Tampilkan postingan dengan label TNI AU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNI AU. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 November 2016

Sekilas 6 Jenis Pesawat Jet Tempur TNI AU

Enam pesawat tempur Sukhoi dan F-16 milik TNI Angkatan Udara memeriahkan Upacara Peringatan HUT RI ke-71 di Jakarta, Rabu (17/8). Mereka membentuk Arrow Head Formation pada ketinggian 800 kaki. (Liputan6.com/Faizal Fanani)  

P
residen RI Joko Widodo telah berkomitmen untuk meningkatkan keamanan Indonesia. Terlebih isu Laut China Selatan terus diramaikan di dunia internasional.

Salah satu elemen penting dalam menjaga kedaulatan NKRI ialah TNI-AU. Saat ini kekuatan TNI-AU menjadi yang diperhitungkan di Asia Tenggara.

Selain didukung kemampuan seluruh personel yang dimiliki, berbagai alutsista yang dimiliki TNI-AU dinilai juga cukup mumpuni, seperti salah satunya pesawat tempur.

Saat ini TNI-AU telah memiliki enam jenis pesawat jet tempur. Jet-jet tempur ini memiliki fungsi dan kemampuan masing-masing, apa saja itu?

 1. Hawk 209 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHCHkPYy9pvawI3twnXWLICYbKzSM8yUkVBiKwxHtkPaQ_YwH8Byi9FARM5eP7tRuFM_hEQnez-psEg25g64mIXF_i9uJyECqLYhrO1NK0tX0q6tFE6mBEKq2vDE47mbuZJEaFpd8mD6Yk/s1600/_20160622_212357.jpgHawk TNI AU

Jet ini merupakan pesawat buatan Hawker-Siddeley. Hawk Mk 209 yang dimiliki TNI-AU ini memiliki fungsi sebagai pesawat jet latih untuk pesawat tempur generasi 4. Adapun jet tempur generasi 4 diantaranya seperti F-15, F-16 dan lain sebagainya.

Pertama kali TNI-AU membeli pesawat ini pada tahun 1997.‎ Hawk Mk 209 merupakan varian single seater dari keluarga Hawk. Pesawat jet ini dikhususkan untuk mengemban misi air superiority dan ground attack.

Malaysia juga memiliki sejumlah Hawk Mk 108/208 yang merupakan varian Hawk pertama yang bisa melakukan pengisian bahan bakar di udara.

 2. T-50 Golden Eagle 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjHRv2PR9Nn2aPryU-6fQV6MDcu9q6MSKbuEMYmAtfC6XDeTpUilBAI6OleGMhpFCWHdRzaMOU7IbxfRxTqntB7OjpnTGodLUOA39pkSkUL0libV3FCfLjz31ltSNgpPrrhBE0IAyYt2OH-/s1600/T-50i+Golden+Eagle+garuda+militer.jpgT50i TNI AU

Memiliki fungsi hampir sama dengan Hawk 209, T-50 Golden Eagle adalah pesawat latih (trainer) supersonik buatan Amerika-Korea.

Dikembangkan oleh Korean Aerospace Industries (KAI), dengan bantuan Lockheed Martin. Program ini juga melahirkan A-50, atau T-50 LIFT, sebagai varian serang ringan. Program T/A-50 dimaksudkan sebagai pengganti dari berbagai pesawat latih dan serang ringan.

Program ini pada awalnya dimaksudkan untuk mengembangkan pesawat latih secara mandiri yang mampu mencapai kecepatan supersonik untuk melatih dan mempersiapkan pilot bagi pesawat KF-16 (F-16 versi Korea).

T-50 membuat Korea Selatan menjadi negara ke-12 yang mampu memproduksi sebuah pesawat tempur jet yang utuh. Beberapa produk korea lainnya adalah KT-1 produk Samsung Aerospace (sekarang bagian dari KAI), dan produk lisensi KF-16.

Sebagian besar sistem utama dan teknologinya disediakan oleh Lockheed Martin, secara umum bisa disebut T/A-50 mempunyai konfigurasi yang mirip dengan KF-16.

 3. F-16 Fighting Falcon 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEikF8DKwr9ejomo82OJrLB5QRcRHMmemP4sWxGbO-e8Zc8i2jz6wy7KuiOtx32kzQiIqEBMnEMpLgTyOAGT3HyZxisAeLz6AOn4ahBikbF4XilDthltzLP9BaYwB-ckWnU99jCxYc3eTl-c/s1600/216977.jpgF16 TNI AU

F-16 Fighting Falcon adalah jet tempur multi-peran supersonik yang dikembangkan oleh General Dynamics (lalu di akuisisi oleh Lockheed Martin), di Amerika Serikat. Pesawat ini awalnya dirancang sebagai pesawat tempur ringan, dan akhirnya ber-evolusi menjadi pesawat tempur multi-peran yang sangat populer.

Kemampuan F-16 untuk bisa dipakai untuk segala macam misi inilah yang membuatnya sangat sukses di pasar ekspor, dan dipakai oleh 24 negara selain Amerika Serikat.

Pesawat ini sangat popular di mata international dan telah digunakan oleh 25 angkatan udara. F-16 merupakan proyek pesawat tempur Barat yang paling besar dan signifikan, dengan sekitar 4000 F-16 sudah di produksi sejak 1976.

Pesawat ini sudah tidak diproduksi untuk Angkatan Udara Amerika Serikat, tapi masih diproduksi untuk ekspor.

 4. F-5E Tiger II 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiANYcPSWkjS9oJiMSAOv1_uRLQZWfICYK00WHmk_ZdclMfbaABXMJiPxKKZyZ7LXmmMqiPWEslcc0QBQTsl2A-W7DYKOyZextpdiJ1muGq_7DZGoSnD_YkPgAyQ-grIj18vb4TYkRnttw/s1600/printfinaleditbyagus.jpgF5E TNI AU [Agus]

F-5E/F Tiger II adalah sebuah bagian dari keluarga pesawat tempur supersonik ringan yang dirancang dan diproduksi oleh Northrop, di Amerika Serikat, sejak tahun 1960-an. Ratusan pesawat ini masih dipakai oleh berbagai angkatan udara di dunia sampai abad ke-21.

