Tampilkan postingan dengan label Latma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Latma. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 November 2016

Latma Pasukan Operasi Khusus TNI- CTOC RTAF Ditutup

Prajurit tengah beraksi di ketinggian gedung. 

D
eputy CG Counter Terrorism Operations Center (CTOC) RTARF Mayor Jenderal Suphot Malaniyom selaku Komandan CTOC didampingi Wadanjen Kopassus Brigjen TNI Teguh Muji Angkasa selaku Komandan Latihan yang mewakili Asops Panglima TNI Mayjen TNI Agung Risdhianto, M.B.A., memimpin upacara penutupan Latihan Bersama antara Pasukan Operasi Khusus TNI dengan Pasukan CTOC Royal Thai Armed Force (RTAF), dengan sandi KRIS-I 2016, bertempat di Lapangan Upacara Stand By Force, PMPP TNI, Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Dalam sambutannya Deputy CG CTOC RTARF Mayor Jenderal Suphot Malaniyom menyampaikan ucapan terimakasih atas diselenggarakannya latihan bersama yang dilaksanakan antara militer Thailand dengan militer Indonesia dalam latihan menghadapi permasalahan serius tentang keamanan terkait dengan aksi terorisme.

Latihan tersebut kita dapat bertukar pengalaman, pengetahuan dan taktis dalam menanggulangi aksi terorisme dan menjalin hubungan Bilateral antar kedua negara khususnya Thailand dan Indonesia,” kata Mayor Jenderal Suphot Malaniyom.

Lebih lanjut Mayor Jenderal Suphot Malaniyom mengatakan bahwa, latihan bersama tersebut telah menghasilkan terobosan baru dalam memerangi aksi terorisme yang ada di dua negara dalam hal ini Thailand dan Indonesia. “Saya berharap latihan bersama ini dapat dilanjutkan tahun depan dan kami menantikan kehadiran militer Indonesia untuk berlatih bersama di Thailand,” ucapnya.

Sementara itu, Asops Panglima TNI Mayjen TNI Agung Risdhianto, M.B.A., dalam amanatnya yang dibacakan Wadanjen Kopassus Brigjen TNI Teguh Muji Angkasa menyampaikan bahwa, pasukan khusus dari TNI dan CTOC telah berlatih bersama dalam suasana penuh persahabatan. Pada latihan bersama yang pertama kalinya ini, telah terjalin kesepahaman prosedur, peningkatan keterampilan dan bertambah eratnya hubungan antar prajurit. Hal tersebut menunjukkan tercapainya tujuan dan sasaran latihan yang telah digariskan, terlebih lagi terwujudnya zero accident yang merupakan poin utama dalam pelaksanaan latihan.

Kepada seluruh peserta latihan dan para pendukung telah dapat menunjukkan dedikasi tinggi dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya guna keberhasilan latihan ini. Atas nama Panglima TNI, saya ucapkan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas kerja keras prajurit kedua angkatan bersenjata,” kata Asops Panglima TNI.

Menurut Mayjen TNI Agung Risdhianto, Latma KRIS-I/2016 adalah langkah awal kerja sama militer kedua negara, khususnya bagi TNI dan RTARF dalam penanggulangan terorisme. Kejahatan terorisme sebagai salah satu bentuk kejahatan transnasional yang terorganisir (transnational organized crime) telah berkembang skala maupun metodanya. Hal tersebut menuntut bentuk kerja sama antar negara dalam rangka menanggulanginya.

Lebih lanjut Asops Panglima TNI menuturkan bahwa, latihan bersama yang baru saja selesai dilaksanakan merupakan wujud hard approach dalam usaha menanggulangi aksi terorisme. Kesempatan berlatih bersama bagi pasukan khusus kedua angkatan bersenjata tersebut adalah wujud nyata pengembangan taktik, teknik dan prosedur sebagai upaya membangun interoperabilitas. “Latihan ini dapat dilaksanakan secara berkesinambungan dengan tujuan menjawab ancaman dan tantangan bersama bagi kedua negara di masa yang akan datang,” ujarnya.

