Tampilkan postingan dengan label TNI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 November 2016

Latma Pasukan Operasi Khusus TNI- CTOC RTAF Ditutup

Prajurit tengah beraksi di ketinggian gedung. 

D
eputy CG Counter Terrorism Operations Center (CTOC) RTARF Mayor Jenderal Suphot Malaniyom selaku Komandan CTOC didampingi Wadanjen Kopassus Brigjen TNI Teguh Muji Angkasa selaku Komandan Latihan yang mewakili Asops Panglima TNI Mayjen TNI Agung Risdhianto, M.B.A., memimpin upacara penutupan Latihan Bersama antara Pasukan Operasi Khusus TNI dengan Pasukan CTOC Royal Thai Armed Force (RTAF), dengan sandi KRIS-I 2016, bertempat di Lapangan Upacara Stand By Force, PMPP TNI, Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Dalam sambutannya Deputy CG CTOC RTARF Mayor Jenderal Suphot Malaniyom menyampaikan ucapan terimakasih atas diselenggarakannya latihan bersama yang dilaksanakan antara militer Thailand dengan militer Indonesia dalam latihan menghadapi permasalahan serius tentang keamanan terkait dengan aksi terorisme.

Latihan tersebut kita dapat bertukar pengalaman, pengetahuan dan taktis dalam menanggulangi aksi terorisme dan menjalin hubungan Bilateral antar kedua negara khususnya Thailand dan Indonesia,” kata Mayor Jenderal Suphot Malaniyom.

Lebih lanjut Mayor Jenderal Suphot Malaniyom mengatakan bahwa, latihan bersama tersebut telah menghasilkan terobosan baru dalam memerangi aksi terorisme yang ada di dua negara dalam hal ini Thailand dan Indonesia. “Saya berharap latihan bersama ini dapat dilanjutkan tahun depan dan kami menantikan kehadiran militer Indonesia untuk berlatih bersama di Thailand,” ucapnya.

Sementara itu, Asops Panglima TNI Mayjen TNI Agung Risdhianto, M.B.A., dalam amanatnya yang dibacakan Wadanjen Kopassus Brigjen TNI Teguh Muji Angkasa menyampaikan bahwa, pasukan khusus dari TNI dan CTOC telah berlatih bersama dalam suasana penuh persahabatan. Pada latihan bersama yang pertama kalinya ini, telah terjalin kesepahaman prosedur, peningkatan keterampilan dan bertambah eratnya hubungan antar prajurit. Hal tersebut menunjukkan tercapainya tujuan dan sasaran latihan yang telah digariskan, terlebih lagi terwujudnya zero accident yang merupakan poin utama dalam pelaksanaan latihan.

Kepada seluruh peserta latihan dan para pendukung telah dapat menunjukkan dedikasi tinggi dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya guna keberhasilan latihan ini. Atas nama Panglima TNI, saya ucapkan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas kerja keras prajurit kedua angkatan bersenjata,” kata Asops Panglima TNI.

Menurut Mayjen TNI Agung Risdhianto, Latma KRIS-I/2016 adalah langkah awal kerja sama militer kedua negara, khususnya bagi TNI dan RTARF dalam penanggulangan terorisme. Kejahatan terorisme sebagai salah satu bentuk kejahatan transnasional yang terorganisir (transnational organized crime) telah berkembang skala maupun metodanya. Hal tersebut menuntut bentuk kerja sama antar negara dalam rangka menanggulanginya.

Lebih lanjut Asops Panglima TNI menuturkan bahwa, latihan bersama yang baru saja selesai dilaksanakan merupakan wujud hard approach dalam usaha menanggulangi aksi terorisme. Kesempatan berlatih bersama bagi pasukan khusus kedua angkatan bersenjata tersebut adalah wujud nyata pengembangan taktik, teknik dan prosedur sebagai upaya membangun interoperabilitas. “Latihan ini dapat dilaksanakan secara berkesinambungan dengan tujuan menjawab ancaman dan tantangan bersama bagi kedua negara di masa yang akan datang,” ujarnya.

Latihan bersama ini merupakan sarana untuk meningkatkan hubungan kerja sama dan persahabatan antara Indonesia dengan Thailand. Saya ucapkan selamat jalan kepada mayjen Suphot beserta seluruh peserta dari RTARF CTOC kembali ke thailand. Semoga selamat sampai di tujuan dan sampaikan salam hormat saya kepada para kolega dan keluarga anda semua,” tandas Asops Panglima TNI Mayjen TNI Agung Risdhianto.

Kabidpeninter Puspen TNI
Letkol Laut (KH) Edys Riyanto, M.Si

  Poskota  

Jumat, 18 November 2016

[World] Nations Unite Against Abu Sayyaf Group

Philippine Army captures 'last stronghold' of Abu Sayyaf terrorists [CNN] ★

I
ndonesia, Malaysia and the Philippines have agreed to initiate joint army training to advance efforts to secure the Sulu Sea from rampant piracy.

Indonesian Defense Minister Ryamizard Ryacudu explained that each of the countries would first begin its own army personnel training in January 2017 before conducting the joint training later in the year.

