Tampilkan postingan dengan label BUMNIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUMNIS. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 November 2016

Nigeria Siap Borong Pesawat N-219

✈ Karya Anak Bangsa N-219, Pesawat di Kawasan Perintis Karya Anak Bangsa (PT DI)

Indonesia saat ini menjadi negara yang memiliki perkembangan industri dirgantara yang mulai diperhitungkan di dunia. Melalui PT Dirgantara Indonesia (Persero), berbagai produk yang diciptakannya mulai banyak digunakan negara lain.

Yang terbaru, PTDI tengah mengembangkan pesawat jenis turboprop (balik-baling) yang digunakan untuk penerbangan komersil jarak pendek. Pesawat ini dinamakan N-219. Saat‎ ini pesawat anyar itu sudah diperkenalkan keluar hanggar, namun beberapa komponennya masih dalam proses sertifikasi.

Direktur Utama PTDI Budi Santoso m‎engungkapkan meski belum melakukan terbang perdana, namun dari hasil pameran yang diselenggarakan, sudah banyak pihak yang menyatakan minatnya untuk membeli pesawat ini.

Tak tanggung-tanggung, negara asal benua Afrika, Nigeria juga menyatakan siap memborong pesawat tersebut jika nantinya telah diproduksi.

"Salah satunya (Nigeria), bahkan mereka menawarkan untuk assembly di sana, mereka siap beli 100 pesawat," kata Budi saat berbincang dengan Liputan6.com seperti ditulis, Sabtu (18/11/2016).

http://images.detik.com/customthumb/2015/12/10/157/cawat8.jpg?w=780&q=90Meski begitu, Budi mengaku belum bisa memutuskan pernyataan menggembirakan dari Nigeria tersebut. Saat ini PTDI tengah konsentrasi melakukan sertifikasi dan setelah itu akan dilakukan terbang perdana. "Kalau sudah terbang, nanti baru kita bicarakan lagi soal komitmen itu," tegas Budi.

Seperti dikatakan Budi sebelumnya, beberapa perusahaan asal Benua Afrika tersebut, banyak pesawat dengan tipe yang sama yang banyak digunakan di negaranya namun kini berusia uzur. Ini karena produsen pesawat tersebut sudah tidak memproduksinya lagi.

Untuk itu, mereka memburu N-219 ini karena pesawat jenis ini akan menjadi idola baru‎ di langit-langit Afrika nantinya. Komitmen ini diakui Budi menjadi semangat tersendiri bagi PT DI untuk segera merampungkan produksi N-219. "Jadi mereka melihat ini untuk masa depannya Afrika," tambah Budi.

‎Tak hanya perusahaan luar negeri, Budi mengaku juga telah disiapkan perjanjian jual beli dengan perusahaan dalam negeri. Perusahaan ini dikatakannya siap membeli 40-60 unit N219. Hanya saja Budi masih enggan menandatangani kontrak tersebut sebelum N-219 terbang perdana.

Tak mau menyebutkan nama perusahaan itu, Budi hanya menjelaskan jika ini memiliki bisnis di penerbangan perintis.

"Buat saya itu 40-60 unit itu produksinya sekitar 3-4 tahun. Kan sekarang 12 unit per tahun, nanti akan naik jadi 24 unit pesawat per tahun. Jadi ini yang kita kerjakan," papar dia. (Yas/Ndw)

  Liputan 6  

Pindad dan Theon Luncurkan Pindad Optronics Workshop

✈ Multi Purpose Night Vision Sight Pada pagelaran Indo Defence 2016, PT Pindad (Persero) dan perusahaan system optronic dari Yunani, Theon meluncurkan proyek kerjasama bersama yang diber nama PIndad Optronics Workshop. Menteri Pertahanan Yunani, Panos Kammenos menghadiri acara peluncuran ini dengan didampingi dengan Direktur Utama PT Pindad (Persero) Abraham Mose dan jajaran manajemen.

