara jarak antar rumah satu dan lainnya sekitar 10-20 meter, membuat kampung tersebut tampak sunyi. Bahasa sehari-hari mereka gunakan bahasa daerah Dumnye, sebagian besar penduduk setempat tak dapat berbahasa Indonesia. “Warga disini hanya bisa bahasa Dumnye dan bahasa Fiji asal PNG. Bahasa Indonesia sangat susah digunakan,” terang Terry.

Dengan ditemukannya patok-patok batas dan kampung Digi, yang masih dengan kondisi terisolir oleh Satgas Pamatas RI-PNG Yonif Raider 700/WYC, diharapkan kepada pemerintah pusat dan daerah memberikan perhatian lebih, dan melakukan pendataan kembali wilayah-wilayah yang mungkin masih belum masuk dalam administrasi pemerintahan, sehingga keutuhan NKRI selalu tetap terjaga.

  TNI AD  

Kostrad Beli Sniper Baru

Rangemaster G2 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjoWFPPN0LQWZn9rthnAtJ3V87T3JSNRPvyV4DS1iOVqXJTyGxybhUK5aHRlrDeK-DA7wJ8uJFaYIWUFSUj1nICcc_yEXB0-BI0jCPEyhcet2HhyKJfeuIN6sxZ2lHgtRcZxwAU4TcAqYz2/s1600/IMG-Sniper+Rangemaster+2+Kostrad.+%255BValian+Danendra%255D.jpgSniper Rangemaster 2 Kostrad. [Valian Danendra]

Dalam kunjungan Presiden Joko Widodo ke markas Divisi Infantri 1 Kostrad di Cilodong, Jawa Barat (16/11), turut dipamerkan sejumlah alutsista terbaru Kostrad. Dari sejumlah jajaran senjata ringan yang dijejer, ada satu jenis senjata baru yang menarik perhatian, jenisnya dari senapan runduk alias sniper rifle. Di label yang menempel pada mulut laras, tertera nama Range Master.

Melihat sosoknya, Range Master yang ditampilkan menggunakan sistem sasis alumunium yang dibentuk skeletal, sesuai tren perkembangan senapan runduk masa kini. Range Master tampak jauh lebih modern dibandingkan senapan runduk standar sebelumnya, Accuracy International Arctic Warfare 7,62mm.

Setelah selusur mendalam dan mencari informasi, ternyata senapan runduk dimaksud adalah Rangemaster G2 buatan perusahaan RPA atau Rangemaster Precision Arms. Perusahaan yang berbasis di Midland, Inggris ini sejak lama membuat senapan berburu dan juga kebutuhan taktis.

Senapan runduk tipe Rangemaster G2 sudah diproduksi sejak 2012, menggabungkan antara laras dan sistem action buatan RPA, dengan sasis alumunium Dual Strike Chassis 30 buatan perusahaan Cadex. Sistem sasis yang dibuat dari alumunium 6061-T6 yang ringan dan tahan karat ini menawarkan modularitas dan kualitas yang optimal, terutama untuk kebutuhan pemasangan berbagai macam aksesoris.

Rangemaster 2. Sumber gambar: Valian DanendraRangemaster 2. [Valian Danendra]

Popor dari sasis memiliki setelan ketinggian sandaran pipi (cheek rest), ketebalan popor yang dapat diatur melalui bantalan popor yang sudah menggunakan desain tarik/ sorong, serta popor yang dapat dilipat dan dikunci ke pangkalnya hanya dengan satu sentuhan ke tuas.

Sasis ini menyatu dari depan yang merupakan forend tube yang dilengkapi dengan titik-titik pemasangan rel sampai ke sisi belakang. Rel di sisi atas terpasang mati dengan ketinggian 20 MOA tanpa terputus sehingga pemasangan optik secara kombo dapat dilakukan. Di sisi dalam, sistem gerendel dan mekanisme didudukkan ke sasis pada empat titik yang dilengkapi dengan roller untuk mengurangi vibrasi pada laras. Sistem pelatuk dan mekanismenya menggunakan RPA Quadlite action dengan bolt empat lug yang sudah memenangkan banyak penghargaan.