The military training will take place in Indonesia’s Tarakan in North Kalimantan, Malaysia’s Tawao Island and the Philippines’ Bongao Island.

Ryamizard said Army soldiers set to participate in the joint military training would form a special force tasked with facing the notorious Abu Sayyaf militant group that masterminded a series of recent kidnappings in Sulu waters, located in the southwestern Philippines.

It’s part of a concrete action we, ASEAN countries, are taking to secure the region,” he said in Jakarta on Thursday.

Ryamizard said the training locations would later become posts for a joint taskforce assigned to help secure Sulu waters.

The need for joint army training was discussed during a meeting between Ryamizard and his Malaysian and Philippines counterparts, Datuk Seri Hishammuddin Hussein and Delfin Lorenzana, held on the sidelines of the ASEAN Defense Ministers’ Meeting (ADMM) retreat earlier this week in Laos.

Both Malaysia and the Philippines welcomed the initiative, which will add to a joint sea patrol in Sulu waters that the three countries previously agreed upon. (hwa)

  The Jakarta Post  

Senin, 14 November 2016

Jokowi Akan Saksikan Latihan Tempur TNI di Natuna

൬ Usai Kunjungi Mabes൬ Manuver MBT Leopard 2RI di Natuna [Lembaga Keris]

Interaksi Presiden RI Joko Widodo dengan TNI makin intens belakangan ini. Usai mengunjungi Mabes TNI pekan lalu, presiden dijadwalkan melihat langsung latihan mereka.

Rencananya, pada 19 November nanti akan digelar latihan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) bersama-sama satuan khusus dari matra lain. Latihan ini melibatkan TNI AL dan TNI AU.

Latihan itu rencananya akan ditinjau langsung Presiden Joko Widodo,” ujar KSAD Jenderal Mulyono, Minggu (13/11/2016).

Pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) terus mengasah kemampuan tempur mereka. Kali ini, TNI AD mengelar latihan di Laut Natuna. Unjuk kekuatan itu untuk menunjukkan kepada dunia kehebatan militer Indonesia.

Kemarin (13/11), Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo didampingi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Mulyono meninjau langsung puncak latihan taktis antar kecabangan (Lattis Ancab) itu di Tanjung Datuk, Pulau Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Kedua pimpinan militer itu menaiki Tank Angkut M113 yang pengemudi dan petembaknya diawaki Kowad. Peninjauan bergerak dari titik tinjau sampai ke sasaran di Pulau Pendek yang diskenarionakan sebagai tempat musuh.

Jenderal Gatot mengapresiasi latihan tempur di Laut Natuna. Dia juga merasa bangga terhadap seluruh prajurit yang terlibat dalam latihan. “Semoga berjalan sukses, lancar dan aman,” terang dia. Dengan latihan itu, prajurit akan semakin terlatih dan hebat di medan tempur.

Sementara itu, KSAD Jenderal Mulyono menyatakan, Lattis Ancab 2016 itu dilakukan agar unsur pimpinan tingkat brigade mampu melaksanakan prosedur hubungan komandan dan staf dalam suatu operasi tempur. “Serta mengasah keterampilan dan profesionalisme prajurit dalam hubungan satuan,” terang dia.

Seperti manuver serangan, pemindahan pasukan dalam situasi taktis, kerjasama infanteri dan tank (KSIT), memberikan bantuan tembakan kepada satuan manuver, melaksanakan penembakan sasaran udara, dan mampu melaksanakan implementasi hukum HAM dan Humaniter.

Latihan tempur yang itu melibatkan prajurit dari satuan Brigif 13/1 Kostrad. Yaitu, Yonif Raider 303/SSM dan Yonif Raider 323/BP dengan perkuatannya.

Seperti, Yonif Para Raider 501/BY, Yonif Para Raider 432/K, Grup 3/Sandha Kopassus, Yonif Mekanis 201/JY Kodam Jaya, Yonkav 1/BCC, Yon Armed 9/155/GS/P, Yon Armed 10/105, Yon Armed 10/Astros, Yon Armed 13/76/TRK, Yonarhanud 1/PBC, Yonzipur 9/LB, Yonbekang 1/TBY, Yonkes 1/YKU, Denpal Kostrad, Denhub Kostrad, Denpom Kostrad, Jet Ski dan Sea Raider Yonif 136/TS, Yonif Mekanis 412, Yonif Mekanis 413, Heli Puspenerbad, satuan Bantuan Administrasi (Banmin) dan di dukung oleh Satgas Intel serta Satgas Teritorial.

Menurut Mulyono, latihan tahun ini melibatkan 3.551 prajurit dari berbagai kecabangan yang ada di TNI AD dan mengerahkan alutsista untuk mendukung pelaksanaan latihan.

Alutsista yang dikerahkan dalam latihan ini, diantaranya, Tank Leopard, Tank AVLB, Tank ARV, Ranpur Marder, Ranpur M 113 A1, Ranpur Anoa, Meriam 23mm/GB, Meriam 76 mm, Meriam 105 mm, Meriam 155 mm, Roket Astros, Helly MI 35, Helly MI 17, Helly Bel 412 dan Mortir 81.