Latihan bersama ini merupakan sarana untuk meningkatkan hubungan kerja sama dan persahabatan antara Indonesia dengan Thailand. Saya ucapkan selamat jalan kepada mayjen Suphot beserta seluruh peserta dari RTARF CTOC kembali ke thailand. Semoga selamat sampai di tujuan dan sampaikan salam hormat saya kepada para kolega dan keluarga anda semua,” tandas Asops Panglima TNI Mayjen TNI Agung Risdhianto.

Kabidpeninter Puspen TNI
Letkol Laut (KH) Edys Riyanto, M.Si

  Poskota  

Selasa, 15 November 2016

[Foto] KRI Banda Aceh Tahan Kapal Ilegal

൬ Simulasi dari 'Boarding Excercise'Latihan bersama (latma) Asean Defence Ministry Meeting (ADMM) Plus FTX on Maritime Security Mahi Tangaroa 2016. 

tim-vbss-kri-bac-593-antara-5

Tim Visit, Board, Search, and Seizure (VBSS) KRI Banda Aceh-593 melakukan pencarian dan penyergapan awak dari kapal Braveheart yang diduga menyelundupkan barang ilegal di perairan Auckland, Selandia Baru, Senin (14/11). [Antara Jatim/M Risyal Hidayat/zk/16]
tim-vbss-kri-bac-593-antara-6

Kegiatan tersebut merupakan simulasi dari "Boarding Excercise" bagian dari latihan bersama (latma) Asean Defence Ministry Meeting (ADMM) Plus FTX on Maritime Security Mahi Tangaroa 2016 yang diikuti sekitar 13 negara. [Antara Jatim/M Risyal Hidayat/zk/16]
  Republika  

Minggu, 13 November 2016

Kepala Bakamla RI Terima Kunjungan Commissioner Australian Border Force

http://cdn.malangtoday.net/2016/11/Kepala-Bakamla-RI-Terima-Kunjungan-Commissioner-Australian-Border-Force-660x330.jpgKepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI Laksdya TNI Ari Soedewo, S.E., M.H. dengan didampingi Plt. Sekretaris Utama Bakamla RI merangkap Deputi Informasi Hukum dan Kerjasama Eko Susilo Hadi, S.H., M.H., Deputi Kebijakan dan Strategi Irjen Pol Drs. Satria F. Maseo, S.H., M.M., dan Deputi Operasi dan Latihan Laksda TNI Andi Achdar, menerima kunjungan Commissioner Australian Border Force (ABF) Mr. Roman Quaedvlieg, beserta rombongan di Kantor Pusat Bakamla, Jalan Dr. Sutomo No. 11 Jakarta Pusat, Kamis (10/11).

Kunjungan dilaksanakan dalam rangka penguatan kerjasama antara Bakamla RI dan ABF yang telah terjalin hingga saat ini. Beberapa hal yang dibahas antara lain tentang pembaruan konsep untuk Maritime Security Desktop Exercise (MSDE) yang akan datang, pembahasan tentang penyelenggaraan Senior Officials Meeting (SOM) tahun 2017, rencana pengadaan program pelatihan tentang Hukum Laut Internasional, dan program capacity building lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Bakamla juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Delegasi ABF atas kehadirannya dalam acara 12th Head of Asian Coast Guard Agencies Meeting (HACGAM) yang berlangsung Oktober lalu di Jakarta.

Ia juga berterima kasih atas kerjasama yang telah dibangun dalam peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) Bakamla dibidang kemampuan Bahasa Inggris melalui kursus bahasa di kantor Bakamla RI, pengadaan tes TOEFL, dan Pelatihan Bahasa Inggris di Queensland, Australia.

Selain itu, Kepala Bakamla RI juga menyampaikan apresiasi atas keberhasilan Operation Shearwater yang berlangsung bulan Mei lalu. Laksdya TNI Ari Soedewo berharap kerjasama sejenis dapat terus dilanjutkan.

  Malangtoday  

Sabtu, 12 November 2016

Latihan Bersama Angkatan Udara Indonesia-AS Ditutup

Cope West 2016Pesawat F/A-18D USMC dan pesawat F-16 TNI AU manuever di Manado [15wing.af.mi]

Latihan bersama Angkatan Udara Indonesia dan Amerika Serikat, dengan sandi Cope West, di Manado, Sulawesi Utara, ditutup.