Untuk kebutuhan militer, seluruh komponennya dilabur lapisan tahan korosi dan friksi rendah sehingga mengurangi gesekan. Sistem pelatuknya dapat disesuaikan dengan keinginan pengguna, dan sistem penguncinya dibuat ganda. Laras dari Rangemaster G2 ini dibuat dengan teknik cold hammer forged, dites secara individual di pabrikan, dan hanya diambil yang terbaik sesuai standar. Bagian luar dilengkapi dengan fluting untuk membantu pemuaian, dan di ujung larasnya disiapkan peredam hentakan berukuran besar dengan tiga tingkap yang lazimnya hanya ditemui pada senapan runduk kaliber besar. Jarak efektif dari Rangemaster G2 ini mencapai 1.000 meter.

Bicara harga, memang tidak ada senapan runduk yang murah. Sistem Rangemaster yang ditawarkan saja sudah memiliki banderol hampir 4.700 poundsterling atau sekitar Rp 79 juta jika berpatokan pada katalog yang dikeluarkan RPA Defense, belum termasuk harga optik di atasnya. Senapan runduk Rangemaster G2 yang digunakan Kostrad ini tampak bersanding dengan teleskop Leupold Mark IV LR/T M1 6,5-20x50mm.

 Spesifikasi Rangemaster G2 

Kaliber : 7,62x51mm
Panjang : 1.219mm/ 950mm (popor terlipat)
Panjang laras : 660mm
Bobot : 6,8kg
Jarak efektif : 1.000m

Author: Aryo Nugroho

 ♖ Angkasa  

Mi-17V5 TNI AD di Mali Dipanggil Kembali ke Pertiwi

 Tempo Operasi Meningkat 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjDOfqQE7avZwbRjqs9P5vNMJB4n9OMCXY23g3P6-wTacHww51qsNNV1uIJ4a9pMpRDVCZ1UDYXalegkR9ehloYa_AbazNA07V0eH0XkuiV1NJtxCkwKPeY2joTNuU2cypo2BjQMRY02Bdl/s1600/CxX-Helikopter+Mi-17.+%255BDispen+Kostrad%255D.jpgHelikopter Mi-17 di pamerkan dalam kunjungan Jokowi. [Dispen Kostrad]

M
asih soal kunjungan Presiden Jokowi ke Markas Divisi 1 Kostrad di Cilodong pada 16 November 2016. Di lapangan terbuka ditampilkan sejumlah alutsista kelas berat seperti sistem artileri CAESAR, Marder 1A3, Leopard 2A4RI, peluncur roket ASTROS, dan paling luar adalah helikopter angkut Mi-17V5 Hip-H.

Dua helikopter Mi-17V5 ini tampil menarik perhatian dengan kelir putih khas warna penugasan PBB. Ada apa gerangan? Apakah TNI akan mengirimkan heli angkut tangguh andalan Penerbad ini sebagai tambahan untuk memenuhi permintaan PBB? Rupanya setelah ditelusuri, dua helikopter ini justru baru kembali dari Mali, setelah mengemban tugas selama setahun penuh.

Dua Mi-17V5 ini adalah bagian dari tiga helikopter yang dikirimkan ke Mali pada bulan September 2015 bersama 140 personel TNI AD dan TNI AU yang tergabung dalam dalam INDO MUHU (Indonesian Medium Utility Helicopter Unit) yang dikirim ke negeri Afrika tersebut dalam rangka mendukung operasi MINUSMA (Multidimensional Integrated Stabilisation Mission in Mali) PBB untuk menstabilkan negeri yang diamuk perang saudara tersebut.

Di Mali, ketiga Mi-17V5 tersebut benar-benar menjadi tulang punggung bagi kontingen pasukan penjaga perdamaian dan staf PBB untuk berkunjung ke seluruh negeri dan juga untuk mengirimkan berbagai logistik ke pos-pos pasukan penjaga perdamaian PBB. Selain Mi-17V5 milik Penerbad tersebut, MINUSMA juga dibantu Belanda untuk pemenuhan heli angkut dengan empat unit CH-47D dan tiga AH-64D yang tergabung dalam HELIDET (Heli Detachment).

Sayang seribu sayang, misi INDO MUHU di Mali tidak diperpanjang. Kebutuhan operasi di tanah air membuat pengabdian perdana Penerbad di negeri jauh tersebut tidak berlanjut. TNI AD memang membutuhkan Mi-17V5 yang ada untuk mendukung berbagai operasi, termasuk Latancab yang saat ini sedang dilaksanakan di Natuna.

Jadilah pada 21 Oktober 2016 ketiga Mi-17V5 yang tadinya malang-melintang di Mali itu dibongkar dan dimasukkan ke dalam perut pesawat angkut strategis An-124-100 milik Volga Dnepr yang membawanya kembali ke Indonesia. Setelah selesai dirakit kembali, dua Mi-17V5 inilah yang kemudian ditampilkan dalam kunjungan Presiden Jokowi.