Mulyono menyatakan, peserta latihan jangan cepat berpuas diri dengan apa yang sudah dicapai. Dia mendorong prajurit agar lebih fokus dan semangat dalam menghadapi latihan berikutnya. “Mereka akan menghadapi latihan gabungan.” (jpg)
 

  Fajaronline  

Minggu, 13 November 2016

Latihan PPRC Diharapkan Berbeda Skenario

Ribuan Prajurit TNI Lattis Ancab di Natunahttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3HkAkySSSOV6YAUnoJFwSazqQVGASaBOj2ycS063AXu02jo4z_LG-n9vj013CA-LkXZQiBgVSg0rzdVxeqbSzbUv-YP7lbtto90SFQ0O875ytHDQq9ONY2JukJHpskZ0AOp8-SBlM3rm_/s1600/MBT+L2RI+Ancab+2016+08a.jpgMBT Leopard 2RI mengaum di Natuna [Dispenad]

Sebanyak 3.551 prajurit dari berbagai kecabangan yang ada di TNI AD ikut dalam Latihan Taktis Antar Kecabangan (Lattis Ancab) TNI AD Tahun 2016 yang dilaksanakan di Tanjung Datuk, Natuna sejak pertengahan Oktober lalu hingga latihan puncaknya Sabtu (12/11).

Selain ribuan personil TNI AD juga mengerahkan ratusan alutsista untuk mendukung pelaksanaan Lattis Ancab yang merupakan latihan puncak dari program latihan yang dilaksanakan TNI AD dengan menggunakan metode drill tempur.

Latihan disaksikan langsung Panglima TNI Jendral TNI Gatot Nurmantyo yang didampingi Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Mulyono beserta pejabat teras TNI AD lainnya.

Pada latihan kali ini dilaksanakan pada tingkat Brigade dalam bentuk Brigade Tim Pertempuran melalui penyelenggaraan operasi tempur yang didukung Operasi Intelijen dan Operasi Teritorial, terutama dalam melaksanakan prosedur operasi serangan khususnya dalam pengerahan dan penggunaan alusista.

Latihan tersebut juga sebagai bahan evaluasi kemampuan operasi satuan - satuan TNI AD.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlia2jzZydmNCIlf6oveSaugoF0q0j7O6UAvO_Gf6CD4wXnM8Ngh0Oqp0Y6lE6vm3VUp7C2DN5FUu4Na-rXsdrLG32Lzu5MlAuVqgWLRcUYlQJWrHE4skk8_CTiRBX_YtCnXSpABQ-kJxl/s1600/mi-17-tni-ad-di-natuna-tni.jpgTujuan latihan dimaksudkan agar unsur pimpinan tingkat Brigade mampu melaksanakan prosedur hubungan komandan dan staf dalam satuan operasi tempur, mengasah kemampuan dan profesionalisme prajurit. Tidak hanya itu latihan juga diharapkan prajurit mampu melaksanakan implementasi hukum HAM dan Humaniter.

Pelatihan melibatkan berbagai satuan prajurit dari satuan Brigif 13/1 Kostrad Yonif Raider 303/SSM, Yonif Raider 323/BP dengan diperkuat unsur Yonif para Raider 501/BY, Yonif para Raider 432/K, Grup 3/Sandha Kopasus, Yonif Mekanis 201/JY Kodam Jaya, Yonkav 1/BCC, Yon Armed 9/155/GS/P, Yon Armed 10/105, Yon Armed 10/Astros, Yon Armed 13/76/TRK, Yonarhanud 1/PBC, Yonzipur 9/LB, Yonbekang 1/TBY, Yonkes 1/YKU, Denpal Kostrad, Denhub Kostrad, Denpom Kostrad, Jet Ski dan Sea Raider Yonif 136/TS, Yonif Mekanis 412, Yonif Mekanis 413, Heli Puspenerbab, Satuan Bantuan Administrasi (Banmin) dan didukung oleh Satgas Intel serta Satgas Teritorial.

Dalam Ancab mengerahkan Alusista yaitu, Tank Leopard yang juga pertama kali di uji tembakkan sejak dibeli Indonesia beberapa waktu lalu, Tank AVLB, Tank ARV, Ranpur Marder, Ranpur M 113 A1, Ranpur Anoa, Meriam 23mm/GB, Meriam 76 mm, Meriam 105 mm, Meriam 155 mm, Roket Astros, Helly MI 35, Helly MI 17, Helly Bel 412 dan mortir 81.

Puncak acara latihan diawali dengan aktraksi terjun payung dari Kopasus dan diiringi oleh berbagai kesatuan lainya dari TNI AD, latihan disamping disaksikan warga Natuna secara langsung nampak hadir Bupati Natuna Hamid Rizal.

Dalam sekenario latihan Pulau Pendek berhasil dibombardir sebagai sasaran target, penyerangan berhasil dikuasai para TNI AD baik melalui udara, darat dan laut.

