Tampilkan postingan dengan label Pesawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 November 2016

[Dunia] Jet Tempur J-20

✈ Teknologi Tiongkok dan mesin Rusia dalam satu pesawat. Elang Hitam Chengdu J-20, pesawat tempur generasi kelima Tiongkok, yang melakukan debut publik dalam pameran Airshow China 2016 di Zhuhai, merupakan pencapaian besar bagi industri senjata Tiongkok. Pesawat tempur J-20 yang diproduksi Chengdu Aerospace Corporation mengudara selama Pameran Aviasi dan Kedirgantaraan Internasional Tiongkok yang ke-11 di Zhuhai Airshow Center pada 1 November 2016 di Zhuhai, Provinsi Guangdong, Tiongkok. [Getty Images]

Para pakar Rusia menilai debut pubik Elang Hitam Chengdu J-20, pesawat tempur generasi kelima Tiongkok, menunjukkan kecakapan teknologi negara tersebut yang terus berkembang dan tak seharusnya dilihat sebagai pameran kekuatan, seperti yang dilaporkan oleh beberapa media.

Ini lebih seperti pameran teknologi. Saya rasa, perlu beberapa tahun sebelum mesin ini benar-benar siap. Namun, hal itu tak mengecilkan pencapaian para perancang Tiongkok,” kata Kepala Pusat Analisis Strategi dan Teknologi (CAST) Ruslan Pukhov pada RBTH.

Sebagian besar karakteristik teknis pesawat, yang pertama kali mengudara pada Januari 2011 lalu, masih dirahasiakan. Informasi yang tersedia saat ini baru mengenai teknologi siluman yang digunakan untuk membangun pesawat yang memiliki misil udara-ke-udara serta mesin-mesin Rusia.

Selain pesawat kelas berat J-20, Tiongkok juga mengembangkan Shenyang J-31, sebuah pesawat tempur ringan generasi kelima. Menurut para pakar, kedua pesawat tersebut tak punya prototipe asing yang spesifik.

 Fitur Desain 


Chengdu J-20 memiliki sebuah canard yakni sayap kecil horizontal di depan, yang dapat mengendalikan pesawat.

Desain aeronautika ini jarang digunakan karena memiliki sejumlah kekurangan. Pesawat dengan canard cenderung memiliki hidung kerucut yang besar yang memperlambat laju mereka. Selain itu, ia juga membuat pesawat memiliki kemampuan manuver yang rendah.

Di sisi lain, sebuah canard bisa membuat penempatan sistem senjata lebih fleksibel dan dapat menampung lebih banyak bahan bakar,” terang Pavel Bulat dari Universitas ITMO di Sankt Peterburg pada RBTH. “Sebagai tambahan, jika pesawat harus terbang dalam kecepatan supersonik (1.188 kilometer per jam), desain ini sangat efektif.

 Mesin Rusia 

Tantangan utama bagi Chengdu J-20 mungkin adalah pengembangan mesin karena Tiongkok belum mampu memproduksi mesin pesawat generasi kelima.

Seorang narasumber dari industri pertahanan Rusia menyampaikan pada RBTH bahwa Tiongkok telah membeli sekitar 200 mesin AL-31 untuk J-20.

Tampaknya, pada 1 November lalu, Chengdu J-20 terbang dengan mesin Tiongkok yang dibuat berdasarkan mesin Rusia AL-31,” kata Bulat pada RBTH. “Mesin Rusia sepertinya akan digunakan untuk J-20 ketika produksi berseri diluncurkan.

Ia menambahkan bahwa pesawat tempur generasi kelima Rusia T-50 menggunakan tipe mesin yang sama seperti pesawat generasi ke-4++ Su-34.


Pesawat tempur J-20 mengudara pada Pameran Aviasi dan Kedirgantaraan Internasional Tiongkok yang ke-11 di Zhuhai Airshow Center pada 1 November 2016 di Tiongkok. [CCTV+ / YouTube]
  RBTH  

[Dunia] Pesawat Rombongan Didekati Jet Tempur Swiss

Rusia Minta Penjelasan Jet tempur Swiss mengintai pesawat rombongan wartawan Rusia (Denis Pinchuk/Reuters) 

P
esawat rombongan wartawan serta delegasi pemerintah Rusia yang terbang menuju Peru secara tiba-tiba didekati tiga jet tempur F/A 18 milik Swiss dari tiga arah berbeda. Akibatnya, Moskow kini meminta penjelasan resmi dari Jenewa terkait insiden tersebut.