Dari TNI belum terdengar rencana untuk mengirimkan misi dan helikopter pengganti ke Mali, walaupun PBB sudah mengajukan permohonan. Dengan kembalinya Mi-17V5 Penerbad ke tanah air, MINUSMA mengalami kekurangan armada helikopter yang kronis. CH-47D milik Belanda yang masih ada pun rencananya akan ditarik pada awal 2017.

Untungnya pada 1 November, Pemerintah Jerman menyatakan komitmennya mengisi celah yang ditinggalkan Indonesia dan Belanda untuk kebutuhan helikopter MINUSMA. Adalah tiga unit helikopter NH-90 dan tiga EC665 Tiger Jerman yang akan menggantikan peran Mi-17V5, CH-47D, dan AH-64D di Mali.

Author: Aryo Nugroho

  ★ Angkasa  

Selasa, 15 November 2016

Jokowi Sambangi Markas Kostrad

➶ Prajurit Kostrad, Lindungi NKRI dari yang Ingin Memecah Belah BangsaPresiden Joko Widodo (Jokowi) hari ini menyambangi Markas Divisi I Infanteri Kostrad di Cilodong, Depok, Jawa Barat. Dalam kesempatan itu, Jokowi menegaskan prajurit Kostrad bertugas sebagai perekat kemajemukan bangsa.

Jokowi mengaku kagum atas kesiapsiagaan dan kewaspadaan prajurit Kostrad. Terutama dalam menegakkan dan mempertahankan kedaulatan serta keutuhan NKRI.

"Saya juga menyatakan kebanggaan saya, kebanggaan rakyat Indonesia atas dedikasi penuh para prajurit Kostrad untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari setiap ancaman maupu gangguan terhadap keutuhan NKRI," kata Jokowi saat memberikan pengarahan kepada 3.500 prajurit Kostrad di Markas Kostrad Cilodong, Depok, Jawa Barat, Rabu (16/11/2016).

Jokowi mengatakan prajurit Kostrad selalu disegani dalam setiap medan pertempuran. "Nama Kostrad selalu dikenang dalam setiap peristiwa bersejarah, dalam menegakkan kedaulatan NKRI," kata Jokowi.

"Prajurit Kostrad selalu siap menerima tugas dari negara untuk diterjunkan kapan pun, di mana pun dan pantang mundur demi kejayaan bangsa dan negara," tambahnya.

Untuk itu, Jokowi memerintahkan kepada prajurit Kostrad untuk menjadi perekat kemajemukan bangsa dan melindungi NKRI.

"Sebagai Komando Kotama, sebagai satuan pemukul strategis, jadilah kekuatan perekat kemajemukan bangsa dan lindungi NKRI dari mereka yang ingin memecah belah bangsa Indonesia," tegas Jokowi. (jor/dhn)

   detik  

Minggu, 13 November 2016

[Video] Aksi Amfibi M113 TNI AD

Lattis Ancab 2016 di Natunahttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhyxyFSXdFQBs4eOc9bwu0gJ6Mw3Kfv76XtrDn5wSpYl73MV9yprEambx4zBfqjQ-BJUZdpNmVwsbgNQy869nkLsztz9vvwoV1T17mIV38TDV0mEw2O_heqasqqTDXRD42lB0sGG4h-Zk-a/s1600/tni-ad-gelar-latihan-taktis-antar-kecabangan-di-pulau-natuna.jpgDalam Latihan taktis antar cabang TNI AD di Natuna, Ada satu alutsista yang menarik di tonton, yaitu M113 APC. Ranpur angkut pasukan yang dibeli dari Belgia ini ternyata mampu manuver di laut dan dikerahkan beberapa unit dalam latihan terbesar akhir tahun TNI AD.

Video diambil dari Youtube :


  ★ Youtube  

[Ancab 2016] TNI AD Terapkan Hukum Humaniter

Latihan Taktis di Natunahttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgD_i2zgPOTQNxGQHp63yA7_DO9KETIEBBjnP85rhEt_DgHH4aqg40OXqy0s02PmuREn2SNQBms_KC8DLclhRKcYyikqhFSXpCRC-PPjdpb4aC0qWhWK9n8Kok0KJx2Du1-YwZI1IUffS1x/s1600/15000121_Indonesian+Army+Leopard+2RI+MBT+Lembaga+Keris.jpgMBT Leopard 2RI manuver di Natuna [Lembaga Keris]

TNI AD mengadakan Latihan Taktis Antar Kecabangan (Lattis Ancab) 2016 di Tanjung Datuk, Pulau Natuna Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mulai pertengahan Oktober hingga Sabtu, 12 November 2016. Dalam latihan tersebut, merupakan pelaksanaan penerapan hukum HAM dan humaniter.