Usai menyaksikan latihan, Panglima TNI Jendral TNI Gatot Nurmantyo dalam arahannya mengapresiasi kegiatan latihan tersebut.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhyxyFSXdFQBs4eOc9bwu0gJ6Mw3Kfv76XtrDn5wSpYl73MV9yprEambx4zBfqjQ-BJUZdpNmVwsbgNQy869nkLsztz9vvwoV1T17mIV38TDV0mEw2O_heqasqqTDXRD42lB0sGG4h-Zk-a/s1600/tni-ad-gelar-latihan-taktis-antar-kecabangan-di-pulau-natuna.jpg"Saya mengucapkan selamat kepada Kepala Staf TNI Angkatan Darat beserta pejabat teras yang ada atas suksesnya dan terselenggaranya latihan kali ini, namun memang masih perlu untuk tetap ditingkatkan" katanya.

 Latihan PPRC 

Dalam arahannya Panglima juga memaparkan berbagai sekenario untuk latihan PPRC mendatang yang recananya juga dilaksanakan di Natuna.

"Saya berharap nanti pada latihan PPRC dilaksanakan skenario berbeda, latihannya belum ditentukan tanggal berapa dan kapan ". kata Panglima.

Ia juga meminta Bupati Hamid Rizal membantu untuk suksesnya kegiatan PPRC nanti dengan cara mensosialisasikan kepada masyarakat dan TNI AD akan memfasilitasi dan akan memobilisasi seberapa banyak pun warga Natuna yang ingin menyaksikan.

"Saya minta nanti warga masyarakat dapat sama-sama disini ikut hadir menyaksikan latihan tersebut, tujuannya adalah agar warga masyarakat pulau Natuna dapat merasakan kehadiran kita untuk menjaga dan melindungi kedaulatan negara khususnya Natuna ini," katanya.

Usai arahan dan evaluasi Panglima TNI didampingi Kasad Jenderal TNI Mulyono meninjau langsung kawasan Teluk Buton serta pergi menyemberang ke pulau Pendek menggunakan Ranpur M 113 untuk memberikan selamat dan sukses secara simbolis kepada semua prajurit yang terlibat dalam latihan tersebut.

  ★ Antara  

Jumat, 11 November 2016

Latma Pasukan Operasi Khusus TNI dan RTAF

KRIS-I 2016Asisten Operasi (Asops) Panglima TNI Mayjen TNI Agung Risdhianto, M.B.A., diwakili Wadanjen Kopassus Brigjen TNI Teguh Muji Angkasa selaku Komandan Latihan didampingi Director Of Special Operations Division Counter Terrorism Operations Center (CTOC) Colonel Voradorn Vorakitti Dechakorn, memimpin upacara pembukaan Latihan Bersama antara Pasukan Operasi Khusus TNI dengan Pasukan CTOC Royal Thai Armed Force (RTAF), dengan sandi KRIS-I 2016, bertempat di Lapangan Upacara Stand By Force, PMPP TNI, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Jum’at (11/11/2016).

Asops Panglima TNI Mayjen TNI Agung Risdhianto, M.B.A dalam amanatnya yang dibacakan Wadanjen Kopassus Brigjen TNI Teguh Muji Angkasa mengatakan bahwa, masyarakat dunia sedang menghadapi permasalahan serius tentang keamanan terkait dengan aksi terorisme. “Aksi ini telah menimbulkan berbagai dampak yang merugikan bagi eksistensi sebuah Negara, dan upaya penyebaran ideologi mereka yang berorientasi kepada penanaman pengaruh terhadap para simpatisannya, perlu penanganan yang menyeluruh,” katanya.

Lebih lanjut Asops Panglima TNI menyampaikan bahwa, melalui latihan bersama antara TNI dengan RTAF, kedua Angkatan Bersenjata akan mewujudkan kebersamaan untuk dapat menciptakan ketrampilan pasukan khusus yang prima dan siap setiap saat. “Sinergitas antara TNI dan RTAF kali ini menandai adanya hubungan militer yang lebih baik antara kedua bangsa, dan interaksi yang terjalin antara prajurit kedua negara diharapkan dapat menciptakan semangat persaudaraan dan pertemanan yang sejati,” ujarnya.

Menurut Mayjen TNI Agung Risdhianto, sejarah persahabatan antara Indonesia dan Thailand telah terjalin sejak dahulu, Thailand adalah salah satu rekan terpenting bagi Indonesia di kawasan Asia Tenggara. “Latihan bersama ini merupakan sarana yang sangat baik dalam rangka meningkatkan hubungan kita, khususnya kerja sama militer bidang penanggulangan terorisme,” katanya.

Mengakhiri amanatnya, Asops Panglima TNI Mayjen TNI Agung Risdhianto, M.B.A., mengharapkan agar selama pelaksanaan latihan, kedua kesatuan khusus Indonesia dan Thailand dapat meningkatkan dan mengembangkan metode, strategi, teknik, taktik dan pendekatan dalam operasi penanggulangan terorisme.

