Tampilkan postingan dengan label Operasi Militer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Operasi Militer. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 November 2016

☆ Kisah Heroik Marsda TNI (Purn) Soedarman

✈ Melakukan Serangan Fajar ke Mapanget [tni-au.mil.id]

Tiada keinginan untuk memukul saudara sendiri, mungkin inilah pertanyaan yang menggambarkan pertentangan batin atas sejumlah gempuran perwira AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia, sekarang TNI Angkatan Udara) sarang Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) pada tahun 1958. Namun bagaimanapun, serangan atas mereka harus tetap dilakukan untuk menstabilkan keamanan nasional.

Awal tahun 1958, sebagian wilayah Sulawesi dan Maluku diibaratkan seperti daerah mati. Wilayah ini dikuasai oleh Angkatan Udara Revolusioner (kekuatan udara Permesta). Pada saat itu mereka memiliki cukup banyak pesawat militer yang kerap mengganggu penerbangan AURI. Suatu ketika pun pernah terjadi ketegangan di ruang udara Sulawesi dan Maluku, sehingga tak ada satupun pesawat udara yang berani terbang siang hari, kecuali P-51 Mustang.

Menanggapi hal tersebut, AURI pun geram dan tak mau tinggal diam. Mereka melakukan pengepungan setahap demi setahap untuk mempersempit gerak pasukan udara Permesta. Seperti halnya PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia), Permesta pada dasarnya merupakan saudara sendiri.

Basis mereka tersebar mulai dari Mapanget, Tasuka, Gorontalo, Morotai hingga Jailolo. Namun dimana kekuatan tersebut terkonsentrasi, tak seorangpun prajurit AURI ada yang mengetahuinya.

Pada 14 Mei 1958, sesuai dengan kesepakatan sejumlah (kemudian dikenal sebagai tokoh-tokoh AURI) mengadakan pertemuan singkat di sebuah bangunan sederhana dekat lapangan terbang Maumere, Flores. Kedatangan mereka ketempat itu adalah untuk membicarakan mengenai rencana penyerangan Permesta pada lima lokasi itu.

Di antaranya yang hadir adalah Mayor Udara Leo Wattimena yang menjadi pimpinan operasi sekaligus pimpinan para penempur cocor merah, Mustang. Selain itu hadir pula Kapten Udara Sri Muljono Herlambang dan Kapten Udara Suwondo yang memimpin tim pesawat pembom taktis B-25 Mitchell.

Sebagai pimpinan, Leo mengarahkan bawahannya untuk harus mencapai udara sebelum matahari terbit. Pasukannya terdiri dari empat pesawat pembom dan lima pesawat pemburu P-51 Mustang. Sasaran pertama dari dua pesawat B-25 ini adalah Mapanget dan Tasuka. Kedua daerah ini menurut arahan Leo, harus diserang secara bersamaan. Setelah itu kedua pesawat ini harus kembali ke pangkalan awal untuk mengisi bahan bakar, bom dan amunisi, untuk melakukan serangan berikutnya ke Morotai dan Jailolo.

Pada hari berikutnya, misi menggempur Permesta pun tiba. Tepat pukul 04:20 waktu setempat pesawat-pesawat itu melontarkan diri ke udara menuju Minahasa. Selang waktu sejenak, setelah Mustang dan Mitchell AURI telah membumbung tinggi di angkasa, sebuah pesawat B-26 Invander AUREV berkali-kali melintas wilayah itu.

Sesampainya di atas Pulau Lambe, kedua kelompok pesawat pembom kemudian memisahkan diri. Kelompok pertama terdiri dari tiga Mitchell yang dipiloti Sri Mulyono Herlambang, Soewoto Sukendar dan Soedarman yang dikawal Mustang Leo Wattimena, Dewanto dan Rusman menuju Mapanget (kini Bandara Sam Ratulangi). Sedangkan kelompok berikutnya terdiri dari sebuah B-25 yang dipiloti Suwondo dengan pengawalan dari P-51 Narayana dan Luly Wardiman yang melaju ke Tasuka.

Saat yang mendebarkan pun tiba. Tepat pukul 07:00 waktu setempat, tanpa disadari para pemberontak Permesta, mereka pun tiba-tiba muncul dari balik gunung. Begitupun para personel yang ada di pangkalan udara Mapanget itu pun kebingungan. Begitu pula yang ada di Jailolo.

Belom sempat mereka menyiapkan sistem penangkis serangan udara untuk meredam gempuran, gelombang pertama kuda besi Mustang berhasil melakukan straffing. Kedua pangkalan dihujani peluru senapan mesin kaliber 0.50.