Pesawat ini juga menjadi dasar untuk pengembangan beberapa pesawat lainnya. Produksi pesawat F-5A dan F-5E berakhir pada tahun 1972 dan 1987.

F-5E Tiger II, juga banyak digunakan oleh negara sekutu Amerika Serikat, dan di Amerika Serikat sendiri dipakai sebagai pesawat latih tempur. Jumlah Tiger II yang diproduksi sampai tahun 1987 mencapai 1400 buah. Pesawat F-5 yang masih dipakai sampai tahun 1990-an dan 2000-an telah melalui banyak modifikasi pembaruan.

 5. Sukhoi Su-27 (Flanker) 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhsniGxBkk7auEHQyj2_zJTBhrf7h17xK-npBw2iGxBk6V8YI56cgldKQBMV3RyhBFDo6h9WmsuQwYFd1Jow6Vz8YKJYc2qccocTF067-n8V3gvW0cbQ7ve_VPfQuDti30egGYeyrYInrfJ/s1600/15025398_%2540bayusiswanto.jpgSu 27  dan Su 30 TNI AU [Sukhoi pilot /bayusiswanto]

Sukhoi Su-27 merupakan pesawat tempur yang awalnya diproduksi oleh Uni Soviet, dan dirancang oleh Biro Desain Sukhoi. Pesawat ini direncanakan untuk menjadi saingan utama generasi baru pesawat tempur Amerika Serikat yaitu F-14 Tomcat, F-15 Eagle, F-16 Fighting Falcon, dan F/A-18 Hornet.

Su-27 memiliki jarak jangkau yang jauh, persenjataan yang berat, dan kelincahan yang tinggi. Pesawat ini sering disebut sebagai hasil persaingan antara Sukhoi dengan Mikoyan-Gurevich, karena Su-27 dan MiG-29 berbentuk mirip.

Ini adalah keliru, karena Su-27 dirancang sebagai pesawat interseptor dan pesawat tempur superioritas udara jarak jauh, sedangkan MiG-29 dirancang untuk mengisi peran pesawat tempur pendukung jarak dekat.

 6. Sukhoi-Su-30 (Flanker-C) 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNqOq1aRbUdcghouSoppSCPyK_1synmTVVIuNgQ8CtQC1xhAdcOGftarwbuSWynxgGeRHFpx8dZy9nGRKXOHzDjlMzItiCx-oaZ5Ed_ogaZx5KwbeCj1kzmgwDbpkiMD4A-MX14h0g5z6Y/s1600/tni-au-shukoipr1v4t33r.jpgSu 30 TNI AU [def.pk]

Sukhoi Su-30 adalah pesawat tempur yang dikembangkan oleh Sukhoi Rusia pada tahun 1996. Pesawat ini adalah pesawat tempur multifungsi, yang efektif dipakai sebagai pesawat serang darat. Pesawat ini bisa dibandingkan dengan F/A-18E/F Super Hornet dan F-15E Strike Eagle Amerika Serikat.

Pesawat ini adalah pengembangan dari Su-27UB, dan memiliki beberapa varian. Seri Su-30K dan Su-30MK telah sukses secara komersial. Varian-varian ini diproduksi oleh KnAAPO dan Irkut, yang merupakan anak perusahaan dari grup Sukhoi. KnAAPO memproduksi Su-30MKK dan Su-30MK2, yang dirancang dan dijual kepada Tiongkok. Su-30 paling mutakhir adalah seri Su-30MK buatan Irkut.

  Liputan 6  

7 Perwira TNI AU Mendapat Wing Penerbang Kehormatan dari Singapura

Angkatan Udara Republik Singapura (RSAF) memberikan Wing Penerbang Kehormatan RSAF kepada tujuh Perwira Tinggi (Pati) TNI AU.

Penyematan wing dilaksanakan oleh Chief of Staff RSAF Major General Mervyn Tan disaksikan oleh Wakil KSAU Marsdya TNI Hadiyan Sumintaatmadja di Honour Room, Paya Lebar Air Force Base, Singapua, Kamis (17/11/2016).

Ketujuh Pati yang mendapat wing penerbang kehormatan RSAF adalah Irjenau Marsda (TNI) Anang Murdianto, Aspam KSAU Marsda TNI Dedy Permadi, Asops KSAU Marsda TNI Barhim, Aspers KSAU Marsda TNI Yadi Husyadi, Pangkoopsau I Marsda TNI Yuyu Sutisna, Pangkoopsau II Marsda TNI Umar Sugeng Hariyono, dan Komandan Kodiklatau Marsda TNI Eko Supriyanto.

Dijelaskan, pemberian wing penerbang kehormatan oleh RSAF merupakan bentuk penghargaan Pemerintah Singapura melalui RSAF.

Pemerintah Singapura memandang, ketujuh Pati TNI AU dinilai telah berjasa dalam membangun kerja sama dan meningkatkan hubungan yang baik antara TNI AU dan RSAF serta lebih luas lagi meningkatkan hubungan yang baik antara kedua negara.

Sejumlah kerja sama antara TNI AU dan RSAF telah berjalan baik selama ini, meliputi bidang latihan udara bersama, pertukaran perwira melalui Senior/Junior Officer Exchange Visit Program, maupun pertukaran Perwira Siswa (Pasis) Seskoau.

  Tribunnews  

Jumat, 18 November 2016

Pesawat Tempur T 50 Golden Eagle Mendarat Perdana di Syamsudin Noor

Ilustrasi T50i Golden Eagle TNI AU [TNI AU]

Suara gemuruh begitu nyaring terdengar di langit Banjarbaru, warga pun geger di kawasan Bandara Syamsudin Noor. Banyak diantaranya yang memotret aksi manuver tiga pesawat tempur yang mendarat sempurna di Landasan Bandara Syamsudin Noor, Jumat (18/11/2016).

Tiga pesawat tempur menari di angkasa. Beberapa menit terbang berputar-putar dan bermanuver, pesawat itu kemudian landing di Bandara Syamsudin Noor.

"Ya, ini pesawat tempur T-50 Golden Eagle buatan Korea Selatan," ucap Danlanud Syamsudin Noor Letkol Pnb Bambang Sadewo.