Penutupan itu dilakukan Asisten Operasi Kasau Marsekal Muda TNI Barhim, dalam suatu upacara di Pangkalan TNI Angkatan Udara Sam Ratulangi (Lanudsri) Manado, Jumat (12/11).

"Latihan bersama Cope West dinyatakan ditutup," kata Bachim didampingi Mayor Jenderal Michael Compton dari Air National Guard Asistent to Compacaf.

Pada upacara penutupan tersebut Marsekal Muda TNI Barhim didampingi Mayor Jenderal Michael Compton melakukan pemeriksaan pasukan serta pelepasan tanda peserta kepada salah seorang anggota dari Indonesia dan Amerika Serikat.

Marsekal Muda TNI Bachim mengatakan latihan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan dan profesionalisme para penerbang serta crew pendukung dalam mengembangkan praktik dan teori dalam operasi udara. "Hal terpenting latihan ini merupakan ajang yang baik guna mempererat persahabatan dan memperkuat hubungan kedua angkatan bersenjata," katanya.

Ia mengatakan sikap profesionalisme dan komitmen yang tinggi dari seluruh peserta latihan dalam tugas yang diberikan telah menghasilkan dampak yang sangat baik pada keamanan selama latihan tanpa adanya insiden.

Di samping itu suasana yang akrab selama latihan ini, menimbulkan interaksi dan keterlibatan yang baik antar seluruh peserta telah memberikan hasil positif bagi kedua belah pibak.

Hari ini telah menyelesaikan semua program latihan yang telah direncanakan bersama. "Saya ucapkan selamat kepada seluruh peserta latihan atas kerja kerasnya telah melaksanakan latihan ini dengan baik," katanya.

Pada latihan bersama yang berlangsung dari 1-11 Novembsr 2016, melibatkan antara lain enam pesawat jet tempur F-18 milik Korps Marinir AS dan enam pesawat jet tempur F-16 TNI AU. Hadir dalam penutupan itu Sekretaris Daerah Provinsi Sulut Edwin Silangen, serta pejabat TNI, Polri dan sipil di provinsi itu.
 

  Republika  

Jumat, 11 November 2016

Latma Pasukan Operasi Khusus TNI dan RTAF

KRIS-I 2016Asisten Operasi (Asops) Panglima TNI Mayjen TNI Agung Risdhianto, M.B.A., diwakili Wadanjen Kopassus Brigjen TNI Teguh Muji Angkasa selaku Komandan Latihan didampingi Director Of Special Operations Division Counter Terrorism Operations Center (CTOC) Colonel Voradorn Vorakitti Dechakorn, memimpin upacara pembukaan Latihan Bersama antara Pasukan Operasi Khusus TNI dengan Pasukan CTOC Royal Thai Armed Force (RTAF), dengan sandi KRIS-I 2016, bertempat di Lapangan Upacara Stand By Force, PMPP TNI, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Jum’at (11/11/2016).

Asops Panglima TNI Mayjen TNI Agung Risdhianto, M.B.A dalam amanatnya yang dibacakan Wadanjen Kopassus Brigjen TNI Teguh Muji Angkasa mengatakan bahwa, masyarakat dunia sedang menghadapi permasalahan serius tentang keamanan terkait dengan aksi terorisme. “Aksi ini telah menimbulkan berbagai dampak yang merugikan bagi eksistensi sebuah Negara, dan upaya penyebaran ideologi mereka yang berorientasi kepada penanaman pengaruh terhadap para simpatisannya, perlu penanganan yang menyeluruh,” katanya.

Lebih lanjut Asops Panglima TNI menyampaikan bahwa, melalui latihan bersama antara TNI dengan RTAF, kedua Angkatan Bersenjata akan mewujudkan kebersamaan untuk dapat menciptakan ketrampilan pasukan khusus yang prima dan siap setiap saat. “Sinergitas antara TNI dan RTAF kali ini menandai adanya hubungan militer yang lebih baik antara kedua bangsa, dan interaksi yang terjalin antara prajurit kedua negara diharapkan dapat menciptakan semangat persaudaraan dan pertemanan yang sejati,” ujarnya.

Menurut Mayjen TNI Agung Risdhianto, sejarah persahabatan antara Indonesia dan Thailand telah terjalin sejak dahulu, Thailand adalah salah satu rekan terpenting bagi Indonesia di kawasan Asia Tenggara. “Latihan bersama ini merupakan sarana yang sangat baik dalam rangka meningkatkan hubungan kita, khususnya kerja sama militer bidang penanggulangan terorisme,” katanya.