Kepala Dinas Penerangan Tentara Nasional Angkatan Darat (Kadispenad), Brigjen M Sabrar Fadilah mengatakan, Lattis Ancab 2016 ini dimaksudkan agar unsur pimpinan tingkat Brigade mampu melaksanakan prosedur hubungan Komandan dan Staf dalam suatu operasi tempur.

Selain itu, gelaran ini ditujukan untuk mengasah keterampilan dan profesionalisme prajurit, serta satuan seperti manuver serangan dan pemindahan pasukan dalam suasana taktis.

"Kerjasama Infanteri dan Tank (KSIT), memberikan bantuan tembakan kepada satuan manuver, melaksanakan penembakan sasaran udara serta mampu melaksanakan implementasi hukum HAM dan humaniter," kata Fadilah, melalui keterangan pers tertulisnya, di Jakarta, Minggu (13/11/2016).

Latihan ini, kata dia, melibatkan kurang lebih 3.551 prajurit dari berbagai kecabangan yang ada di TNI AD. Selain ribuan personel, TNI AD juga mengerahkan ratusan alutsista untuk mendukungh pelaksanaan Lattis Ancab ini.

"Alutsista yang dikerahkan dalam latihan ini yaitu : Tank Leopard, Tank AVLB, Tank ARV, Ranpur Marder, Ranpur M 113 A1, Ranpur Anoa, Meriam 23mm/GB, Meriam 76 mm, Meriam 105 mm, Meriam 155 mm, Roket Astros, Helly MI 35, Helly MI 17, Helly Bel 412 dan Mortir 81," tandasnya. (sym)

  ★ Okezone  

[Video ★★★★] Latihan Taktis TNI AD

Dengan format HD https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzbHizbddwJUeRsDEiJwr-abieFoTZww9QD4IgcncXf3HVuUkirGYia5dsUcnsp7w7EORcOrOV2tiIxHDIiIJo9vkO3WzklRZr7elOqLOz4h3QhIEfF1Moj5j2RQ7OsxCiX2bTpkbQj7nG/s1600/14677170_Credit+to+Yonkav+1+Kostrad..jpgKetika MBT Leopard 2RI mengaum di Natuna [Kostrad] ☆

Setelah video besutan TNI AD beberapa waktu yang lalu kurang memuaskan dari segi kualitas gambar. Sekarang Dispenad merilis video dengan format HD.

Serangan bertubi-tubi dari alutsista milik TNI AD dengan peluru tajam, seolah dikerahkan untuk melatih profesional prajurit menghadapi situasi perang. Tentu sangat menarik untuk ditonton. Bravo TNI ... [★★★★]

Seperti biasa video rating ★★★★ di ambil dari Youtube :


  Youtube  

Sabtu, 12 November 2016

[Ancab 2016] Panglima Tinjau Latihan Taktis di Natuna

Pengemudi dan penembak ranpur M113 dari Kowad https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhyxyFSXdFQBs4eOc9bwu0gJ6Mw3Kfv76XtrDn5wSpYl73MV9yprEambx4zBfqjQ-BJUZdpNmVwsbgNQy869nkLsztz9vvwoV1T17mIV38TDV0mEw2O_heqasqqTDXRD42lB0sGG4h-Zk-a/s1600/tni-ad-gelar-latihan-taktis-antar-kecabangan-di-pulau-natuna.jpgPanglima TNI bersama KSAD berdiri di ranpur M113 Amfibi TNI AD, meninjau operasi pendaratan pasukan.

TNI AD akan menggelar Latihan Taktis Antar Kecabangan (Lattis Ancab) 2016 di Tanjung Datuk, Pulau Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, mulai pertengahan Oktober hingga puncaknya pada Sabtu 12 November 2016.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI MS Fadillah mengatakan, latihan taktis ini merupakan latihan puncak dari program latihan yang dilaksanakan TNI AD.