Pesawat tempur TNI AU tipe Golden Eagle T-50 adalah pesawat tempur yang dikembangkan oleh Korea Aerospace Industries (KAI) dan Lockheed Martin.

Ini adalah pesawat tempur pertama buatan Korea Selatan yang bisa mencapai kecepatan supersonic. Memiliki panjang 13 meter dengan lebar mencapai 9,45 meter dengan kecepatan maksimum mencapai 1.600 KM per jam.

"Pesawat temput ini baru saja operasi pengamanan perbatasan dengan alur laut kepulauan Indonesia (pam Alki). Ya, patroli di perbatasan, pesawat mampir di Bandara Syamsudin Noor untuk isi bahan bakar, selain transit juga agar kedirgantaraan dikenal," ucap Danlanud.

Terpisah, salahsatu pilot dalam hal ini Komandan Skuadron Udara 15 Letkol Pnb Budi Susilo mengatakan memang benar sempat terbang rendah dengan ketinggian 200 meter saja di Langit Banjarbaru.

"Dan ini perdana mendarat di Bandara Syamsudin Noor," katanya. (Banjarmasin Post/Nia Kurniawan)

  Tribunnews  

Selasa, 15 November 2016

Operasi “Benteng Ambalat”

➶ Jet Tempur T50i Dikerahkan➶ Jet Tempur T50i [TNI AU]

Lima jet tempur milik TNI Angkatan Udara (AU) akan bermanuver di langit Tarakan, Kalimantan Utara, dan sekitarnya selama kurang lebih seminggu ke depan.

Kehadiran lima pesawat tempur dari Skuadron 15 Pangkalan Udara (Lanud) Iswahyudi Madiun ini dalam rangka mendukung operasi “Benteng Ambalat” untuk menjaga kedaulatan NKRI.

Lima jet tempur yang terdiri dari tiga pesawat jenis Golden Eagle T-50 atau T-50i buatan Korea Selatan, sudah tiba di Lanud Tarakan sejak Senin (14/11).

Selain itu, juga ikut pesawat pengintai jenis Boeing 737 dalam operasi ini.

Benteng Ambalat adalah tugas yang dilaksanakan oleh TNI AU dengan TNI AL. Tugasnya pengamanan Ambalat. Di udaranya kita melaksanakan patroli udara, dikombinasi dengan Angkatan Laut yang melaksanakan patroli laut Ambalat,” ujar Komandan Lanud Tarakan Kolonel (Pnb) Umar Fathurrohman, Selasa (15/11).

Menurutnya, jet-jet tempur ini memang sudah mendapat tugas langsung dari Mabes TNI AU untuk patroli di Ambalat.

Namun, di sela patroli pihaknya memberikan kesempatan bagi Skuadron 15 untuk singgah di Tarakan guna mengisi keperluan.

Selain itu, kehadiran jet-jet tempur ini sebagai ajang unjuk kekuatan kepada warga Tarakan akan kemampuan TNI AU dalam menjaga perbatasan.

Karena itu, pihaknya membuka waktu bagi masyarakat untuk melihat dari dekat pesawat militer ini.

TNI Angkatan Udara berusaha untuk mengamankan wilayah perbatasan, salah satunya Ambalat agar masyarakat atau pun rakyat Indonesia bisa tidur tenang. Karena jika ada ancaman dari luar, bisa kita deteksi. Selama kita masih ada, TNI udara berpatroli, tidak akan ada serangan udara,” tegasnya.

Bagi Skaudron 15 Lanud Iswahyudi, kehadiran jet-jet tempur ini tidak sekadar melaksanakan operasi tapi juga menjadi ajang latihan bagi prajurit-prajurit barunya untuk menjadi pilot tempur yang handal.

Selain kita melaksanakan operasi, juga melaksanakan kegiatan latihan di home base untuk memproduksi penerbang-penerbang baru, yang baru datang dari sekolah penerbang kemudian yang masuk ke jurusan tempur. Maka kita upgrate kualifikasinya untuk menjadi penerbang tempur,” ujar Komandan Skuadron 15 Lanud Iswahyudi Semarang Letkol (Pnb)Budi Susilo.

Pesawat yang ditugaskan dalam operasi ini merupakan keluaran baru dan telah dilengkapi peralatan tempur yang canggih.

Untuk pesawat T-50i buata Korsel, baru tiga tahun dibeli pemerintah Indonesia, tepatnya pada 2013 lalu.

Karakteristiknya kurang lebih seperti pesawat jenis F-16. Namun, oleh TNI AU pesawat ini tidak hanya dijadikan sebagai jet tempur, tapi juga sebagai pesawat latih bagi prajurit yang baru lulus dari sekolah penerbang.

Budi memaparkan bahwa pesawar tempur T-50i punya kemampuan lengkap.

Bisa melaksanakan tugas apa saja baik sebagai interseptor maupun sebagai bantuan tembakan dari udara ke udara, dan dari udara ke darat.

Pesawat ini juga mampu membawa missil jenis apa pun sesuai dengan kemampuannya.

Bahkan, bom berdaya ledak besar seperti jenis MK-84, 82, 81 maupun jenis roket, juga bisa dibawa oleh pesawat tempur T-50i.

Sementara itu, dalam unjuk kekuatan di hadapan warga Tarakan nanti, pihaknya juga akan memamerkan beberapa posisi siaga dalam pertempuran.

Semua ini untuk menunjukkan bahwa TNI AU siap menjaga kedaulatan NKRI di perbatasan. (*/mrs/fen/sam/jpnn)

   JPNN  

Senin, 14 November 2016

Pangkosekhanudnas I Fokuskan Peningkatkan Operasional

൬ Terkait Pam IbukotaTerkait Pam Ibukota, Pangkosekhanudnas I Fokuskan Peningkatkan Operasional൬ Pangkosekhanudnas I Marsma TNI Julexi Tambayong tinjau alutsista Meriam 23 mm Zur Komposit Rudal Grom

Panglima Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional I (Kosekhanudnas) Jakarta Marsma TNI Julexi Tambayong, terkait pengamanan wilayah udara ibu kota dengan bulat bertekat terus mengupayakan peningkatan operasional. Jakarta selain Ibukota negara juga terdapat beberapa obyek vital yang harus dilindungi dari segala penjuru datangnya ancaman udara, hal ini dikatakan saat melaksanakan kunjungan kerja di Satuan Detasemen Arhanud 003 Cikupa,Tangerang, Senin (14/11/16).