Mengakhiri amanatnya, Asops Panglima TNI Mayjen TNI Agung Risdhianto, M.B.A., mengharapkan agar selama pelaksanaan latihan, kedua kesatuan khusus Indonesia dan Thailand dapat meningkatkan dan mengembangkan metode, strategi, teknik, taktik dan pendekatan dalam operasi penanggulangan terorisme.

Sasaran latihan tersebut adalah sarana untuk meningkatkan interoperabilitas kedua kesatuan khusus dalam menghadapi dan menumpas aksi terorisme bersama, serta hubungan persaudaraan kedua kesatuan khusus makin erat dan menjadi katalisator dalam mencapai tujuan latihan dengan sukses,” pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Komandan Kontingen Thailand Colonel Voradorn Vorakitti Dechakorn mengatakan antara lain bahwa, seiring dengan meningkatnya kualitas ancaman terorisme dewasa ini, maka satuan-satuan penanggulangan teror di seluruh dunia, khususnya Indonesia telah menjalin hubungan erat, dalam bentuk latihan yang direncanakan, disiapkan dan dilaksanakan secara detail dan berkelanjutan. “Apabila terjadi ancaman terorisme yang mengancam kedaulatan dan melibatkan kepentingan kedua belah pihak, maka satuan-satuan penanggulangan teror di kedua negara dapat dikerahkan dengan cepat dan bekerjasama dengan baik,” ujarnya.

Dengan terselenggaranya Latma KRIS-I 2016 ini, diharapkan menjadi momentum yang baik bagi kedua negara, untuk menyelenggarakan latihan bersama yang berkelanjutan pada tahun-tahun berikutnya,” kata Colonel Voradorn Vorakitti Dechakorn.

Latma KRIS-1 2016 dengan tema “Penanggulangan Terorisme” akan dilaksanakan mulai tanggal 11 sd 18 November 2016, dan merupakan kali pertama bagi Pasukan Khusus TNI dan RTAF, dengan melibatkan unsur Pasukan Operasi Khusus TNI meliputi Satuan-81 Korps Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD, Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) TNI AL dan Satuan Bravo ’90 Korpaskhas TNI AU, serta CTOC Royal Thai Armed Force.

Adapun tujuan latihan adalah untuk meningkatkan kerja sama, interoperabilitas dan kesepahaman pasukan TNI dengan RTAF CTOC di dalam menanggulangi aksi terorisme yang melibatkan kedua Negara, dengan materi latihan meliputi Subject Matter Expert Exchange (SMEE) dan Table Top Exercise (TTX) serta Manuver Lapangan.

Materi latihan SMEE, diantaranya analisa skenario latihan termasuk analisa dan Standar Operating Procedure (SOP); pengembangan skenario dan analisa kekuatan kawan dalam pelaksanaan latihan. Sedangkan materi latihan TTX meliputi perumusan; penganalisaan dan olah yudha cara bertindak; pengambilan keputusan cara bertindak yang terbaik; merumuskan bersama konsep umum operasi; pengujian rencana penanggulangan teror gabungan melalui metoda TTX; dan pelaksanaan komando dan kendali taktis.

https://cdn.sindonews.net/photos/2013/09/14/3887/13046_highres.jpgIlustrasi latihan anti teror beberapa waktu yang lalu [sindo]

Sedangkan Manuver Lapangan meliputi Field Integration Training (FIT) dan Full Mission Profile (FMP). Materi Manuver Lapangan secara teknis diantaranya, mobilisasi udara; fast roping; rapelling; method of entry; penembak runduk dan explosive ordonance disposal (penjinak bahan peledak. Secara taktis diantaranya, pembebasan sandera di gedung; raid penghancuran; perebutan cepat; patrol pengintaian jarak jauh; penyekatan dan evakuasi sandera.

Materail yang digunakan dalam Latma KRIS-1 diantaranya Combat Shirt; Overall; Senjata MP-5, Shotgun, AX-338; Amunisi Bahan Peledak; Alat Optik; Alat Komunikasi berupa Handy Talkie dan Repeater; Alat Perlengkapan Fast Roping dan Rapelling; Peta (Ciawi 37/XVIII-A); GPS, Kompas dan Navigasi; serta alat perlengkapan perorangan lainnya.