"Latihan yang menggunakan metode drill tempur ini ditinjau langsung Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, dan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Mulyono beserta pejabat teras TNI AD lainnya," ujar Fadillah dalam keterangan tertulisnya, Minggu (13/11/2016).

"Panglima TNI dan Kasad dalam peninjauannya pada Sabtu 12 November 2016, menumpangi Tank angkut M113, pengemudi, dan penembaknya diawaki prajurit Kowad," sambung dia.

Fadillah menjelaskan, pada latihan kali ini, dilaksanakan pada tingkat Brigade dalam bentuk Brigade Tim Pertempuran, melalui penyelenggaraan operasi tempur yang didukung operasi intelijen dan operasi teritorial.

Utamanya, dalam melaksanakan prosedur operasi serangan dalam pengerahan dan penggunaan alutsista. Di samping itu, juga untuk mengukur dan menguji doktrin serta prosedur tetap (Protap) pertempuran TNI AD, sebagai bahan evaluasi peningkatan kemampuan operasi satuan-satuan TNI AD.

"Lattis Ancab 2016 dimaksudkan agar unsur pimpinan tingkat brigade, mampu melaksanakan prosedur hubungan komandan dan staf dalam suatu operasi tempur," kata dia.

Selain itu, lanjut Fadillah, latihan ini untuk mengasah keterampilan dan profesionalisme prajurit serta satuan, seperti manuver serangan dan pemindahan pasukan dalam suasana taktis, kerja sama Infanteri dan Tank (KSIT).

"Juga memberikan bantuan tembakan kepada satuan manuver, melaksanakan penembakan sasaran udara dan mampu melaksanakan implementasi hukum HAM dan Humaniter," sambung dia.

Adapun pelaku utama dalam latihan kali ini melibatkan prajurit dari satuan Brigif 13/1 Kostrad, yaitu Yonif Raider 303/SSM dan Yonif Raider 323/BP dengan perkuatannya.

"Latihan tahun ini juga melibatkan kurang lebih 3.551 prajurit dari berbagai kecabangan yang ada di TNI AD. Selain ribuan personel, TNI AD juga mengerahkan ratusan alutsista untuk mendukung pelaksanaan Lattis Ancab kali ini," terang Fadillah.

Fadillah menambahkan, alutsista yang dikerahkan dalam latihan ini yaitu Tank Leopard, Tank AVLB, Tank ARV, Ranpur Marder, Ranpur M 113 A1, Ranpur Anoa, Meriam 23mm/GB, Meriam 76 mm, Meriam 105 mm, Meriam 155 mm, Roket Astros, Helly Mi 35, Helly Mi 17, Helly Bel 412 dan Mortir 81.

  Liputan 6  

[Foto] Ujicoba Alutsista TNI AD

Latihan Taktis Antar Kecabangan 2016 Beredar penampakan alutsista TNI AD dalam latihan akhir tahun di Natuna. Foto diposkan pr1v4t33r, mandala, anas nurhafidz, supermarine dari berbagai sumber.


MBT Leopard 2RI menjalani latihan keras di Natuna. Selain melintasi daerah lumpur, juga manuver di daerah offroad. Kehandalan MBT buatan jerman ini terbukti dengan puasnya pihak TNI AD dalam latihan taktis pada awal latihan akbar di akhir tahun ini. [Berbagai sumber]

Diberitakan beberapa unit MBT Leopard 2RI menghadapi kerusakan mesin, karena kerasnya medan dan latihan. Dan dalam waktu sekitar 5 jam, recovery team berhasil mengganti mesin dan MBT dapat kembali latihan. [pr1v4t33r, sapisudamenyala]
IMG-20161112-WA0015.jpg[​IMG]
marder.jpeg

Mainan yang dibeli dari Belgia pun ikut meramaikan latihan dengan manuver di laut melakukan pendaratan pasukan di pantai. Juga Marder IFV TNI AD produk Rheimentall turut serta dalam latihan [Dispenad, anas nurhafidz, pr1v4t33r]

Alutsista lain juga diujicoba di Natuna. Diantaranya MLRS Astros dari Brasil dan Caesar dari Perancis. [Berbagai sumber]
tni.jpg

Helikopter Nbell penerbad melakukan pendaratan pasukan dan Helikopter angkut Mi17 TNI AD menurunkan meriam artileri menambah penetrasi ke wilayah musuh. [Berbagai sumber]

Artileri pertahanan udara TNI AD di persiapkan untuk menjaga kemungkinan serangan udara musuh. [Ezio@formil]
  Garuda Militer