Ruang lingkup kerjasama Pindad dan Theon meliputi produksi bersama Teropong Bidik Senapan Malam (TBSM) di Pindad, pembangunan lini assembly dan penjualan bersama. MoU kerjasama telah ditandatangani sejak Februari 2015, saat ini pembangunan fasilitas dan lini produksi memasuki tahap akhir sehingga pada awal 2017 dapat memasuki proses produksi.

TBSM hasil kerjasama Pindad dan Theon ini akan diproduksi di Indonesia dengan memaksimalkan penggunaan material dari dalam negeri, didesain untuk memiliki resolusi tinggi, performa yang baik dan praktis penggunaannya. Teropong dibuat untuk memenuhi kebutuhan prajurit di lapangan dalam operasi militer di malam hari dan memenuhi Minimum Esential Force (MEF) TNI dengan potensi pasar meliputi Mabes TNI, TNI AD, Polri dan pasar Ekspor.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiOBVkynP7GSRdReDgItHHQU_5AYFdzwM9F4Q8iMKQCHz_z5GllY_QGyis5ZcO9vmBFQRcN9vZYF_Rkx2kTcA475ydDkbywFRvi73oh-AHTd3kQRa1mKQwxZHci0sj8VSMdDPZMIqPwp_M/s1600/NX-122C.jpg"Senapan kami sudah mendukung performa TNI sejak lama dan menjadi senjata organik yang dipakai para prajurit di lapangan. TBSM yang akan kami produksi bersama akan didesain khusus agar kompatibel dengan senjata yang diproduksi Pindad dan sudah dipergunakan di lapangan," tutur Direktur Utama Pindad, Abraham Mose.

Teropong tersebut nantinya dapat dipasang untuk berbagai senjata, terutama buatan Pindad yang telah tersebar di berbagai satuan seperti SS2 dan kompatibel dengan Trijicon. Tipe teropong yang akan dibuat meliputi Damon, Erebus, Mini Weapon Sight serta jenis night vision lainnya sesuai kebutuhan.

Instrumen Optik dalam TBSM dibuat dengan teknologi tinggi yang memungkinkan pemakainya melihat dalam keadaan gelap pada kondisi malam hari, di dalam hutan dan medan dengan kondisi cahaya yang minim.

Kerjasama yang dirintis Pindad dengan salah satu pemimpin pasar global memiliki harapan bahwa proses alih teknologi yang dilakukan akan berjalan secara lebih maksimal dan akan berujung pada penguasaan teknologi perusahaan akan meningkat. (Anggia)

  Pindad  

Jumat, 18 November 2016

PTDI Didorong Manfaatkan Fasilitas Dana Penugasan Khusus

Ekspor Pesawat2 unit NC212i pesanan Filipina siap diserahterimakan. [detik]

Kementerian Perindustrian (Kemenprin) mendorong PT Dirgantara Indonesia (DI) untuk ekspor pesawat ke beberapa negara dengan memanfaatkan dana penugasan khusus, national interest account (NIA), yang digunakan sebagai kredit pembeli dan modal kerja.

Skema NIA dinilai potensial untuk memperkuat kemampuan ekspor perusahaan di tengah kondisi ekonomi global yang melambat.

Dukungan dari pemerintah pada tahap pertama adalah buyers credit untuk ke beberapa negara yang memang memerlukan pembiayaan dari kita," jelas Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Haris Munandar melalui keterangan resmi, Jumat (18/11/2016).

Menurut Haris, mekanisme kredit pembeli bisa diterapkan pada ekspor ke negara-negara yang kemampuan finansialnya terbatas, seperti Senegal atau Nepal, agar aliran kas PT DI tidak terganggu.

PT DI juga bisa memanfaatkan dana NIA sebagai modal kerja produksi pesawat untuk diekspor ke negara-negara yang memiliki pendanaan kuat seperti Uni Emirat Arab maupun Thailand.