Di Mapanget, tak lama setelah PSU-PSU itu dibabat, Mustang berikutnya yang dipiloti Rusman menyerang PBY-Catalina pemberontak yang diparkir di platform. Tembakan dengan cepat dan tepat merobek-robek pesawat amfibi itu hingga hancur dan terbakar. Rusman pun bergegas mencari sasaran empuk lainnya untuk dilumpuhkan.

Sukses diberi serangan gertakan oleh Mustang, B-25 kemudian memasuki lokasi pemboman, yang diawasi Leo dari ketinggian. Bom pembuka pun dijatuhkan oleh Mitchell yang dipiloti Sri Mulyono dengan bombardier Kapten Saleh Basarah. Namun sayang, bom konvensional seberat 2.000 kg kurang tepat menghantam sasaran, karena jatuh hanya di tepi landasan.

Menyadari hal itu, Herlambang pun segera mengontak Soedarman sebagai eksekutor bom berikutnya, untuk melakukan low level bombing. Cocor merah bernomor ekor M-423 yang ditunggangi Soedarman menukik dari ketinggian 3.000 kaki menuju target dari arah utara.

“Saya tahu betul dengan terbang low level kami pasti disambut tembakan senjata-senjata penangkis serangan udara. Dan ternyata memang benar. Itulah risikonya tugas,” ungkap Soedarman.

Namun Soedarman tak menghiraukan itu. Meski dihujani peluru tajam, pesawat yang ia kemudikan tetap melaju rendah hingga ketinggian 110 kaki (35 meter). Masuk pasa final approach, Soedarman terbang dengan kecepatan penuh untuk menghindari pancaran peluru yang susul-menyusul.

“Menjelang Short final itu pula, saya arahkan vizier senjata tepat ke tengah-tengah landasan. Masuk landasan, bom pertama saya jatuhkan, namun saya tetap berkonsentrasi pada vizier untuk bom-bom berikutnya. Saya tak menghiraukan bahwa kami telah masuk kubu tembakan musuh,” terangnya pada Angkasa mengenang masa itu.

Beberapa derik setelah bom pertama dihempaskan, pesawat Soedarman terasa seperti terguncang-guncang. Pesawat yang ia nahkodai itu terhunus peluru lawan, dan tetap ia tak menghiraukan itu. Baru setelah bom kedua berhasil melebutkan target pada tengah landasan, Soedarman mulai mengajak pesawatnya untuk menanjak kembali dan mencari perlindungan di deretan pohon kelapa.

Dalam radionya Leo memberikan evaluasi singkat. “Okay, penyerangan berhasil. Kita dapat enam pesawat dan landasan berhasil dirusak. Sekarang kembali ke pangkalan masing-masing untuk persiapkan serangan selanjutnya,” ujar Leo.

Atas keberaniannya dalam serangan ke sarang permesta tersebut, Soedarma dan segenap Personel AURI yang berjibaku bersamanya dianugerahi tanda jasa Satyalancana Sapta Marga. Begitulah kilas kisah perjuangan dan dedikasi Marsda TNI (Purn) pada tanah air dalam menekan gerak gerombolan Permesta di timur Indonesia.

Author: Sumardjo | rewrite: Fery Setiawan

  ✈ Angkasa  

Minggu, 06 November 2016

Tank Buatan Pindad Seharga Rp 50 Miliar

Pengembangan medium Tank sendiri melibatkan TNI AD dalam hal ini Dislitbang, Pussenkav dan Pusdikpal sebagai pengguna.Medium tank PT Pindad dan FNSS [FNSS] ☆

Indonesia memiliki mimpi besar terhadap kemandirian Industri pertahanan. Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) pun menyusun tujuh program nasional yaitu program pesawat tempur KFX/IFX, kapal selam, industri propelan, roket, peluru kendali, radar, dan medium tank.

"Sudah seharusnya kita mandiri. Kita punya SDM yang bagus, industri kita juga sudah mulai bangkit. Mari bangun industri hulu dan hilir kita agar tidak tergantung pihak asing dan membantu perekonomian kita," ucap Anggota KKIP bidang teknologi Laksamana Muda (purn) Rachmad Lubis di pameran Indodefence 2016, Kemayoran, Jakarta.

PT. Pindad sendiri dipercayakan mengembangkan medium tank bekerjasama FNSS asal Turki. Kerjasama joint development medium tank telah dimulai pada 29 Juni 2010 silam setelah Kementerian Pertahanan kedua negara menandatangani persetujuan kerjasama industri pertahanan (Defence Industry Cooperation) di Ankara Turki.

Di lokasi yang sama, Kepala Divisi Pengembangan Proses PT Pindad Hery Mochtadi mengatakan saat ini pengembangan medium tank telah masuk proses pembuatan Hull di Turki. Bulan Desember 2016 beberapa komponen akan di kirim ke Indonesia untuk dirakit disini.