Sasaran latihan tersebut adalah sarana untuk meningkatkan interoperabilitas kedua kesatuan khusus dalam menghadapi dan menumpas aksi terorisme bersama, serta hubungan persaudaraan kedua kesatuan khusus makin erat dan menjadi katalisator dalam mencapai tujuan latihan dengan sukses,” pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Komandan Kontingen Thailand Colonel Voradorn Vorakitti Dechakorn mengatakan antara lain bahwa, seiring dengan meningkatnya kualitas ancaman terorisme dewasa ini, maka satuan-satuan penanggulangan teror di seluruh dunia, khususnya Indonesia telah menjalin hubungan erat, dalam bentuk latihan yang direncanakan, disiapkan dan dilaksanakan secara detail dan berkelanjutan. “Apabila terjadi ancaman terorisme yang mengancam kedaulatan dan melibatkan kepentingan kedua belah pihak, maka satuan-satuan penanggulangan teror di kedua negara dapat dikerahkan dengan cepat dan bekerjasama dengan baik,” ujarnya.

Dengan terselenggaranya Latma KRIS-I 2016 ini, diharapkan menjadi momentum yang baik bagi kedua negara, untuk menyelenggarakan latihan bersama yang berkelanjutan pada tahun-tahun berikutnya,” kata Colonel Voradorn Vorakitti Dechakorn.

Latma KRIS-1 2016 dengan tema “Penanggulangan Terorisme” akan dilaksanakan mulai tanggal 11 sd 18 November 2016, dan merupakan kali pertama bagi Pasukan Khusus TNI dan RTAF, dengan melibatkan unsur Pasukan Operasi Khusus TNI meliputi Satuan-81 Korps Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD, Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) TNI AL dan Satuan Bravo ’90 Korpaskhas TNI AU, serta CTOC Royal Thai Armed Force.

Adapun tujuan latihan adalah untuk meningkatkan kerja sama, interoperabilitas dan kesepahaman pasukan TNI dengan RTAF CTOC di dalam menanggulangi aksi terorisme yang melibatkan kedua Negara, dengan materi latihan meliputi Subject Matter Expert Exchange (SMEE) dan Table Top Exercise (TTX) serta Manuver Lapangan.

Materi latihan SMEE, diantaranya analisa skenario latihan termasuk analisa dan Standar Operating Procedure (SOP); pengembangan skenario dan analisa kekuatan kawan dalam pelaksanaan latihan. Sedangkan materi latihan TTX meliputi perumusan; penganalisaan dan olah yudha cara bertindak; pengambilan keputusan cara bertindak yang terbaik; merumuskan bersama konsep umum operasi; pengujian rencana penanggulangan teror gabungan melalui metoda TTX; dan pelaksanaan komando dan kendali taktis.

https://cdn.sindonews.net/photos/2013/09/14/3887/13046_highres.jpgIlustrasi latihan anti teror beberapa waktu yang lalu [sindo]

Sedangkan Manuver Lapangan meliputi Field Integration Training (FIT) dan Full Mission Profile (FMP). Materi Manuver Lapangan secara teknis diantaranya, mobilisasi udara; fast roping; rapelling; method of entry; penembak runduk dan explosive ordonance disposal (penjinak bahan peledak. Secara taktis diantaranya, pembebasan sandera di gedung; raid penghancuran; perebutan cepat; patrol pengintaian jarak jauh; penyekatan dan evakuasi sandera.

Materail yang digunakan dalam Latma KRIS-1 diantaranya Combat Shirt; Overall; Senjata MP-5, Shotgun, AX-338; Amunisi Bahan Peledak; Alat Optik; Alat Komunikasi berupa Handy Talkie dan Repeater; Alat Perlengkapan Fast Roping dan Rapelling; Peta (Ciawi 37/XVIII-A); GPS, Kompas dan Navigasi; serta alat perlengkapan perorangan lainnya.

Sementara, Alutsista yang dikerahkan meliputi 1 (satu) unit Helly Super Puma; Kendaraan Taktis diantaranya, 2 (dua) Bus Master; 3 (tiga) Kendaraan Hilux; 1 (satu) Kendaraan Tangga; 1 (satu) Kendaraan Penjinak Bahan Peledak; 3 (tiga) Unit Truk; 1 (satu) Unit Ambulance dan 3 (tiga) Unit Motor. Jumlah pelaku yang terlibat sebanyak 87 orang, terdiri dari 44 Pasukan Anti Teror TNI dan 43 Pasukan CTOC Royal Thai Armed Forces serta melibatkan 78 personel TNI sebagai pendukung.

Hadir pada upacara pembukaan Latma KRIS-I adalah Brigjen TNI Saptono Adji, Brigjen TNI Edison Simanjuntak, Paban VII/Latma Sops TNI Kolonel Inf Achmad Budi Handoyo dan para pejabat Mabes TNI, TNI AD, TNI AL dan TNI AU. (Am)
 

Pemerintah Prioritaskan 7 Alat Pertahanan dan Keamanan Dalam Negeri

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgRzV3O2h6dZ7dLGjzuJoNltCuSERxnQdj4A-oXTFx41MX4A2-ZKmIKEZxk90lEnvHLGhXhkXT6ZhKnDe2dPfxPMLBZ461unVSqgkRSUs5fUJ3ADf9RoO58uBkvzioqu6TdS-LaS2LJo_vF/s1600/peluncuran-kapal-selam-ke-2-indonesia-oleh-dsme-2+%2528kaskus+militer%2529.jpggKRI 404 Trisula [TNI AL]

Pemerintah memiliki 18 produk alat perlengkapan untuk pertahanan dan keamanan (alapalhankam) yang sedang dikembangkan industri pertahanan dalam negeri. Dari 18 peralatan itu, pemerintah punya tujuh alpalhankam prioritas.