Selain Jakarta wilayah lain yang menjadi tanggung jawab Kosekhanudnas I di mulai dari sektor utara seperti, Kepulauan Natuna dan Kepulauan Riau, sebagian pulau Sumatera hingga sebagian pulau Jawa tepatnya Kota Yogyakarta.

Lebih lanjut Kosekhanudnas I mengatakan, untuk melaksanakan tugas pokoknya dalam rangka menyelenggarkan dan mengendalikan operasi pertahan udara (Hanud), Kosekhanudnas I didukung oleh berbagai alutsista yang berkemapuan pertahanan udara.

Adapun Alutsista yang dilibatkan dalam setiap kegiatan operasi meliputi, radar sebagai unsur utama, pesawat tempur sergap, peluru kendali, KRI yang berkemampuan hanud dan meriam hanud, sehingga keberadaan unsur Detasemen Arhanud 003 Cikupa memiliki arti strategis,” kata Pangkosekhanudnas I.

Dalam kegiatan kunjungan kerja di markas Detasemen Arhanud 003 Cikupa, Pangkosekhanudnas I di terima langsung oleh Komandan Detasemen Arhanud 003 Mayor ARH Rimba Anwar SIP dengan suasana hangat.

Turut mendampingi dalam kunjungan tersebut para pejabat setingkat asisten maupun perwira lainya berkempatan melihat secara langsung beberapa alutsista yang menjadi kekuatan satuan ini. Alutsista yang menjadi garda depan Detasemen Arhanud 003 salah satunya yaitu Rudal Poprad bisa mobile, yang mempunyai jarak tembak 5500 meter, yang dibuat pada 2007 dari negara Polandia. Selain itu Denarhanud Rudal 003 juga memiliki Alutsista Meriam 23 mm/Zur Komposit Rudal Grom asal Polandia, memiliki jarak tembak sejauh 2500 meter. Tak kalah canggihnya, satuannya memiliki radar MMSR (Mobile Multibeam Search Radar), yang bisa mendeteksi/menangkap sasaran udara dari jarak 40 km (Kilometer).
 

  ൬ Siaga Indonesia  

Dua Pilot Super Tucano Siap Terbang

൬ Digembleng 15 bulan pelatihanPenerbang pilot Super Tucano terus dicetak di Lanud Abdulrachman Saleh Malang. Dua penerbang baru saja menyelesaikan pendidikan Transisi A-VI pesawat Embraer 314 Super Tucano, Senin (14/11).

Keduanya adalah Lettu Pnb Gusti Virmandi dan Lettu Pnb Anthera Galuh S, selama 15 bulan digembleng Skadron 21 Wing 2. Kedua siswa merupakan lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) 2013 dan telah menyelesaikan sekolah penerbang di Yogyakarta angkatan ke-87.

Komandan Lanpangan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh Malang, Marsma TNI RM Djoko Senoputro, menegaskan pendidikan transisi penerbang merupakan sebuah investasi sumber daya manusia. Kesiapan mereka menjadi proyeksi masa depan dalam menjaga wilayah udara Indonesia.

"Para penerbang Skadron 21 akan dididik untuk dipersiapkan dalam proses pengembangan SDM khususnya penerbang pesawat tempur yang andal. Mereka diharapkan mampu mengemban tugas dan tanggung jawab dalam mengoperasikan pesawat Super Tucano di masa mendatang," kata Djoko Senoputro di Lanud Abdulrachman Saleh Malang, Senin (14/11).

Pendidikan Transisi, kata Djoko, bertujuan untuk kaderisasi penerbang pesawat tempur. Sasarannya agar dapat dicapai tingkat kualifikasi penerbang pesawat Super Tucano EMB 314 untuk memperkuat alutsista TNI AU.

Dia menekankan faktor keselamatan terbang dan kerja (Lambangja) menjadi prioritas utama. Sehingga pihaknya tidak ingin sampai lepas dari perhatian.

"Hindari kesalahan sekecil apapun, laksanakan tugas sesuai prosedur yang telah ditetapkan," tegasnya.

Bersamaan penutupan pendidikan Transisi A-VI, pihaknya juga membuka pendidikan transisi ke-VIII yang diikuti dua orang pilot Sekbang angkatan 89 lulusan AAU 2014. Dua peserta yang beruntung adalah Letda Pnb Bimo Triatmojo dan Letda Pnb Satrio Gangsar Budiarto.

"Tingkat kesulitan yang paling utama dengan pesawat yang pernah saya piloti adalah masalah avionik. Karena pesawat EMB 314 ini merupakan generasi ke-4 dengan sistem full glass Cocpit. Direncanakan kita akan menambah 75 shorte dan 82 jam terbang hingga lulus," jelas Letda Satriyo yang diamini Letda Bimo.

Penutupan pendidikan Transisi A-VI ditandai dengan penyematan bagde pilot Super Tucano pada Lettu Pnb Gusti Virmandi dan Lettu Pnb Anthera Galuh S. Sementara pembukaan ditandai dengan penyematan tanda peserta pendidikan Transisi A-VIII pada Letda Pnb Bimo Triatmojo dan Letda Pnb Anthera Galuh S. Pendidikan Transisi A-VIII akan berlangsung selama 6 bulan bertempat di Skadron Udara 21 Wing 2 Lanud Abdulrachman Saleh.