Selanjutnya, pinjaman bisa untuk memperkuat working capital supaya pengadaan bahan baku lancar, delivery lebih cepat dan tidak ada hambatan. Soalnya banyak aktivitas ekspor perusahaan terganggu karena modal kerja ini,” tuturnya.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCCn6_r1JXjJO7NiJL3wSRp5hZfvC2RTAT1OwyglH9WcNWvgEwqGDrx_NH6tyZJvRmDDuj7_PbeF7XfgbjoMzgJXZDJZ945CJcMZSQnpUWnOUkvYZ8jxdZMciQe2jM85GSQy0EwO6h_Hvm/s1600/13724697_New+CN-235+MPA+TNI-AU.+Credit+to+Marchel..jpgPemerintah menyediakan dana NIA melalui Indonesia Exim bank untuk memberikan pembiayaan ekspor atas transaksi atau proyek yang secara komersial sulit terlaksana, namun dinilai perlu.

Pada tahun 2016, dana yang tersedia dalam NIA mencapai Rp 2,2 triliun dan tidak sepenuhnya terpakai.

Pada tahun depan, pemerintah kembali menyuntikkan dana ke dalam NIA hingga total dana yang tersedia pada 2017 mencapai Rp 4,2 triliun.

Dana yang disiapkan Indonesia Exim bank cukup besar, dan itu dana bergulir,” kata Haris.

Sementara itu, Direktur Utama Budi Santoso menjelaskan, dana Indonesia Exim bank akan digunakan untuk mendukung rencana ekspor pesawat N-235 dan N-212.

PT DI mengajukan penggunaan dana NIA senilai Rp 400 miliar untuk mendukung aktivitas ekspor perusahaan ke beberapa negara Afrika dan Asia.

"Kami mencoba untuk ekspor, beberapa negara punya uang, tetapi beberapa negara masih butuh financing,” tuturnya.

Menurut Budi, kedua jenis pesawat tersebut layak mendapatkan dukungan dana dari NIA karena merupakan produk hasil pengembangan nasional hingga dikuasai 100 persen oleh PT DI.

"Pesawat-pesawat itu adalah milik kita seluruhnya. Harga pesawat N-235 sekitar 25 juta dollar AS, sedangkan N-212 kira-kira separuhnya,” ujarnya.
 

  Kompas  

Kamis, 17 November 2016

Kemenperin Dukung Ekspor Pesawat PT Dirgantara Indonesia

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxf1XYWVKMPPHhcAIBLttdDUCPYj6mCyJvZkjTpx4-6FEoY2tGftQuar-kjja7sqpNGNlMUnrtHRwxQKuXy3lP2ov-iJPjk2EG2zYzbPIy-j6O9PcPDw0ywjA1mO7tYR2RWJUphrN8T6n0/s1600/n219-ptdi.jpgIlustrasi N219 PTDI

P
ementerian Perindustrian mendukung ekspor pesawat yang dilakukan PT Dirgantara Indonesia (DI) ke beberapa negara menggunakan pembiayaan buyer's credit dengan skema National Interest Account (NIA) oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank.

Demikian disampaikan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian Haris Munandar usai mendampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bertemu direksi PT DI.

"Ini kan masalah pembiayaan. Nah ini nanti dukungan dari pemerintah untuk tahap pertama ini adalah buyer's credit untuk beberapa negara yang memang memerlukan pembiayaan dari kita. Jadi kita memberikan kredit kepada asing yang mau membeli pesawat," kata Haris di Jakarta, Rabu.

Menurut Haris, nilai dari pembiayaan tersebut mencapai Rp 400 miliar untuk ekspor pesawat PT DI ke beberapa negara seperti seperti Thailand, Filipina, Nepal, Senegal dan Uni Emirat Arab.

"Tapi, tidak semuanya memanfaatkan pembiayaan tersebut, karena hanya beberapa negara yang membutuhkan seperti Nepal dan Senegal. Kalau negara kaya ya tidak perlu," ungkap Haris.