18 kelompok alpalhankam itu sendiri terdiri dari kendaraan tempur, MKB, propelan, roket, senjata, kapal perang atas air, kapal selam, CMS, pesawat tempur, pesawat angkut, UAV, radar, satelit, peluru kendali, bom, alat komunikasi, almatsus Polri, dan nonalutsista.

"Setelah dilihat tujuh itu, ketemulah prioritas, seperti propelan, roket, rudal, medium tank, radar, kapal selam, pesawat tempur," kata Ketua Bidang Alih Teknologi dan Ofset Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Laksamana Muda Purn Rachmad Lubis di Kementerian Pertahanan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (10/11/2016).

Tujuh kelompok alapalhankam ini menjadi prioritas karena kegunaannya. Pemerintah, kata dia, memandang jauh ke depan, untuk menguasai alapalhankam dengan teknologi tinggi ini.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8o-S3nybqjaM3_TmGXqQtW6es0fjD5KLdPtXnH_ctpCcM2zCFAKmwgkjCDQw1tAi4YZAQ9YI2_iFCgXQ-XP2WzfBpLD_W0qYvwoiLT4jzV0fIytUntGVcrFQFtwoQ47lHNrbdFWH6i6V6/s1600/SIGMA_10514_naval_frigate.jpgProgram prioritas ini akan dipenuhi dengan cara pengadaan luar negeri. Kata Rachmad, dalam proses pemenuhannya, ada sistem ofset yang dimanfaatkan pemerintah untuk 'mencuri' ilmu pembuatan teknologi itu.

Sehingga, industri pertahanan dalam negeri bisa membuat alapalhankam ini secara mandiri tanpa ketergantungan 100 persen terhadap pihak lain. Rachmad mencontohkan pembelian kapal selam yang dilakukan ke Korea Selatan.

Dua kapal selam yang dibeli, dibuat dan dirakit di Korea Selatan. Tapi, pemerintah mengirimkan sejumlah teknisi ke Korea Selatan untuk mempelajari perakitan dan pembuatannya.

Sementara, satu kapal selam akan dirakit di Indonesia. "Itu kita bangun dalam bentuk potongan untuk nanti kita rakit di Indonesia," kata dia.

Selain pengadaan luar negeri, program prioritas ini juga dipenuhi dengan sistem joint venture dan joint development. "Dan juga melalui litbang nasional. Selain program prioritas itu ada program rutin yang pengadaannya di dalam negeri," pungkas dia. (REN)

 ♖ Metrotvnews  

Kamis, 10 November 2016

Mabes TNI Akan Bangun Artileri Pertahanan Udara

Di NTThttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhhfUJ3W4h7YwKFpEKwg-VYY1OPmWhT1ydivKNQtSL_D1gGJ9l96-ag9G844b3OGk8QSE4kwGNCrHZD9_Fx7vzQhFNfp9aEGHBD_EFasYw17ZYaz9BQwwaaYaG4dumIMU7FkQNf2wzXLZ8e/s280/EZIO-FORMIL_3_.jpgIlustrasi arhanud TNI AD di Natuna [enzio]

Komandan Korem 161/Wirasakti Kupang Brigjen TNI Heri Wiranto mengatakan pada 2017 Mabes TNI akan membangun Markas Batalyon Artileri Pertahanan Udara di wilayah Camplong, Kabupaten Kupang, NTT.

"Itu merupakan salah satu rencana strategis TNI untuk membangun satu batalyon di Kupang dalam rangka mengamankan wilayah perbatasan ini," katanya kepada wartawan di Kupang, Jumat (11/11/2016).

Pembangunan artileri pertahanan udara tersebut, menurutnya, merupakan sebuah langkah dari pemerintah untuk mengamankan wilayah pertahanan udara sudah juga menjadi perhatian dari pemerintah pusat.

Pembangunan artileri pertahanan udara tersebut, menurutnya, sangat diperlukan mengingat NTT berbatasan dengan wilayah udaranya Timor Leste serta Australia.

"Alutista yang akan ditaruh di Camplong juga adalah alutista yang sudah sangat moderen, yang tentunya yang mampu untuk menjatuhkan pesawat-pesawat musuh jika terbang di atas wilayah Indonesia," tambahnya.

Pembangunan artileri pertahanan udara di Camplong tersebut juga bukan berarti bahwa saat ini Indonesia, khususnya wilayah Indonesia Timur sedang dalam ancaman dari musuh, namun sebagai bagian dari kesiapan TNI dalam menjaga wilayah Indonesia.

"Kita harus siapkan payung sebelum hujan. Artinya pertahanan udara harus disiapkan terlebih dahulu, agar nanti kalau ada apa-apa kita kelabakan," ujar komandan berbintang satu itu.

TNI pada 2017 juga akan membangun markas kavaleri yang kekuatannya mencapai satu setingkat kompi di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste.