"Sekarang ini kita sudah mulai proses pembuatan body hull di Turki untuk prototipe pertama. Mungkin nanti awal Desember sudah dikirim ke Indonesia body kit hullnya untuk di las di Indonesia. Jadi secara produknya mungkin sekitar 30 persen. tapi untuk desain kita sudah 95 persen tinggal fabrikasinya," tutur Hery.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKIgPmkBU121etusgS3Z-BUkzBm8XZYwf7HVFAwqtlrQlPudY12pcSd0_ktRSXRWzlIPLp_PIDgwTpbeU61oOB5r3MvAAjUhVh8rlKrFCNB9MQWE8hAZZ0Q5rW2nwRTjDMjYWswjquJ91x/s1600/pindad.jpg"Kita untuk tahun ini sudah kirim 20 orang. Jadi tim engineering kita sudah 20 orang udah selesai nah sekarang yang kita kirim adalah tim manufaktur sekarang ada 4 orang di Turki. Nanti akhir November kita akan kirim lagi 3 orang. Target kita kira-kira 50 orang kita latih dari sisi engineering, manufacture sampai quality. Itu kita latih untuk bisa menangani project ini," tambahnya.

Pengembangan medium Tank sendiri melibatkan TNI AD dalam hal ini Dislitbang, Pussenkav dan Pusdikpal sebagai pengguna.

"Jadi persyaratan requirementnya, itu kita dapat dari TNI AD ada opsreqnya. Di sana ada Pussenkav dan Ditpalad itu sebagai mitra kita dalam pengembangan desain ini. Ini hasil kolaborasi desain ini. Hingga ke Turki," jelasnya.

 Kecepatan dan Harga
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEikUUcuST50VftCUqt_iKoZgbopcCyDDY9IPOzn7yB1jaNXLf_PioLTaRGGN4BGt3hA5G6Hdi08pte93YT-wzFMyPYvDCAPW3DrMmJ-I6p599xqLoBIgvGNCvNJMde6yhgOP2TQjn3GhAec/s1600/CwQK59fUEAA_TAl.jpgMenurut Hery, banyak keunggulan medium tank yang sedang dikembangkan ini mulai kecepatan hingga masalah harga. Medium Tank PT Pindad dan FNSS ini bakal lebih murah dibanding kompetitor.

"Kecepatan bisa sampai 70 km/jam, tank rata2 cuman bisa sampai 60 km/jam. Kalau harga kita punya pesaing misalnya K21 Korea itu harganya sekitar Rp 45 milliar, CV 90 itu Rp 60 milliar tapi turetnya lebih kecil. Untuk kita harapannya di bawah mereka, tapi dengan 105 mm. Perkiraannya harganya tidak jauh dengan Korea di angka Rp 45-50 milliar per unit," tambahnya.

Tidak sampai disitu, armour medium tank juga bisa di upgrade hingga STANAG 4569 level 5 yakni mampu menahan munisi kaliber 25 mm APDS-T. Sedangkan untuk peralatan misi disiapkan Wireless Crew Intercom System, Navigation System, Battlefield Management System (BMS), Laser Warning System (LWS) hingga perlindungan 360 derajat.

Dengan mengadopsi lambung V shaped, Medium Tank dapat meminimalisir resiko ranjau darat hingga level 4. Medium tank ini juga harus bisa menanjak di sudut 37 derajat dan untuk jarak jelajahnya hingg 450 km.

"Untuk armour level 5 bisa sampai 30 mm, untuk APDS bisa 25 mm itu bisa sampai kesana. Untuk main protectionnya level 4 bisa 10 kg TNT. Selain itu, ini turretnya modular, kita bisa pakai 105, 90, atau 35 tergantung usernya," jelasnya.

Untuk Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN)nya, Hery menambahkan pihaknya menggandeng sejumlah perusahaan dalam negeri. Diharapkan, keikutsertaan perusahaan dalam negeri ini membuat TKDN menjadi besar.

"Untuk TKDN secara mesin, atau Turet kita masih dari luar tapi untuk fabrikasinya kita bisa dalam negeri. Untuk Alat komunikasinya kita pakai PT Len, BMS dari PT Hariff Daya Tunggal Engineering, dan track linknya juga kita bisa dalam negeri seperti di Indopulley," kata Hery.

Mediun Tank PT Pindad dan FNSS ini memiliki lebar 3.2 meter, tinggi 2.7 meter dan panjang hampir 7 meter. Menggunakan mesin diesel generasi baru dengan di tambah transmisi otomatis Medium tank memiliki power to weight ratio 20 hp/ton dan bobot tidak lebih dari 30 ton.

"Harapannya 5 Oktober tahun depan nanti sudah hadir di Indonesia dan kita bisa hadirkan di HUT TNI," tutupnya.
 

  ☆ Otonomi