Kendati demikian, pembiayaan yang diajukan juga dapat digunakan sebagai modal kerja PT DI untuk meningkatkan daya saing produknya yang akan diekspor.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCCn6_r1JXjJO7NiJL3wSRp5hZfvC2RTAT1OwyglH9WcNWvgEwqGDrx_NH6tyZJvRmDDuj7_PbeF7XfgbjoMzgJXZDJZ945CJcMZSQnpUWnOUkvYZ8jxdZMciQe2jM85GSQy0EwO6h_Hvm/s1600/13724697_New+CN-235+MPA+TNI-AU.+Credit+to+Marchel..jpg"Kalau Thailand dan Uni Emirat Arab kan tidak perlu. Maka, buyer's credit yang diajukan akan menjadi modal kerja, sehingga harga pesawat tersebut akan kompetitif jika dijual ke luar negeri," pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT DI Budi santoso menyampaikan, perusahaan tengah berupaya menggenjot ekspor hingga 2018.

"Kalau kita melihat pangsa pasar kita, kita tidak bisa ketergantungan pada APBN, pada pembelian dari pemerintah. Nah, kita targetkan 2018 akan meningkatkan ekspor," ujar Budi.

Budi menilai, PT DI akan menyasar negara-negara di Afrika untuk pasar ekspor selanjutnya, karena melihat potensi yang kebituhan yang tinggi.

Menurutnya, skema pembiayaan dari LPEI dapat menunjang ekspor pesawat ke negara Afrika yang notabene membutuhkan pendanaan dalam pembeliannya.

"Dengan adanya NIA ini, kenapa tidak di push ekspor untuk pendapatan negara. Jadi, bisa dimanfaatkan untuk pendanaan maupun kami sebagai produsen untuk working capital," tukasnya.

Adapun beberapa negara saat ini telah menggunakan pesawat buatan PT DI, di antaranya Vietnam, Filipina dan Thailand untuk jenis pesawat NC212.

Sementara Uni Emirat Arab dan Korea Selatan menggunakan pesawat CN235 buatan PT DI.

  ★ Antara  

Rabu, 09 November 2016

Kerjasama PTDI dan KAI

Buat Pesawat Tanpa Awak Modernhttp://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/boot-ptdi-di-penyelenggaraan-indo-defence-aerospace-helicopter-and-_161109163553-310.jpgBooth PTDI di penyelenggaraan Indo Defence, Aerospace, Helicopter and Marine 2016 Expo & Forum. ☆

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman untuk Implementasi Strategic Cooperation Agreement (SCA) dengan Korea Aerospace Industries (KAI), Ltd. PTDI nantinya akan menjadi perusahaan resmi yang ditunjuk oleh KAI untuk melakukan dukungan pemeliharaan, perbaikan dan overhaul termasuk sustainability, modifikasi dan upgrading untuk pesawat tempur T50i Golden Eagle dan pesawat latih militer KT1B.

SCA ditandatangani oleh Direktur Niaga dan Restrukturisasi PTDI, Budiman Saleh bersama Senior Executive Vice President & General Manager Research & Development Group Division, Jang Sung Sub dan disaksikan langsung Menteri Pertahanan RI, Ryamizard Ryacudu, Direktur Utama PTDI, Budi Santoso, CEO KAI, Ha Sung Yong bersama Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Cho Tai Young.

PTDI dan KAI juga akan melakukan pengembangan bersama untuk pesawat terbang tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV), dengan konsep pembelajaran dan desain, termasuk nantinya akan dilakukan survey untuk melihat kebutuhan pengguna dan analisa resiko. Diharapkan kerja sama ini akan dapat menghasilkan pesawat tanpa awak generasi selanjutnya yang lebih modern dan dibutuhkan pasar.

Sebelumnya, PTDI telah berhasil membuat Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) Wulung yang dikembangkan bersama dengan BPPT, dan Balitbang Kemhan RI dan telah berhasil mendapatkan sertifikat tipe (Type Certificate) dari Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA) Kementerian Pertahanan RI. Dengan didapatkannya Type Certificate PTTA Wulung dari IMAA, PTTA Wulung telah memenuhi regulasi dan siap untuk diproduksi secara massal.