"Untuk komando kavaleri nantinya alutista yang disiapkan berupa tank-tank yang memang disiapkan untuk pertempuran darat," kata Heri Wiranto.

 ♖ Suara  

Anggota TNI yang Hilang di Kawasan Keramat Ditemukan

Usai Upacara Adathttp://assets5.jpgm.co.id/picture/normal/20161105_075759/075759_874653_tni_cepos.jpgIlustrasi. [Cenderawasih Pos]

Tiga hari hilang, anggota Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Indonesia-Papua New Guinea, Yonif 407/Padmakusuma, Pratu Karyono, ditemukan dalam keadaan masih hidup.

Karyono yang hilang saat patroli perbatasan di Patok MM13, Merauke, pada Senin (31/10) sekitar pukul 13.00 WIT itu, ditemukan Kamis (3/11) sekitar pukul 15.00.

Kepada Cenderawasih Pos, Wadanyon 407/PK Mayor Inf. Ari Timor membenarkan jika anggotanya yang hilang itu berhasil ditemukan. “Alhamdullillah, anggota kami yang hilang sudah ditemukan," kata Ari, Jumat (4/11).

Pratu Karyono berhasil ditemukan sekitar 2 km dari tempat hilangnya ke arah Selatan atau ke arah Kali Torasi. Ari Timor memastikan bahwa anggotanya kesasar di dalam hutan.

Sampai sekarang kami belum mintai keterangan apa penyebab ia kesasar karena kondisinya masih lemah. Namun tadi malam dan tadi dia sudah bisa makan,” tambahnya.

Sebelum dilaporkan hilang, Pratu Karyono menurut Ari menunaikan salat tidak jauh dari tempat rekan-rekannya beristirahat yaitu hanya sekitar sepuluh sampai 20 meter.

Secara logika, jarak 10-20 meter tersebut sebetulnya masih dekat dan masih kedengaran ketika bicara atau berteriak. Tapi kami belum tahu kenapa sampai bisa kesasar,” tuturnya.

Pencarian terhadap Pratu Karyono ini menurut Ari juga melibatkan masyarakat adat dari Kampung Yakyu, Kampung Kondo dan Kampung Rawa Biru. “Pagi kemarin, masyarakat melakukan upacara adat dan siangnya kami sudah bisa menemukan Pratu Karyono,” tambahnya.

Kerja sama dengan tokoh-tokoh adat ini diakuinya sangat baik. “Atas nama Danyon dan Danrem, kami menyampaikan terima kasih kepada semua yang telah membantu khususnya masyarakat adat dalam melakukan pencarian sehingga anggota kami ini berhasil ditemukan,’’ pungkasnya. (ulo/nat/adk/jpnn)

 ♖ JPNN  

Selasa, 08 November 2016

TNI Tertarik dengan Mobile Mortar Complex

Produk UkrOboronProm, Ukraina Mobile mortar complex UKROBORONPROM (Alamy.com)Mobile Mortar Complex 120 [alamy] ☆

Delegasi UKROBORONPROM SE “Ukroboronservice” Ukraina bertemu dengan perwakilan dari Tentara Nasional Indonesia, dalam pameran internasional Indo Defence 2016, di Jakarta. UKROBORONPROM menunjukkan mobile mortar system terbaru (Mobile Mortar Complex 120) kepada Indonesia dan kedua pihak membahas kemungkinan pengiriman di masa depan untuk Angkatan Darat Indonesia. Ukroboronservice juga menjelaskan tentang produk lain dari perusahaan mereka dan kemampuan produksi kepada Indonesia.

Proyek-proyek bersama dan pasokan produk militer dalam negeri untuk Tentara Nasional Indonesia juga dibahas dalam pertemuan antara kepala Delegasi UOP Volodymyr Kostrytskyy dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Indonesia, Laksamana Madya Widodo.

UkrOboronProm” bermaksud secara signifikan untuk memperdalam kerjasama dengan Indonesia di berbagai bidang. Perkembangan Ukraina di bidang senjata, kendaraan lapis baja dan pesawat mendapat perhatian besar di pameran tersebut,” ujar Volodymyr Kostrytskyy.

Pada Indo Defence 2016, UOP juga bertujuan untuk melakukan dialog aktif dengan perwakilan dari negara-negara lain, pengalaman dan pertukaran teknologi, substitusi impor untuk meningkatkan kecepatan pengerjaan program.

Indo Defence 2016 menampilkan berbagai macam persenjataan dan peralatan militer yang digunakan oleh Angkatan Darat, Udara dan Laut di Asia Tenggara. Pameran ini didukung oleh Kementerian Pertahanan Indonesia dan digunakan industri pertahanan sebagai tempat untuk presentasi, pelatihan, komunikasi dan bisnis, di mana ada lebih dari 20.000 pengunjung profesional dan lebih dari 670 perusahaan dari 49 negara, menunjukkan peralatan dan sistem militer terbaru mereka. [ukroboronprom.com.ua]

  Garuda Militer  

Senin, 07 November 2016

Alasan AS Ingin Tingkatkan Latihan Militer dengan TNI

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2p1Ji2qt9aqd3UPj5PqlwdVXWZB7W0eIk7liaFh8DqBVvZtLWKRhrVEd8dOMPoaiYCHvrhi5hOXUmhCHm01rKpMLsZChLuBQWuK0t-VdFVOTKSyFd-Ce-vJdm-FrDWpS4hp4PPiBIgayL/s320/image86-e1439091001708.jpgSpecial Boat Exercise, Latihan Bersama Kopaska [TNI AL] 

Amerika Serikat berkeinginan untuk terus melanjutkan hubungan militer-ke-militer dengan Indonesia. Bahkan hubungan ini perlu diperkuat dengan peningkatan latihan bersama dan kerja sama-kerja sama lainnya.