Kami terkejut dan meminta penjelasan dari pemerintah Swiss terkait insiden yang melibatkan pesawat pemerintah Rusia di atas wilayah udara mereka,” kicau Kedutaan Besar Rusia di Swiss lewat akun Twitter, mengutip dari Reuters, Minggu (20/11/2016).

Insiden tersebut terjadi selama 10 menit. Para penumpang pesawat dapat melihat wajah sang pilot karena terbang sangat dekat dengan burung besi berjenis Ilyushin Il-96 itu. Tiga jet tempur tersebut baru meninggalkan pesawat setelah mencapai wilayah perbatasan Swiss.

Pesawat rombongan tersebut sempat mendarat di Lisbon, Portugal, untuk mengisi bahan bakar. Saat itu, kapten pesawat sempat meredakan suasana dengan mengatakan aksi jet tempur tersebut adalah pengawalan spesial terhadap penerbangan di atas udara yang telah berlangsung sejak lama.

Melewati rute udara ini, kami selalu dikawal secara reguler oleh jet dari Angkatan Udara Swiss,” tutur sang pilot. Jet tempur Swiss mengaku telah beraksi sesuai perjanjian awal dengan Rusia dan tidak menimbulkan ancaman bagi pesawat beserta para penumpang. (war)

  Okezone  

Sabtu, 19 November 2016

Sekilas 6 Jenis Pesawat Jet Tempur TNI AU

Enam pesawat tempur Sukhoi dan F-16 milik TNI Angkatan Udara memeriahkan Upacara Peringatan HUT RI ke-71 di Jakarta, Rabu (17/8). Mereka membentuk Arrow Head Formation pada ketinggian 800 kaki. (Liputan6.com/Faizal Fanani)  

P
residen RI Joko Widodo telah berkomitmen untuk meningkatkan keamanan Indonesia. Terlebih isu Laut China Selatan terus diramaikan di dunia internasional.

Salah satu elemen penting dalam menjaga kedaulatan NKRI ialah TNI-AU. Saat ini kekuatan TNI-AU menjadi yang diperhitungkan di Asia Tenggara.

Selain didukung kemampuan seluruh personel yang dimiliki, berbagai alutsista yang dimiliki TNI-AU dinilai juga cukup mumpuni, seperti salah satunya pesawat tempur.

Saat ini TNI-AU telah memiliki enam jenis pesawat jet tempur. Jet-jet tempur ini memiliki fungsi dan kemampuan masing-masing, apa saja itu?

 1. Hawk 209 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHCHkPYy9pvawI3twnXWLICYbKzSM8yUkVBiKwxHtkPaQ_YwH8Byi9FARM5eP7tRuFM_hEQnez-psEg25g64mIXF_i9uJyECqLYhrO1NK0tX0q6tFE6mBEKq2vDE47mbuZJEaFpd8mD6Yk/s1600/_20160622_212357.jpgHawk TNI AU

Jet ini merupakan pesawat buatan Hawker-Siddeley. Hawk Mk 209 yang dimiliki TNI-AU ini memiliki fungsi sebagai pesawat jet latih untuk pesawat tempur generasi 4. Adapun jet tempur generasi 4 diantaranya seperti F-15, F-16 dan lain sebagainya.

Pertama kali TNI-AU membeli pesawat ini pada tahun 1997.‎ Hawk Mk 209 merupakan varian single seater dari keluarga Hawk. Pesawat jet ini dikhususkan untuk mengemban misi air superiority dan ground attack.

Malaysia juga memiliki sejumlah Hawk Mk 108/208 yang merupakan varian Hawk pertama yang bisa melakukan pengisian bahan bakar di udara.