Dalam kerja sama di bidang pemasaran, akan dibentuk komite untuk mempelajari dan menganalisa pasar potensial seluruh produk yang dihasilkan PTDI dan KAI dan akan ditetapkan strategi dari masing-masing produk untuk dapat memenangkan persaingan di pasar alutsista dalam negeri dan luar negeri. Kerja sama jangka panjang ini nantinya akan menghasilkan sinergi dan integrasi marketing dan komersial serta berkembang ke kerja sama untuk ekspor pesawat tempur KFX/IFX.

Kedua Pihak setuju untuk melakukan kerja sama pemasaran CN235 dan KUH-1 di Indonesian dan Korea Selatan serta untuk mengembangkan potensi pasar bersama-sama. Saat ini, Indonesia mengoperasikan lebih dari 200 unit helikopter militer dan para-public, sehingga diperkirakan adanya permintaan besar pergantian unit karena penuaan usia armada yang sudah ada. Selanjutnya, pengenalan masing-masing produk di kedua Negara diharapkan akan menjadi unggulan dalam pengembangan pasar di kawanan asia tenggara.

Setelah penandatanganan Implementasi Strategic Cooperation Agreement (SCA) diharapkan seluruh program dan kegiatan terkait dengan pembangunan dan penguasaan teknologi pesawat tempur dapat diselesaikan dengan lancar dan tepat waktu. Keberlanjutan program pesawat tempur KFX/IFX akan dilaksanakan secara simultan sejalan dengan pelaksanaan fase Engineering and Manufacturing Development (EMD).

Program KFX/IFX fase Engineering and Manufacturing Development (EMD) merupakan program 10 tahun dimulai dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2026. Saat ini PTDI telah mengirimkan sebanyak 70 orang engineer baik yang senior maupun yunior yang dikirimkan ke Korea Selatan, dan jumlah ini akan meningkat setiap tahunnya serta akan mencapai puncaknya di tahun 2022 dimana akan ada hampir 200 engineer yang dikirimkan ke Korea Selatan.

"Kami akan kirim 200 sampai 300 orang ke Korea," kata Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (Persero), Budi Santoso, melalui siaran pers.

Ditargetkan di tahun 2021 pesawat tempur KFX/IFX bisa diperkenalkan ke publik, kemudian membuat prototype ke-5 yang diproduksi di PTDI di tahun 2022. Setelah itu akan dikirimkan ke Korea Selatan untuk disempurnakan dan akan dikirimkan kembali ke Indonesia sebagai flying test bed untuk pengembangan dan wahana pembelajaran generasi muda PTDI. Dan diharapkan pesawat tempur KFX/IFX bisa mendapatkan Type Certificate di tahun 2025.

  Republika  

Selasa, 08 November 2016

[Foto] Kapal Perang Produksi PT PAL

Kapal SSV kedua pesanan Filipina dan PKR 10514 kedua pesanan TNI AL Penampakan aktifitas pekerja PT PAL menyelesaikan kapal perang pesanan Filipina dan TNI AL di Surabaya.


Sejumlah pekerja beraktivitas di dekat kapal perang jenis Strategic Sealift Vessel (SSV) di Galangan Divisi Kapal Niaga PT PAL Indonesia (Persero), Surabaya, Jawa Timur, Selasa (8/11). [ANTARA FOTO/Irfan Anshori/foc/16.]