Danlanud berkesempatan menyiram air bunga sebagai lambang penyucian, selanjutnya pemecahan telur yang menyimbulkan lahirnya penerbang Super Tucano baru, dan pemberian kapas sebagai simbul sayap-sayap nusantara yang siap membela NKRI melalui kejayaan di Udara. [ang]
 

  ൬ Merdeka  

Gemuruh Pesawat Hawk 100/200 Elang Khatulistiwa Kembali Terdengar

Sejak sepuluh hari yang lalu suara gemuruh dari pesawat Hawk 100/200 Elang Khatulistiwa Skadron Udara 1 Lanud Supadio tidak terdengar ditelinga warga kota Pontianak dan sekitarnya. Namun suara gemuruh itu kembali terdengar, Jum’at (11/11) pasalnya Elang Khatulistiwa telah kembali ke sarangnya setelah melaksanakan misi latihan Weapon Delivery dan Maverick di Lanud Iswahjudi, Madiun.

Komandan Lanud Supadio Marsekal Pertama (Marsma) TNI Minggit Tribowo, S.IP didampingi para pejabat dijajaran Lanud Supadio menyambut kedatangan para penerbang dan ground crew di Crew Room Skadron Udara 1 Lanud Supadio. Menurut Danskadron Udara 1 Letkol Pnb Bagus Hariyadi kedatangan pesawat Hawk 100/200 Elang Khatulistiwa selesai melaksanakan misi latihan weapon delivery dan maverick di Lanud Iswahjudi. Latihan ini rutin dilaksanakan setiap tahun yang berlangsung selama sepuluh hari mulai tanggal 1 November hingga saat ini kembali ke Bumi Khatulistiwa.

Dalam latihan ini Skadron Udara 1, lanjut Danskadud 1, mengerahkan 5 pesawat Hawk 100/200 dan didukung oleh 64 personel. Kedatangan personel dari Lanud Iswahjudi menggunakan 2 pesawat Hercules masing-masing dari Skadron Udara 31 Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta dan Skadron Udara 32 dari Lanud Abdurahman Saleh, Malang.

Berkat kerja keras dari anggota Skadud 1 dan dukungan dari pimpinan serta doa dari segenap warga Kalimantan Barat latihan ini dapat dilaksanakan dengan baik dan kami pulang ke home base dengan selamat,” ujar Danskadud 1.
 

  ൬ TNI AU  

☆ Kisah Heroik Marsda TNI (Purn) Soedarman

✈ Melakukan Serangan Fajar ke Mapanget [tni-au.mil.id]

Tiada keinginan untuk memukul saudara sendiri, mungkin inilah pertanyaan yang menggambarkan pertentangan batin atas sejumlah gempuran perwira AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia, sekarang TNI Angkatan Udara) sarang Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) pada tahun 1958. Namun bagaimanapun, serangan atas mereka harus tetap dilakukan untuk menstabilkan keamanan nasional.

Awal tahun 1958, sebagian wilayah Sulawesi dan Maluku diibaratkan seperti daerah mati. Wilayah ini dikuasai oleh Angkatan Udara Revolusioner (kekuatan udara Permesta). Pada saat itu mereka memiliki cukup banyak pesawat militer yang kerap mengganggu penerbangan AURI. Suatu ketika pun pernah terjadi ketegangan di ruang udara Sulawesi dan Maluku, sehingga tak ada satupun pesawat udara yang berani terbang siang hari, kecuali P-51 Mustang.

Menanggapi hal tersebut, AURI pun geram dan tak mau tinggal diam. Mereka melakukan pengepungan setahap demi setahap untuk mempersempit gerak pasukan udara Permesta. Seperti halnya PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia), Permesta pada dasarnya merupakan saudara sendiri.

Basis mereka tersebar mulai dari Mapanget, Tasuka, Gorontalo, Morotai hingga Jailolo. Namun dimana kekuatan tersebut terkonsentrasi, tak seorangpun prajurit AURI ada yang mengetahuinya.

Pada 14 Mei 1958, sesuai dengan kesepakatan sejumlah (kemudian dikenal sebagai tokoh-tokoh AURI) mengadakan pertemuan singkat di sebuah bangunan sederhana dekat lapangan terbang Maumere, Flores. Kedatangan mereka ketempat itu adalah untuk membicarakan mengenai rencana penyerangan Permesta pada lima lokasi itu.

Di antaranya yang hadir adalah Mayor Udara Leo Wattimena yang menjadi pimpinan operasi sekaligus pimpinan para penempur cocor merah, Mustang. Selain itu hadir pula Kapten Udara Sri Muljono Herlambang dan Kapten Udara Suwondo yang memimpin tim pesawat pembom taktis B-25 Mitchell.

Sebagai pimpinan, Leo mengarahkan bawahannya untuk harus mencapai udara sebelum matahari terbit. Pasukannya terdiri dari empat pesawat pembom dan lima pesawat pemburu P-51 Mustang. Sasaran pertama dari dua pesawat B-25 ini adalah Mapanget dan Tasuka. Kedua daerah ini menurut arahan Leo, harus diserang secara bersamaan. Setelah itu kedua pesawat ini harus kembali ke pangkalan awal untuk mengisi bahan bakar, bom dan amunisi, untuk melakukan serangan berikutnya ke Morotai dan Jailolo.

Pada hari berikutnya, misi menggempur Permesta pun tiba. Tepat pukul 04:20 waktu setempat pesawat-pesawat itu melontarkan diri ke udara menuju Minahasa. Selang waktu sejenak, setelah Mustang dan Mitchell AURI telah membumbung tinggi di angkasa, sebuah pesawat B-26 Invander AUREV berkali-kali melintas wilayah itu.

Sesampainya di atas Pulau Lambe, kedua kelompok pesawat pembom kemudian memisahkan diri. Kelompok pertama terdiri dari tiga Mitchell yang dipiloti Sri Mulyono Herlambang, Soewoto Sukendar dan Soedarman yang dikawal Mustang Leo Wattimena, Dewanto dan Rusman menuju Mapanget (kini Bandara Sam Ratulangi). Sedangkan kelompok berikutnya terdiri dari sebuah B-25 yang dipiloti Suwondo dengan pengawalan dari P-51 Narayana dan Luly Wardiman yang melaju ke Tasuka.

Saat yang mendebarkan pun tiba. Tepat pukul 07:00 waktu setempat, tanpa disadari para pemberontak Permesta, mereka pun tiba-tiba muncul dari balik gunung. Begitupun para personel yang ada di pangkalan udara Mapanget itu pun kebingungan. Begitu pula yang ada di Jailolo.