 2. T-50 Golden Eagle 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjHRv2PR9Nn2aPryU-6fQV6MDcu9q6MSKbuEMYmAtfC6XDeTpUilBAI6OleGMhpFCWHdRzaMOU7IbxfRxTqntB7OjpnTGodLUOA39pkSkUL0libV3FCfLjz31ltSNgpPrrhBE0IAyYt2OH-/s1600/T-50i+Golden+Eagle+garuda+militer.jpgT50i TNI AU

Memiliki fungsi hampir sama dengan Hawk 209, T-50 Golden Eagle adalah pesawat latih (trainer) supersonik buatan Amerika-Korea.

Dikembangkan oleh Korean Aerospace Industries (KAI), dengan bantuan Lockheed Martin. Program ini juga melahirkan A-50, atau T-50 LIFT, sebagai varian serang ringan. Program T/A-50 dimaksudkan sebagai pengganti dari berbagai pesawat latih dan serang ringan.

Program ini pada awalnya dimaksudkan untuk mengembangkan pesawat latih secara mandiri yang mampu mencapai kecepatan supersonik untuk melatih dan mempersiapkan pilot bagi pesawat KF-16 (F-16 versi Korea).

T-50 membuat Korea Selatan menjadi negara ke-12 yang mampu memproduksi sebuah pesawat tempur jet yang utuh. Beberapa produk korea lainnya adalah KT-1 produk Samsung Aerospace (sekarang bagian dari KAI), dan produk lisensi KF-16.

Sebagian besar sistem utama dan teknologinya disediakan oleh Lockheed Martin, secara umum bisa disebut T/A-50 mempunyai konfigurasi yang mirip dengan KF-16.

 3. F-16 Fighting Falcon 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEikF8DKwr9ejomo82OJrLB5QRcRHMmemP4sWxGbO-e8Zc8i2jz6wy7KuiOtx32kzQiIqEBMnEMpLgTyOAGT3HyZxisAeLz6AOn4ahBikbF4XilDthltzLP9BaYwB-ckWnU99jCxYc3eTl-c/s1600/216977.jpgF16 TNI AU

F-16 Fighting Falcon adalah jet tempur multi-peran supersonik yang dikembangkan oleh General Dynamics (lalu di akuisisi oleh Lockheed Martin), di Amerika Serikat. Pesawat ini awalnya dirancang sebagai pesawat tempur ringan, dan akhirnya ber-evolusi menjadi pesawat tempur multi-peran yang sangat populer.

Kemampuan F-16 untuk bisa dipakai untuk segala macam misi inilah yang membuatnya sangat sukses di pasar ekspor, dan dipakai oleh 24 negara selain Amerika Serikat.

Pesawat ini sangat popular di mata international dan telah digunakan oleh 25 angkatan udara. F-16 merupakan proyek pesawat tempur Barat yang paling besar dan signifikan, dengan sekitar 4000 F-16 sudah di produksi sejak 1976.

Pesawat ini sudah tidak diproduksi untuk Angkatan Udara Amerika Serikat, tapi masih diproduksi untuk ekspor.

 4. F-5E Tiger II 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiANYcPSWkjS9oJiMSAOv1_uRLQZWfICYK00WHmk_ZdclMfbaABXMJiPxKKZyZ7LXmmMqiPWEslcc0QBQTsl2A-W7DYKOyZextpdiJ1muGq_7DZGoSnD_YkPgAyQ-grIj18vb4TYkRnttw/s1600/printfinaleditbyagus.jpgF5E TNI AU [Agus]

F-5E/F Tiger II adalah sebuah bagian dari keluarga pesawat tempur supersonik ringan yang dirancang dan diproduksi oleh Northrop, di Amerika Serikat, sejak tahun 1960-an. Ratusan pesawat ini masih dipakai oleh berbagai angkatan udara di dunia sampai abad ke-21.

Pesawat ini juga menjadi dasar untuk pengembangan beberapa pesawat lainnya. Produksi pesawat F-5A dan F-5E berakhir pada tahun 1972 dan 1987.

F-5E Tiger II, juga banyak digunakan oleh negara sekutu Amerika Serikat, dan di Amerika Serikat sendiri dipakai sebagai pesawat latih tempur. Jumlah Tiger II yang diproduksi sampai tahun 1987 mencapai 1400 buah. Pesawat F-5 yang masih dipakai sampai tahun 1990-an dan 2000-an telah melalui banyak modifikasi pembaruan.