Kapal perang kedua pesanan Filipina yang pengerjaannya sudah memasuki tahap pemasangan akomodasi (outfitting) tersebut diperkirakan selesai lebih cepat dua bulan dari target yang ditentukan sebelumnya yakni Mei 2017. [ANTARA FOTO/Irfan Anshori/foc/16.]
Kapal Perang Jenis Perusak Kawal Rudal

Kapal perang jenis Perusak Kawal Rudal (PKR)-2 KRI I GUSTI NGURAH RAI-332 di Galangan Divisi Kapal Niaga PT PAL Indonesia (Persero), Surabaya, Jawa Timur, Selasa (8/11). [ANTARA/Irfan Anshori]
Kapal Perang Jenis Perusak Kawal Rudal

Kapal PKR-2 tersebut merupakan kapal canggih kelas frigate yang dikerjakan bersama (Joint Production) antara PT PAL dengan Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Belanda untuk Kementerian Pertahanan. [ANTARA/Irfan Anshori]
Dikerjakan bersama antara PT PAL dengan Damen Schelde Naval Shipbuilding Belanda

Ditargetkan selesai pengerjaannya pada bulan Oktober tahun 2017. [ANTARA/Irfan Anshori]
  Garuda Militer  

Senin, 07 November 2016

[Video] Kerjasama Saab dengan PT Pindad

RBS 70 NG dan Radar Giraffe 1X AESA di rantis Komodo https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh80668wbs31eb6S_wN89IMUmjQ4O5B3JhiX9cHJPyVqov990mljxC3aa1DjmgfKEifrDSdiLir9qsPfK9YGOyJ9mzxIvXhhswgTRfWowpjXmt8mfzQK2qHgqQCC68YJ1l6e7zlLSmkdzU9/s1600/14908199_komodo+girafe+X1+def.pk.jpgIlustrasi model radar Giraffe 1X dipasang pada rantis Komodo [defence.pk] ☆

Seperti banyak negara lain, dalam mengembangkan industri pertahanan dalam negeri, transfer teknologi dan penawaran offset menjadi prioritas utama bagi Indonesia dalam kesepakatan dengan mitra internasional.

Salah satu perusahaan barat yang membantu Indonesia dalam membangun kemampuan dalam negeri tersebut adalah perusahaan Swedia, Saab, yang telah menandatangani perjanjian dengan PT Pindad untuk fokus pada Ground Base Air Defence (GBAD).

Perjanjian dimaksud adalah sistem rudal RBS 70 NG dan radar Giraffe 1X AESA, yang akan diintegrasikan dengan kendaraan Komodo 4×4 produk PT Pindad. Contoh itu diperlihatkan di pameran Indo Defence 2016, di Jakarta.

Transfer teknologi direncanakan akan dilakukan pada pembuatan komponen less-advanced dari kedua sistem. Harapannya bahwa di masa depan, setelah Indonesia memperoleh pengalaman teknis yang memadai, mereka akan dapat memproduksi bagian-bagian yang lebih kompleks dan akhirnya mencapai transfer teknologi penuh.

Salah satu langkah pertama yang akan menjadi program pelayanan seumur hidup untuk rudal RBS 70 Indonesia, ujar Rickard Svensson, direktur bisnis Saab untuk kawasan Asia Pasifik. [Shephardmedia]

 Video liputan shephardmedia dari youtube : 


  Garuda Militer  

Minggu, 06 November 2016

Delegasi AU Filipina Tinjau NC212i Pesanannya

✈ Kunjungan Delegasi AU Filipina [PTDI]

Pesawat NC212i yang telah dipesan Filipina siap dikirimkan. Untuk melihat pesawat pesanannya tersebut, Under Secretary Phillipines Air Force (USEC PAF), Raymundo Elefante didampingi Chief of Air Staff Phillipines Air Force, Mayor Jenderal Roz Briguez berkunjung ke PT Dirgantara Indonesia (Persero) di Bandung tadi pagi (4/11/2016).

Direktur Niaga dan Restrukturisasi PTDI Budiman Saleh yang menerima kunjungan tersebut mengatakan, ”Mereka mau melakukan inspeksi, training, dan delivery.” Untuk latihan pengoperasiannya akan dilaksanakan pada Januari 2017, sementara pengirimannya setelah pelatihan tersebut. Budiman pun menyebut, harga dua pesawat NC212i pesanan Filipina itu, termasuk suku cadangnya, sekitar 19 juta dolar AS.

http://img.jakpost.net/c/2016/11/04/2016_11_04_15389_1478270053._large.jpgMenjaga hubungan baik antar-negara ASEAN menjadi salah satu alasan kenapa Filipina memesanan dua pesawat buatan PTDI itu. “Kami sengaja mengalihkan perhatian ke negara-negara tetangga. Harganya juga sangat kompetitif,” ujar Mayor Jenderal Raymundo. Di samping itu, fitur-fitur yang dibutuhkan oleh militer Filipina juga cocok, seperti untuk mengangkut dan dropping pasukan.