Belom sempat mereka menyiapkan sistem penangkis serangan udara untuk meredam gempuran, gelombang pertama kuda besi Mustang berhasil melakukan straffing. Kedua pangkalan dihujani peluru senapan mesin kaliber 0.50.

Di Mapanget, tak lama setelah PSU-PSU itu dibabat, Mustang berikutnya yang dipiloti Rusman menyerang PBY-Catalina pemberontak yang diparkir di platform. Tembakan dengan cepat dan tepat merobek-robek pesawat amfibi itu hingga hancur dan terbakar. Rusman pun bergegas mencari sasaran empuk lainnya untuk dilumpuhkan.

Sukses diberi serangan gertakan oleh Mustang, B-25 kemudian memasuki lokasi pemboman, yang diawasi Leo dari ketinggian. Bom pembuka pun dijatuhkan oleh Mitchell yang dipiloti Sri Mulyono dengan bombardier Kapten Saleh Basarah. Namun sayang, bom konvensional seberat 2.000 kg kurang tepat menghantam sasaran, karena jatuh hanya di tepi landasan.

Menyadari hal itu, Herlambang pun segera mengontak Soedarman sebagai eksekutor bom berikutnya, untuk melakukan low level bombing. Cocor merah bernomor ekor M-423 yang ditunggangi Soedarman menukik dari ketinggian 3.000 kaki menuju target dari arah utara.

Saya tahu betul dengan terbang low level kami pasti disambut tembakan senjata-senjata penangkis serangan udara. Dan ternyata memang benar. Itulah risikonya tugas,” ungkap Soedarman.

Namun Soedarman tak menghiraukan itu. Meski dihujani peluru tajam, pesawat yang ia kemudikan tetap melaju rendah hingga ketinggian 110 kaki (35 meter). Masuk pasa final approach, Soedarman terbang dengan kecepatan penuh untuk menghindari pancaran peluru yang susul-menyusul.

Menjelang Short final itu pula, saya arahkan vizier senjata tepat ke tengah-tengah landasan. Masuk landasan, bom pertama saya jatuhkan, namun saya tetap berkonsentrasi pada vizier untuk bom-bom berikutnya. Saya tak menghiraukan bahwa kami telah masuk kubu tembakan musuh,” terangnya pada Angkasa mengenang masa itu.

Beberapa derik setelah bom pertama dihempaskan, pesawat Soedarman terasa seperti terguncang-guncang. Pesawat yang ia nahkodai itu terhunus peluru lawan, dan tetap ia tak menghiraukan itu. Baru setelah bom kedua berhasil melebutkan target pada tengah landasan, Soedarman mulai mengajak pesawatnya untuk menanjak kembali dan mencari perlindungan di deretan pohon kelapa.

Dalam radionya Leo memberikan evaluasi singkat. “Okay, penyerangan berhasil. Kita dapat enam pesawat dan landasan berhasil dirusak. Sekarang kembali ke pangkalan masing-masing untuk persiapkan serangan selanjutnya,” ujar Leo.

Atas keberaniannya dalam serangan ke sarang permesta tersebut, Soedarma dan segenap Personel AURI yang berjibaku bersamanya dianugerahi tanda jasa Satyalancana Sapta Marga. Begitulah kilas kisah perjuangan dan dedikasi Marsda TNI (Purn) pada tanah air dalam menekan gerak gerombolan Permesta di timur Indonesia.

Author: Sumardjo | rewrite: Fery Setiawan

  Angkasa  

Minggu, 13 November 2016

Kuda Hitam Untuk TNI AU

✈ Viper dan Super Hercules Randall L. Howard (kiri) dan Richard Johnston (kanan) menjelaskan keunggulan-keunggulan F-16V dan C-130J Super Hercules. [Suharso Rahman]

Kompetisi jet tempur dan pesawat angkut militer untuk TNI Angkatan Udara, diprediksi akan makin ketat mengingat sejumlah negara memberikan tawaran menarik kepada Pemerintah Indonesia terkait performa pesawat, transfer teknologi, dan offset yang menjadi syarat pembelian alutsista dari luar negeri.

Untuk pesawat tempur, selain pengganti F-5 peluang masih terbuka lebar dalam dekade ini mengingat dua skadron Hawk 100/200 yang ada di Pekanbaru dan Pontianak pada 2026 sudah harus punya pengganti karena pada masa itu Hawk 100/200 telah mengabdi 30 tahun di TNI AU. Itu artinya, dalam sepuluh tahun mulai dari sekarang TNI AU sudah harus mengkaji jet tempur mana yang paling cocok untuk menggantikan Hawk 100/200.

Wakil Asisten Perencanaan (Waasrena) KSAU, Marsma TNI Arif Mustofa, memberikan sedikit bocoran kepada Angkasa. Dikatakan, untuk pengganti Hawk 100/200 saat ini ada tiga pesawat yang sedang dikaji. Ketiganya adalah jet tempur mesin tunggal, yakni Saab Gripen, Lockheed Martin F-16 Viper, dan KAI FA-50 Golden Eagle. “Ketiga pesawat ini berpeluang, terutama Gripen dan Viper silakan bertarung,” ujar Arif di Jakarta, 1 November 2016.

Randall L. Howard, Pengembangan Bisnis F-16 Lockheed Martin, dalam ajang Indo Defence 2016 di Jakarta mengatakan, Pemerintah Indonesia tahun lalu telah menanyakan kemungkinan Indonesia membeli F-16V dan meminta penjelasan kepada Lockheed Martin mengenai performa dan harga F-16 Viper. Pemerintah AS pun telah memberikan respons pada awal 2016 dan menyatakan bahwa Indonesia bisa membeli F-16V berikut segala persenjataannya. “Ya, Pemerintah AS telah mengatakan bahwa Indonesia boleh membeli F-16V berikut segala persenjataannya,” papar Howard kepada beberapa jurnalis termasuk Angkasa.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjcCZkuViyEaeTIqx2hxZSXJBT9EhPuIeOrlkeeHMSuPieqMoHYiFh4CPlfMiUWugmYXyDAoZoQo_YN71LN-2aaW95AeZg2ilnZRHq-JjC15rttAhSPyp6Uk8P3NFFWrwXhK5pvVZ0lMpS8/s1600/F-16+Viper.+%255BLockheed+Martin%255D.jpgF-16 Viper. [Lockheed Martin]

Dijelaskan Howard, F-16V merupakan produk F-16 termutakhir dengan teknologi terkini dari seluruh keluarga F-16 yang telah diproduksi sebanyak 4.500 unit di mana 3.300 unit di antaranya saat ini masih dioperasikan di 24 negara (27 operator).