 5. Sukhoi Su-27 (Flanker) 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhsniGxBkk7auEHQyj2_zJTBhrf7h17xK-npBw2iGxBk6V8YI56cgldKQBMV3RyhBFDo6h9WmsuQwYFd1Jow6Vz8YKJYc2qccocTF067-n8V3gvW0cbQ7ve_VPfQuDti30egGYeyrYInrfJ/s1600/15025398_%2540bayusiswanto.jpgSu 27  dan Su 30 TNI AU [Sukhoi pilot /bayusiswanto]

Sukhoi Su-27 merupakan pesawat tempur yang awalnya diproduksi oleh Uni Soviet, dan dirancang oleh Biro Desain Sukhoi. Pesawat ini direncanakan untuk menjadi saingan utama generasi baru pesawat tempur Amerika Serikat yaitu F-14 Tomcat, F-15 Eagle, F-16 Fighting Falcon, dan F/A-18 Hornet.

Su-27 memiliki jarak jangkau yang jauh, persenjataan yang berat, dan kelincahan yang tinggi. Pesawat ini sering disebut sebagai hasil persaingan antara Sukhoi dengan Mikoyan-Gurevich, karena Su-27 dan MiG-29 berbentuk mirip.

Ini adalah keliru, karena Su-27 dirancang sebagai pesawat interseptor dan pesawat tempur superioritas udara jarak jauh, sedangkan MiG-29 dirancang untuk mengisi peran pesawat tempur pendukung jarak dekat.

 6. Sukhoi-Su-30 (Flanker-C) 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNqOq1aRbUdcghouSoppSCPyK_1synmTVVIuNgQ8CtQC1xhAdcOGftarwbuSWynxgGeRHFpx8dZy9nGRKXOHzDjlMzItiCx-oaZ5Ed_ogaZx5KwbeCj1kzmgwDbpkiMD4A-MX14h0g5z6Y/s1600/tni-au-shukoipr1v4t33r.jpgSu 30 TNI AU [def.pk]

Sukhoi Su-30 adalah pesawat tempur yang dikembangkan oleh Sukhoi Rusia pada tahun 1996. Pesawat ini adalah pesawat tempur multifungsi, yang efektif dipakai sebagai pesawat serang darat. Pesawat ini bisa dibandingkan dengan F/A-18E/F Super Hornet dan F-15E Strike Eagle Amerika Serikat.

Pesawat ini adalah pengembangan dari Su-27UB, dan memiliki beberapa varian. Seri Su-30K dan Su-30MK telah sukses secara komersial. Varian-varian ini diproduksi oleh KnAAPO dan Irkut, yang merupakan anak perusahaan dari grup Sukhoi. KnAAPO memproduksi Su-30MKK dan Su-30MK2, yang dirancang dan dijual kepada Tiongkok. Su-30 paling mutakhir adalah seri Su-30MK buatan Irkut.

  Liputan 6  

Nigeria Siap Borong Pesawat N-219

✈ Karya Anak Bangsa N-219, Pesawat di Kawasan Perintis Karya Anak Bangsa (PT DI)

Indonesia saat ini menjadi negara yang memiliki perkembangan industri dirgantara yang mulai diperhitungkan di dunia. Melalui PT Dirgantara Indonesia (Persero), berbagai produk yang diciptakannya mulai banyak digunakan negara lain.

Yang terbaru, PTDI tengah mengembangkan pesawat jenis turboprop (balik-baling) yang digunakan untuk penerbangan komersil jarak pendek. Pesawat ini dinamakan N-219. Saat‎ ini pesawat anyar itu sudah diperkenalkan keluar hanggar, namun beberapa komponennya masih dalam proses sertifikasi.

Direktur Utama PTDI Budi Santoso m‎engungkapkan meski belum melakukan terbang perdana, namun dari hasil pameran yang diselenggarakan, sudah banyak pihak yang menyatakan minatnya untuk membeli pesawat ini.

Tak tanggung-tanggung, negara asal benua Afrika, Nigeria juga menyatakan siap memborong pesawat tersebut jika nantinya telah diproduksi.