Sementara, Alutsista yang dikerahkan meliputi 1 (satu) unit Helly Super Puma; Kendaraan Taktis diantaranya, 2 (dua) Bus Master; 3 (tiga) Kendaraan Hilux; 1 (satu) Kendaraan Tangga; 1 (satu) Kendaraan Penjinak Bahan Peledak; 3 (tiga) Unit Truk; 1 (satu) Unit Ambulance dan 3 (tiga) Unit Motor. Jumlah pelaku yang terlibat sebanyak 87 orang, terdiri dari 44 Pasukan Anti Teror TNI dan 43 Pasukan CTOC Royal Thai Armed Forces serta melibatkan 78 personel TNI sebagai pendukung.

Hadir pada upacara pembukaan Latma KRIS-I adalah Brigjen TNI Saptono Adji, Brigjen TNI Edison Simanjuntak, Paban VII/Latma Sops TNI Kolonel Inf Achmad Budi Handoyo dan para pejabat Mabes TNI, TNI AD, TNI AL dan TNI AU. (Am)
 

Rabu, 09 November 2016

Latihan Bersama Pandu 14/16

Beraksi di ProbolinggoPasukan elite Angkatan Laut Indonesia dan Singapura foto bersama usai acara pembukaan di Pusat Latihan Kapal Perang (Puslat Kaprang) Kolat Koarmatim, kemarin. Angkatan Laut kedua negara menggelar latihan mulai 7 November hingga 18 November 2016 dengan sandi “Latihan Bersama Pandu 14/16”. [Dok. Dispen Koarmatim]

TNI Angkatan Laut dan Republic of Singapore Navy (RSN) gelar latihan bersama diikuti pasukan khusus dari kedua negara. Latihan dengan sandi “Latihan Bersama Pandu 14/16” berlangsung mulai 7 November hingga 18 November 2016.

Wakil Asisten Operasi (Waasops) Kasal Laksamana Pertama TNI Mintoro Yulianto, mewakili Asisten Operasi (Asops) Kasal Laksamana Muda TNI I.N.G.N. Ary Atmaja telah membuka latihan pasukan elite AL kedua negara yang berlangsung di Pusat Latihan Kapal Perang (Puslat Kaprang) Kolat Koarmatim, kemarin.

Pada Latma Pandu kali ini, TNI Angkatan Laut mengirimkan 2 tim pasukan katak dari Satkopaska Koarmatim. Tim Kopaska akan bergabung dengan satu tim Naval Diving Unit (NDU) dari Singapura untuk melaksanakan latma di daerah latihan (Rahlat) camp “K” Banongan Probolinggo, Jawa Timur. Bertindak sebagai Komandan Satgas adalah Kolonel Laut (E) Henricus Prihantoko yang sehari-hari menjabat sebagai Komandan Satuan Komando Pasukan Katak Koarmatim.

Latma Pandu rencananya dibagi menjadi tiga fase. Yakni fase pertama (fase terstruktur) dimana kedua pasukan khusus akan berlatih teknik dan prosedur operasi Maritime Explosive Ordnance Disposal (MEOD) di Koarmatim Surabaya 7-8 November. Kemudian dilanjutkan pelatihan komponen pemeriksaan praktis di Rahlat Banongan pada tanggal 9-12 November 2016.

Tahap kedua (fase taktis) terdiri dari pelatihan dengan dasar skenario sebagai bagian dari Full Mission Profile (FMP) yang berlangsung selama 3 hari, dilanjutkan dengan After Action Review (AAR) atau kaji ulang latihan.

Tahap ketiga, latihan diakhiri dengan Tahap Pasca Fase Latihan yang akan diisi dengan even olah raga bersama, kegiatan sosial, pagelaran budaya dari kedua negara serta upacara penutupan.

Asops Kasal dalam amanat tertulis menyampaikan, Latma Pandu 14/16 adalah wujud hubungan Bilateral antara Indonesia dan Singapura di bidang pertahanan yang bertujuan untuk meningkatkan interoperabilitas dan pengetahuan timbal balik antar pasukan khusus dari kedua negara.