Demikian menurut Laksamana Muda Donald D. Gabrielson, Komandan Grup Logistik Armada Militer AS di Pasifik Barat. “Hubungan militer-ke-militer Amerika Serikat dan Indonesia selama bertahun-tahun berjalan dengan baik. Setiap tahun, kami mengadakan kurang lebih 200 kegiatan dengan Tentara Nasional Indonesia. Saya kira kerja sama seperti ini perlu ditingkatkan lagi demi memperkuat hubungan kedua negara,” kata Gabrielson saat ditemui di sela acara pameran “Indo Defence 2016” yang diselenggarakan Kementerian Pertahanan Indonesia di Jakarta International Expo, 3 November 2016.

Gabrielson mengingatkan, salah satu kerja sama rutin yang digarap militer AS dan TNI adalah Kerja Sama Kesigapan dan Pelatihan Maritim (CARAT), yang sudah 22 kali dilakukan sejak 1995. Terakhir kali berlangsung pada 3-8 Agustus 2016.

CARAT adalah latihan rutin antara militer AS dan TNI Angkatan Laut yang mencakup sejumlah bidang, di antaranya peperangan anti-kapal selam, operasi tempur terbatas, dan patroli maritim. Di ajang itu, personel militer kedua negara juga bertukar pikiran dalam seminar dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial. Lebih dari 500 personel militer AS terlibat dalam program CARAT di Indonesia.

Program CARAT yang terus berlanjut ini membuktikan seriusnya komitmen kami dalam mengembangkan hubungan dengan para mitra strategis di kawasan seperti Indonesia. Angkatan Laut kami bekerja sama dengan sembilan mitra di Asia Selatan dan Tenggara untuk berbagai prioritas keamanan maritim, memperkuat kemitraan maritim, sekaligus saling menempa kemampuan dengan para mitra,” kata Gabrielson.

Selain CARAT, dia juga mengungkapkan ada latihan militer lain yang juga melibatkan kedua negara, yaitu Southeast Asia Cooperation and Training (SEACAT). Latihan ini melibatkan AS, Brunei Darusallam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand.

 Tiga Prioritas 

Gabrielson mengingatkan bahwa penguatan kemitraan militer AS dengan Indonesia ini didasari tiga isu yang menjadi prioritas bagi kedua negara saat ini.

Kapal perang AS USS CoronadoKapal Perang Pesisir USS Coronado (U.S. Navy photo by Petty Officer 2nd Class Joshua Fulton/Released)

Isu pertama adalah kerja sama tanggap darurat atas bantuan kemanusiaan di wilayah bencana alam. Mengingat banyak wilayah di Indonesia yang rentan dengan bencana alam, maka kami selalu siap mengerahkan kapal dan personel bila dibutuhkan pihak berwenang Indonesia untuk memberi dukungan logistik dan evakuasi,” kata Gabrielson.

Isu penting kedua adalah baik AS dan Indonesia sama-sama berkepentingan dalam melindungi wilayah udara dan laut di kawasan, sehingga tetap berjalan aman dan damai. Ini termasuk kerja sama dalam menangani penyelundupan manusia, kerusakan ekologi, dan kejahatan lintas-negara lainnya,” lanjut laksamana yang saat ini bertugas di Singapura tersebut.

Selain itu, isu ketiga yang jadi prioritas bagi kerja sama militer kedua negara adalah bersama-sama menghadapi ancaman ekstremisme dan terorisme. “Tantangan-tantangan bersama seperti itulah yang menjadi dasar bagi kami untuk terus memperkuat hubungan dengan para mitra di kawasan, termasuk dengan Indonesia,” kata Gabrielson.

Demi komitmen itulah, AS juga mengirim kapal perang ke Asia Tenggara untuk menjalani tugas secara berkala. Pada 16 Oktober lalu, militer AS mengirim USS Coronado untuk bertugas di Asia Tenggara dengan basis di Singapura.

Kapal ini beroperasi dari Singapura untuk bekerja sama dan berlatih dengan para mitra Angkatan Laut di kawasan ini,” kata Gabrielson. USS Coronado merupakan kapal perang tipe LCS (Kapal Perang Pesisir), yang termasuk salah satu kapal tercanggih di Armada ke-7 Angkatan Laut AS.

Menurut Gabrielson, saat ini AS baru mengirim satu kapal LCS ke Asia Tenggara yang bertugas selama periode tertentu. Direncanakan mulai 2018, akan ada empat kapal LCS yang dikerahkan ke kawasan.

  VIVAnews