Sebelumnya, rombongan dari Filipina itu berkunjung ke booth PTDI di Indo Defence 2016 Expo & Forum di Jakarta. Di ajang promosi peralatan pertahanan itu, PTDI memang mengenalkan pesawat multiguna generasi terbaru dari NC212 itu. NC212i berdaya angkut 28 penumpang, memiliki ramp door, kabin yang luas, serta sistem navigasi dan komunikasi yang modern. Biaya operasinya lebih rendah dibandingkan pesawat sekelasnya, sehingga kompetitif di pasar pesawat kecil.

https://lancercell.files.wordpress.com/2016/08/nc-212i-filipina.jpg?w=863Saat ini, PTDI sedang membuat tiga pesawat NC212i pesanan dari Vietnam, yang seluruh proses pembuatan strukturnya dikerjakan seluruhnya di Bandung. PTDI ditargetkan untuk mendapatkan sertifikasi EASA pada akhir tahun ini atau awal tahun 2017.

Author: Reni R.

  Angkasa  

Tank Buatan Pindad Seharga Rp 50 Miliar

Pengembangan medium Tank sendiri melibatkan TNI AD dalam hal ini Dislitbang, Pussenkav dan Pusdikpal sebagai pengguna.Medium tank PT Pindad dan FNSS [FNSS]

Indonesia memiliki mimpi besar terhadap kemandirian Industri pertahanan. Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) pun menyusun tujuh program nasional yaitu program pesawat tempur KFX/IFX, kapal selam, industri propelan, roket, peluru kendali, radar, dan medium tank.

"Sudah seharusnya kita mandiri. Kita punya SDM yang bagus, industri kita juga sudah mulai bangkit. Mari bangun industri hulu dan hilir kita agar tidak tergantung pihak asing dan membantu perekonomian kita," ucap Anggota KKIP bidang teknologi Laksamana Muda (purn) Rachmad Lubis di pameran Indodefence 2016, Kemayoran, Jakarta.

PT. Pindad sendiri dipercayakan mengembangkan medium tank bekerjasama FNSS asal Turki. Kerjasama joint development medium tank telah dimulai pada 29 Juni 2010 silam setelah Kementerian Pertahanan kedua negara menandatangani persetujuan kerjasama industri pertahanan (Defence Industry Cooperation) di Ankara Turki.

Di lokasi yang sama, Kepala Divisi Pengembangan Proses PT Pindad Hery Mochtadi mengatakan saat ini pengembangan medium tank telah masuk proses pembuatan Hull di Turki. Bulan Desember 2016 beberapa komponen akan di kirim ke Indonesia untuk dirakit disini.

"Sekarang ini kita sudah mulai proses pembuatan body hull di Turki untuk prototipe pertama. Mungkin nanti awal Desember sudah dikirim ke Indonesia body kit hullnya untuk di las di Indonesia. Jadi secara produknya mungkin sekitar 30 persen. tapi untuk desain kita sudah 95 persen tinggal fabrikasinya," tutur Hery.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKIgPmkBU121etusgS3Z-BUkzBm8XZYwf7HVFAwqtlrQlPudY12pcSd0_ktRSXRWzlIPLp_PIDgwTpbeU61oOB5r3MvAAjUhVh8rlKrFCNB9MQWE8hAZZ0Q5rW2nwRTjDMjYWswjquJ91x/s1600/pindad.jpg"Kita untuk tahun ini sudah kirim 20 orang. Jadi tim engineering kita sudah 20 orang udah selesai nah sekarang yang kita kirim adalah tim manufaktur sekarang ada 4 orang di Turki. Nanti akhir November kita akan kirim lagi 3 orang. Target kita kira-kira 50 orang kita latih dari sisi engineering, manufacture sampai quality. Itu kita latih untuk bisa menangani project ini," tambahnya.