Dia juga menekankan kepada seluruh peserta latihan agar selalu mengutamakan keselamatan dalam latihan dan selalu menjaga komunikasi dan hubungan baik antara peserta latihan dan masyarakat setempat, lanjutnya.

Menurut Kadispenarmatim Letkol Laut (KH) Maman Sulaeman, hadir pada acara tersebut, Komandan Guspurla Koarmatim Laksma TNI Dadi Hartanto, Pabanlat Sopsal Kolonel Laut (P) M. Zaenal, Pejabat Utama Koarmatim, Dansatkopaska Koarmatim Kolonel Laut (P) Henricus Prihantoko, RSN NDU Commander COL Fong Kok Pun, Wakil Dansatgas Latma Pandu 14/16 LTC Wong Foo Chan, Para Komandan Satuan jajaran Koarmatim serta seluruh Peserta Latihan dari kedua Negara. (fri/jpnn)

 ♖ JPNN  

Senin, 07 November 2016

Alasan AS Ingin Tingkatkan Latihan Militer dengan TNI

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2p1Ji2qt9aqd3UPj5PqlwdVXWZB7W0eIk7liaFh8DqBVvZtLWKRhrVEd8dOMPoaiYCHvrhi5hOXUmhCHm01rKpMLsZChLuBQWuK0t-VdFVOTKSyFd-Ce-vJdm-FrDWpS4hp4PPiBIgayL/s320/image86-e1439091001708.jpgSpecial Boat Exercise, Latihan Bersama Kopaska [TNI AL] 

Amerika Serikat berkeinginan untuk terus melanjutkan hubungan militer-ke-militer dengan Indonesia. Bahkan hubungan ini perlu diperkuat dengan peningkatan latihan bersama dan kerja sama-kerja sama lainnya.

Demikian menurut Laksamana Muda Donald D. Gabrielson, Komandan Grup Logistik Armada Militer AS di Pasifik Barat. “Hubungan militer-ke-militer Amerika Serikat dan Indonesia selama bertahun-tahun berjalan dengan baik. Setiap tahun, kami mengadakan kurang lebih 200 kegiatan dengan Tentara Nasional Indonesia. Saya kira kerja sama seperti ini perlu ditingkatkan lagi demi memperkuat hubungan kedua negara,” kata Gabrielson saat ditemui di sela acara pameran “Indo Defence 2016” yang diselenggarakan Kementerian Pertahanan Indonesia di Jakarta International Expo, 3 November 2016.

Gabrielson mengingatkan, salah satu kerja sama rutin yang digarap militer AS dan TNI adalah Kerja Sama Kesigapan dan Pelatihan Maritim (CARAT), yang sudah 22 kali dilakukan sejak 1995. Terakhir kali berlangsung pada 3-8 Agustus 2016.

CARAT adalah latihan rutin antara militer AS dan TNI Angkatan Laut yang mencakup sejumlah bidang, di antaranya peperangan anti-kapal selam, operasi tempur terbatas, dan patroli maritim. Di ajang itu, personel militer kedua negara juga bertukar pikiran dalam seminar dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial. Lebih dari 500 personel militer AS terlibat dalam program CARAT di Indonesia.

Program CARAT yang terus berlanjut ini membuktikan seriusnya komitmen kami dalam mengembangkan hubungan dengan para mitra strategis di kawasan seperti Indonesia. Angkatan Laut kami bekerja sama dengan sembilan mitra di Asia Selatan dan Tenggara untuk berbagai prioritas keamanan maritim, memperkuat kemitraan maritim, sekaligus saling menempa kemampuan dengan para mitra,” kata Gabrielson.

Selain CARAT, dia juga mengungkapkan ada latihan militer lain yang juga melibatkan kedua negara, yaitu Southeast Asia Cooperation and Training (SEACAT). Latihan ini melibatkan AS, Brunei Darusallam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand.

 Tiga Prioritas 

Gabrielson mengingatkan bahwa penguatan kemitraan militer AS dengan Indonesia ini didasari tiga isu yang menjadi prioritas bagi kedua negara saat ini.