"Salah satunya (Nigeria), bahkan mereka menawarkan untuk assembly di sana, mereka siap beli 100 pesawat," kata Budi saat berbincang dengan Liputan6.com seperti ditulis, Sabtu (18/11/2016).

http://images.detik.com/customthumb/2015/12/10/157/cawat8.jpg?w=780&q=90Meski begitu, Budi mengaku belum bisa memutuskan pernyataan menggembirakan dari Nigeria tersebut. Saat ini PTDI tengah konsentrasi melakukan sertifikasi dan setelah itu akan dilakukan terbang perdana. "Kalau sudah terbang, nanti baru kita bicarakan lagi soal komitmen itu," tegas Budi.

Seperti dikatakan Budi sebelumnya, beberapa perusahaan asal Benua Afrika tersebut, banyak pesawat dengan tipe yang sama yang banyak digunakan di negaranya namun kini berusia uzur. Ini karena produsen pesawat tersebut sudah tidak memproduksinya lagi.

Untuk itu, mereka memburu N-219 ini karena pesawat jenis ini akan menjadi idola baru‎ di langit-langit Afrika nantinya. Komitmen ini diakui Budi menjadi semangat tersendiri bagi PT DI untuk segera merampungkan produksi N-219. "Jadi mereka melihat ini untuk masa depannya Afrika," tambah Budi.

‎Tak hanya perusahaan luar negeri, Budi mengaku juga telah disiapkan perjanjian jual beli dengan perusahaan dalam negeri. Perusahaan ini dikatakannya siap membeli 40-60 unit N219. Hanya saja Budi masih enggan menandatangani kontrak tersebut sebelum N-219 terbang perdana.

Tak mau menyebutkan nama perusahaan itu, Budi hanya menjelaskan jika ini memiliki bisnis di penerbangan perintis.

"Buat saya itu 40-60 unit itu produksinya sekitar 3-4 tahun. Kan sekarang 12 unit per tahun, nanti akan naik jadi 24 unit pesawat per tahun. Jadi ini yang kita kerjakan," papar dia. (Yas/Ndw)

  Liputan 6  

Jumat, 18 November 2016

Pesawat Tempur T 50 Golden Eagle Mendarat Perdana di Syamsudin Noor

Ilustrasi T50i Golden Eagle TNI AU [TNI AU]

Suara gemuruh begitu nyaring terdengar di langit Banjarbaru, warga pun geger di kawasan Bandara Syamsudin Noor. Banyak diantaranya yang memotret aksi manuver tiga pesawat tempur yang mendarat sempurna di Landasan Bandara Syamsudin Noor, Jumat (18/11/2016).

Tiga pesawat tempur menari di angkasa. Beberapa menit terbang berputar-putar dan bermanuver, pesawat itu kemudian landing di Bandara Syamsudin Noor.

"Ya, ini pesawat tempur T-50 Golden Eagle buatan Korea Selatan," ucap Danlanud Syamsudin Noor Letkol Pnb Bambang Sadewo.

Pesawat tempur TNI AU tipe Golden Eagle T-50 adalah pesawat tempur yang dikembangkan oleh Korea Aerospace Industries (KAI) dan Lockheed Martin.

Ini adalah pesawat tempur pertama buatan Korea Selatan yang bisa mencapai kecepatan supersonic. Memiliki panjang 13 meter dengan lebar mencapai 9,45 meter dengan kecepatan maksimum mencapai 1.600 KM per jam.

"Pesawat temput ini baru saja operasi pengamanan perbatasan dengan alur laut kepulauan Indonesia (pam Alki). Ya, patroli di perbatasan, pesawat mampir di Bandara Syamsudin Noor untuk isi bahan bakar, selain transit juga agar kedirgantaraan dikenal," ucap Danlanud.

Terpisah, salahsatu pilot dalam hal ini Komandan Skuadron Udara 15 Letkol Pnb Budi Susilo mengatakan memang benar sempat terbang rendah dengan ketinggian 200 meter saja di Langit Banjarbaru.