Viper dilengkapi beragam avionik canggih dan radar terbaru AESA. Lockheed Martin bukan pertama kali mengintegrasikan radar AESA, melainkan sudah punya pengalaman seperti pada F-22 Raptor, F-16 Block 60, dan F-35 Lightning II. Radar AESA yang digunakan Viper, punya komunalitas 85% dengan radar yang digunakan pada F-35,” ujar Randy panggilan Randall.

Radar AESA yang dimaksud, tidak lain adalah AN/APG-83 SABR (Scalable Agile Beam Radar) buatan Northrop Grumman yang mulai digunakan sejak 2008. Radar AESA ini merupakan turunan dari radar AESA AN/APG-77 (F-22), AN/APG-80 (F-16 Block 60), dan AN/APG-81 (F-35). SABR terpilih menjadi platform radar Viper karena kemampuannya yang terdepan dan biaya perawatannya yang paling efisien.

Efisiensi dan penghematan lainnya, akan didapat oleh operator Viper karena F-16V memiliki umur penggunaan yang panjang, yakni 12.000 jam terbang, meningkat dari umur rata-rata F-16 yang 8.000 jam terbang.

Randall menambahkan, keuntungan lain bila Indonesia mengoperasikan Viper adalah ketersediaan dukungan F-16 yang sangat luas di seluruh dunia. Dengan produksi yang sangat banyak, 3.300 unit saat ini beroperasi, tidak ada kekhawatiran Indonesia untuk tidak mendapatkan suku cadang F-16. Demikian jua dengan syarat offset atau transfer teknologi, Lockheed Martin akan memberikannya kepada Indonesia.

Perlu Anda ketahui, untuk offset dan transfer teknologi, Lockheed Martin adalah yang terbesar melakukan hal itu dengan nilai mencapai 45 miliar dolar AS di seluruh dunia. Tidak ada perusahaan lain yang bisa menandingi,” tambah Howard.

Artinya, mengenai offset, hal itu dipandang bukan sesuatu yang baru bagi Lockheed Martin. “Contohnya kami membuat F-16 di Korea, Turki, Belgia, dan negara lainnya. Dengan Indonesia pun sama. Hal yang bisa dilakukan misalnya produksi bersama komponen F-16,” tandasnya.

Randall berpromosi, dibandingkan pesawat tempur mesin tunggal sekelasnya, F-16V adalah yang terunggul. Pesawat ini terbang lebih cepat, membawa persenjataan lebih banyak, dan radius tempurnya paling jauh. Soal sebutan F-16 Viper dengan Block 70, hal itu dibenarkan oleh Howard. “Ya betul, F-16 Block 70 adalah Viper yang menggunakan mesin buatan General Electric, sementara Block 72 adalah yang menggunakan mesin Pratt & Whitney,” ujarnya.

 C-130J Super Hercules 

Bersamaan dengan penawaran F-16 Viper, pihak Lockheed Martin juga memberikan penawaran untuk pesawat angkut militer C-130J Super Hercules yang di Indonesia masuk katagori angkut berat. Pesawat ini merupakan varian terbaru dari keluarga Putra Dewa yang telah menjadi legenda hidup hingga saat ini sejak diproduksi tahun 1954.

Richard Johnston, Wakil Presiden Internasional Pengembagnan Bisnis Mobilitas Udara dan Misi Maritim Lockheed Martin, menyatakan, hingga saat ini total C-130 Hercules yang telah diproduksi di dunia mencapai 2.500 unit. Pesawat ini digunakan di 60 negara dengan pencapaian total 30 juta jam terbang hingga saat ini.

Lockheed Martin menawarkan C-130J kepada Indonesia sebagai penambah kekuatan armada C-130 B/H/HS/L-100-30 yang sejak 1960 (varian B dan KC-130B) mengabdi di TNI AU serta terbukti kehandalannya. “C-130J punya kemampuan multiperan, baik sebagai pesawat angkut militer, pesawat maritime, tanker, medevac, pemadaman api, dan sebagainya,” ujar Johnston.

Dari sisi kapasitas, C-130J dengan mesin baru, propeler baru, dan bahan material baru, mampu mengangkut kargo hingga 20 ton dengan tingkat efisiensi 47% lebih murah dari pengoperasian C-130 sebelumnya. “Pesawat ini hanya butuh satu pilot, satu kopilot, dan satu load master. Prinsipnya hanya itu karena pesawat telah dilengkapi beragam avionik digital (termasuk HUD) yang menunjang kerja pilot. Pesawat ini tidak membutuhkan lagi navigator dan flight engineer,” papar Johnston.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVDirQHhuu802vJz0Ul83S6krQczjnlcZU9x8rqKFyUDew_eC2dOTap9zG_qlj8agubCSR4rdIJnesuUoT0ang-2aErtJylflz7n3ty-wrDJT6R0dgkJeaWBtDIUEdkMahCtFw5E-I-8N0/s1600/C-130J_135th_AS_Maryland_ANG_in_flight-1024x795.jpgC-130J milik USAF. [USAF]

Ditambahkan, keuntungan lain menggunakan C-130J bagi operator Hercules adalah karena adanya banyak kesinambungan. “Hanggar, fasilitas, dan alat kerja tidak perlu baru lagi. Demikian juga dengan operator dan teknisi, amat mudah menyesuaikan,” tekan Johsnton yang penerbang C-130 (termasuk C-130J) dengan akumulasi 4.000 jam terbang ini. “Pelatihan di pesawat hanya butuh tiga hari dan satu minggu di simulator. Itu sudah cukup,” jelasnya.