Pengembangan medium Tank sendiri melibatkan TNI AD dalam hal ini Dislitbang, Pussenkav dan Pusdikpal sebagai pengguna.

"Jadi persyaratan requirementnya, itu kita dapat dari TNI AD ada opsreqnya. Di sana ada Pussenkav dan Ditpalad itu sebagai mitra kita dalam pengembangan desain ini. Ini hasil kolaborasi desain ini. Hingga ke Turki," jelasnya.

 Kecepatan dan Harga
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEikUUcuST50VftCUqt_iKoZgbopcCyDDY9IPOzn7yB1jaNXLf_PioLTaRGGN4BGt3hA5G6Hdi08pte93YT-wzFMyPYvDCAPW3DrMmJ-I6p599xqLoBIgvGNCvNJMde6yhgOP2TQjn3GhAec/s1600/CwQK59fUEAA_TAl.jpgMenurut Hery, banyak keunggulan medium tank yang sedang dikembangkan ini mulai kecepatan hingga masalah harga. Medium Tank PT Pindad dan FNSS ini bakal lebih murah dibanding kompetitor.

"Kecepatan bisa sampai 70 km/jam, tank rata2 cuman bisa sampai 60 km/jam. Kalau harga kita punya pesaing misalnya K21 Korea itu harganya sekitar Rp 45 milliar, CV 90 itu Rp 60 milliar tapi turetnya lebih kecil. Untuk kita harapannya di bawah mereka, tapi dengan 105 mm. Perkiraannya harganya tidak jauh dengan Korea di angka Rp 45-50 milliar per unit," tambahnya.

Tidak sampai disitu, armour medium tank juga bisa di upgrade hingga STANAG 4569 level 5 yakni mampu menahan munisi kaliber 25 mm APDS-T. Sedangkan untuk peralatan misi disiapkan Wireless Crew Intercom System, Navigation System, Battlefield Management System (BMS), Laser Warning System (LWS) hingga perlindungan 360 derajat.

Dengan mengadopsi lambung V shaped, Medium Tank dapat meminimalisir resiko ranjau darat hingga level 4. Medium tank ini juga harus bisa menanjak di sudut 37 derajat dan untuk jarak jelajahnya hingg 450 km.

"Untuk armour level 5 bisa sampai 30 mm, untuk APDS bisa 25 mm itu bisa sampai kesana. Untuk main protectionnya level 4 bisa 10 kg TNT. Selain itu, ini turretnya modular, kita bisa pakai 105, 90, atau 35 tergantung usernya," jelasnya.

Untuk Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN)nya, Hery menambahkan pihaknya menggandeng sejumlah perusahaan dalam negeri. Diharapkan, keikutsertaan perusahaan dalam negeri ini membuat TKDN menjadi besar.

"Untuk TKDN secara mesin, atau Turet kita masih dari luar tapi untuk fabrikasinya kita bisa dalam negeri. Untuk Alat komunikasinya kita pakai PT Len, BMS dari PT Hariff Daya Tunggal Engineering, dan track linknya juga kita bisa dalam negeri seperti di Indopulley," kata Hery.

Mediun Tank PT Pindad dan FNSS ini memiliki lebar 3.2 meter, tinggi 2.7 meter dan panjang hampir 7 meter. Menggunakan mesin diesel generasi baru dengan di tambah transmisi otomatis Medium tank memiliki power to weight ratio 20 hp/ton dan bobot tidak lebih dari 30 ton.

"Harapannya 5 Oktober tahun depan nanti sudah hadir di Indonesia dan kita bisa hadirkan di HUT TNI," tutupnya.
 

  Otonomi