Kapal perang AS USS CoronadoKapal Perang Pesisir USS Coronado (U.S. Navy photo by Petty Officer 2nd Class Joshua Fulton/Released)

Isu pertama adalah kerja sama tanggap darurat atas bantuan kemanusiaan di wilayah bencana alam. Mengingat banyak wilayah di Indonesia yang rentan dengan bencana alam, maka kami selalu siap mengerahkan kapal dan personel bila dibutuhkan pihak berwenang Indonesia untuk memberi dukungan logistik dan evakuasi,” kata Gabrielson.

Isu penting kedua adalah baik AS dan Indonesia sama-sama berkepentingan dalam melindungi wilayah udara dan laut di kawasan, sehingga tetap berjalan aman dan damai. Ini termasuk kerja sama dalam menangani penyelundupan manusia, kerusakan ekologi, dan kejahatan lintas-negara lainnya,” lanjut laksamana yang saat ini bertugas di Singapura tersebut.

Selain itu, isu ketiga yang jadi prioritas bagi kerja sama militer kedua negara adalah bersama-sama menghadapi ancaman ekstremisme dan terorisme. “Tantangan-tantangan bersama seperti itulah yang menjadi dasar bagi kami untuk terus memperkuat hubungan dengan para mitra di kawasan, termasuk dengan Indonesia,” kata Gabrielson.

Demi komitmen itulah, AS juga mengirim kapal perang ke Asia Tenggara untuk menjalani tugas secara berkala. Pada 16 Oktober lalu, militer AS mengirim USS Coronado untuk bertugas di Asia Tenggara dengan basis di Singapura.

Kapal ini beroperasi dari Singapura untuk bekerja sama dan berlatih dengan para mitra Angkatan Laut di kawasan ini,” kata Gabrielson. USS Coronado merupakan kapal perang tipe LCS (Kapal Perang Pesisir), yang termasuk salah satu kapal tercanggih di Armada ke-7 Angkatan Laut AS.

Menurut Gabrielson, saat ini AS baru mengirim satu kapal LCS ke Asia Tenggara yang bertugas selama periode tertentu. Direncanakan mulai 2018, akan ada empat kapal LCS yang dikerahkan ke kawasan.

  VIVAnews  

USN Lays Plans to Enhance Engagements, Interoperability with Asia-Pacific Partners

USN want to engage in more complex joint training program with TNI AL https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2p1Ji2qt9aqd3UPj5PqlwdVXWZB7W0eIk7liaFh8DqBVvZtLWKRhrVEd8dOMPoaiYCHvrhi5hOXUmhCHm01rKpMLsZChLuBQWuK0t-VdFVOTKSyFd-Ce-vJdm-FrDWpS4hp4PPiBIgayL/s1600/image86-e1439091001708.jpgSpecial boat exercise, Kopaska TNI AL exercise manuever and tactical with US Coastal Riverine Squadron (CRS) 3, Cooperation Afloat Readiness and Training (CARAT) Indonesia 2015. 

Against the backdrop of the arrival of its first Independence-variant Littoral Combat Ship (LCS) in the Asia-Pacific region, the US Navy (USN) has laid out its plans to enhance partnerships and interoperability with armed forces services in Southeast Asia.

USS Coronado (LCS 4) arrived at Singapore's Changi Naval Base in October 2016, with a Harpoon missile fit and an over-the-horizon anti-ship capability, bringing new opportunities for navies in the region to hone various warfighting capabilities with the USN.

Rear Admiral Don Gabrielson, commander of the USN's Logistics Group Western Pacific (COMLOG WESTPAC), made the comments on 3 November during a media roundtable in Jakarta held as part of the Indo Defence 2016 tri-services forum.

https://i.ytimg.com/vi/wfww6c0scHw/maxresdefault.jpgUSS Coronado (LCS 4) [youtube]

Coronado is currently scheduled to participate in a series of bilateral naval exercises in 2017 between the USN and a number of armed forces services in South and Southeast Asia. The USN has previously deployed its Freedom-class LCSs to the exercises.

"With two [Northrop Grumman MQ-8B] Fire Scout UAVs and a MH-60 naval helicopter on Coronado, the platform will bring opportunities for new training scenarios and missions," said Rear Adm Gabrielson.

He added that the service is in discussions with the Indonesian Navy (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut, or TNI-AL) on how to increase the complexity of the next 'CARAT' exercise between the two countries, given these new capabilities.

  IHS Janes