TNI AU saat ini memang baru tahap memulai pengkajian baik untuk pengganti pesawat Hawk 100/200 maupun kebutuhan untuk pesawat angkut berat melengkapi sejumlah armada C-130.

Yang jelas, baik F-16 maupun C-130 keduanya punya sejarah paling panjang penggunaannya di TNI AU. F-16 sendiri telah digunakan sejak 1989 yang artinya telah 27 tahun dioperasikan TNI AU.

Apakah dengan demikian, kedua pesawat akan menjadi kuda hitam dalam kompetisi dan akhirnya dipilih oleh TNI AU sebagai rekomendasi kepada Kementerian Pertahanan? Belum bisa dikatakan demikian secepat itu.

Author: Roni Sontani

  Angkasa  

Markas Komando Wing III Paskhas di Resmikan

Di Medan https://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/c/c4/Paskhas_Bet01.jpg/220px-Paskhas_Bet01.jpgKomandan Korps Pasukan Khas Marsekal Muda TNI Adrian Wattimena meresmikan Markas Komando Wing III Paskhas yang baru pada Upacara Peresmian yang dilaksanakan di Mako Wing III Paskhas, Lanud Soewondo, Medan, Kamis, (10/11).

Dankorpaskhas menyampaikan bahwa penggelaran satuan setingkat Wing III Paskhas ini merupakan pengembangan gelar alutsista TNI Angkatan Udara dikawasan Indonesia bagian barat. Disamping itu, penggelaran Wing III Paskhas ini merupakan tindak lanjut dari rencana strategis angkatan udara 2010-2014 yang ditujukan untuk pelaksanaan tugas operasi militer perang (OMP) maupun operasi militer selain perang (OMSP) dan pembangunan kekuatan pokok minimum TNI AU tahun 2010-2024.

Acara peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti serta pemotongan pita oleh Dankorpaskhas sebagai tanda bahwa Markas Komando Wing III Paskhas telah resmi untuk digunakan. Kemudian dilanjutkan dengan peninjauan bangunan oleh Dankorpaskhas dan rombongan serta para tamu undangan. Diakhir kegiatan Dankorpaskhas beserta rombongan berkesempatan untuk bertatap muka dengan seluruh prajurit Paskhas di Medan beserta keluarga serta menyaksikan beberapa hiburan pertunjukan Liong serta Barongsai yang dimainkan oleh prajurit Yonko 469 Paskhas.

Turut hadir dalam acara tersebut antara lain Pangkosekhanudnas III Medan Marsma TNI T.B.H Age Wiraksono S.IP.,MA., Danlanud Soewondo Kolonel Pnb Arifin Sjahril, pejabat Pemprov Sumatra Utara, pejabat Pemkot Medan, pejabat Kodam I/BB, serta para tamu undangan lainnya.

  Paskhas  

Sabtu, 12 November 2016

UAV IPCD M.A.L.E Dilirik TNI AU

Untuk Mengawasi PerbatasanUAV IPCD M.A.L.E [Remigius SH]

Dalam perhelatan salah satu pameran industri pertahanan strategis terbesar di dunia, Indo Defence 2016 Expo & Forum yang diselenggarakan pada 2 hingga 5 November 2016 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, sebanyak 844 perusahaan dari 28 negara sahabat menampilkan produk unggulan mereka.

Dalam kesempatan pagelaran Indo Defence 2016 itu, TNI Angkatan Udara (AU) tengah melirik sebuah UAV anyar yang dibuat PT IPCD (Indo Pacific Communication & Defence). Pesawat tanpa awak yang berbahan 100% karbon komposit itu bernama IPCD M.A.L.E (Medium Altitude Long Endurance). Penggunaan komposit pada desain struktur menjadikan UAV ini tidak mudah terdeteksi radar.

Kita kerja sama dengan Perancis, cuma ini versi yang man, sebenarnya yang kita pasarin itu versi drone (unman). Yang versi unman kita pasarin ke Angkatan Udara akhir tahun ini, untuk pengawasan perbatasan,” terang seorang narasumber dari IPCD usai dibukanya Indo Defence 2016 Wilkie Hilman kepada Angkasa.

Lanjut ia mengatakan, bahwa kerja sama dengan perusahaan asal Perancis ini sistemnya transfer teknologi, dan sudah dibuat di Indonesia kompositnya. “Kalau pemesanan lagi berjalan tapi saya belum bisa menyebutkan berapa yang akan dibeli oleh TNI AU, ini kebijakan perusahaan,” ungkapnya.

IPCD M.A.L.E memiliki kemampuan jelajah yang tinggi dan rasio tenaga yang maksimal. UAV ini dilengkapi dengan peralatan elektronik dan payload system generasi terbaru yang menjadikan perpaduan sempurna antara teknologi tinggi dengan efesiensi operasional. Untuk payload UAV ini mampu mengangkut bobot hingga 250 kilogram.

UAV ini dapat diaplikasikan untuk misi pengawasan zona udara dan lingkungan; pemantauan aktivitas maritim; pengawasan perbatasan, perkotaan dan lalulintas; serta dapat pula melaksanakan misi pasukan khusus. Sebagai opsional, UAV hasil kerja sama IPCD dengan perusahaan asal Perancis, LH Aviation ini mengeluarkan versi yang dapat dipiloti (man version) dengan kapasitas dua orang awak.

UAV ini sengaja dikonfigurasikan dengan sensor ISR (man version) dan dapat pula dikonfigurasikan sebagai pesawat serang ringan jika dibutuhkan. Untuk perakitan, IPCD M.A.L.E hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam untuk dirakit karena menerapkan sistem modular yang sederhana. Selain itu, UAV ini juga dapat dimobilisir melalui jalur darat, laut dan udara dengan menggunakan kontainer 20 feet yang dirancang khusus.

IPCD M.A.L.E memungkinkan untuk dioperasikan pada un-prepared runway hanya dengan tiga orang kru. Untuk take off, Wilkie mengatakan bahwa UAV ini mampu menanjak hanya dengan landasan sepanjang 750 meter. Sementara untuk landing, IPCD M.A.L.E mampu mendarati landasan hanya sepanjang 650 meter.

Author: Fery Setiawan
 

  Angkasa