"Dan ini perdana mendarat di Bandara Syamsudin Noor," katanya. (Banjarmasin Post/Nia Kurniawan)

  Tribunnews  

[Dunia] Qatar & Kuwait Borong Pesawat Tempur Amerika

✈ 72 pesawat F15 untuk Qatar dan 40 pesawat Super Hornet untuk Kuwait F-15SE Silent Eagle [wikipedia]

Badan Kerjasama Pertahanan dan Keamanan Amerika Serikat (DCSA) resmi mengajukan penjualan 72 unit pesawat F-15 untuk Qatar kepada kongres. Pihak Department of State pun telah menyetujui proposal penjualan ini kemarin (17/11/2016).

Qatar memborong pesawat yang selanjutnya diberi nama F-15QA ini dengan nilai kontrak sebesar USD 21,1 miliar. Nilai kontrak ini termasuk pengadaan paket persenjataan, perlengkapan darat, program pelatihan, simulator, dan seluruh perlengkapan pendukungnya.

Bagi DCSA penjualan pesawat F-15QA ini adalah bagian dari program penguatan militer negara-negara sahabat AS. Pemerintah AS sendiri sudah sejak lama melihat Qatar sebagai mitra strategis untuk menjaga kestabilan politik dan ekonomi di sekitar Teluk Persia.

Qatar sendiri meminta adanya program offset dari Boeing sebagai kontraktor utama. Namun, pihak Boeing belum menentukan soal perjanjian offset tersebut dan akan dibicarakan lebih lanjut dengan pihak pemerintah Qatar.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiy1smmK-ycIKNUuvJ5Y60HTpJ1RZ5XrgDYd_qiZt04gDW6M-DQrkOho0K0l3P_rMlYj29pnVpszJllylaiux-6RcmK3TQaebhsfuB9jKSl7vKI7wt7VvMaYZJpaPH-30fK6sdCqjsYOXzc/s1600/20161004_01.jpgF/A-18 AS

Selain Qatar, Kuwait juga mengakuisisi 40 unit pesawat F/A-18E/F Super Hornet yang bernilai sekitar USD10,1 miliar. Kontrak ini terdiri dari 32 unit Super Hornet varian E dan 8 unit varian F dengan mesin F414-GE-400.

Selain unt pesawat, Kuwait juga memesan 41 unit radar AESA AN/APG, senapan kaliber 20mm, 240 rudal berpemandu, 45 radar warning receivers AN/ALR-67(V)3, 12 AN/AAQ-33 SNIPER advanced targeting pods, 48 sistem Link-16, dan delapan tanki bahan bakar tambahan.

Author: Remigius Septian

  Angkasa  

PTDI Didorong Manfaatkan Fasilitas Dana Penugasan Khusus

Ekspor Pesawat2 unit NC212i pesanan Filipina siap diserahterimakan. [detik]

Kementerian Perindustrian (Kemenprin) mendorong PT Dirgantara Indonesia (DI) untuk ekspor pesawat ke beberapa negara dengan memanfaatkan dana penugasan khusus, national interest account (NIA), yang digunakan sebagai kredit pembeli dan modal kerja.

Skema NIA dinilai potensial untuk memperkuat kemampuan ekspor perusahaan di tengah kondisi ekonomi global yang melambat.

Dukungan dari pemerintah pada tahap pertama adalah buyers credit untuk ke beberapa negara yang memang memerlukan pembiayaan dari kita," jelas Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Haris Munandar melalui keterangan resmi, Jumat (18/11/2016).

Menurut Haris, mekanisme kredit pembeli bisa diterapkan pada ekspor ke negara-negara yang kemampuan finansialnya terbatas, seperti Senegal atau Nepal, agar aliran kas PT DI tidak terganggu.

PT DI juga bisa memanfaatkan dana NIA sebagai modal kerja produksi pesawat untuk diekspor ke negara-negara yang memiliki pendanaan kuat seperti Uni Emirat Arab maupun Thailand.

Selanjutnya, pinjaman bisa untuk memperkuat working capital supaya pengadaan bahan baku lancar, delivery lebih cepat dan tidak ada hambatan. Soalnya banyak aktivitas ekspor perusahaan terganggu karena modal kerja ini,” tuturnya.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCCn6_r1JXjJO7NiJL3wSRp5hZfvC2RTAT1OwyglH9WcNWvgEwqGDrx_NH6tyZJvRmDDuj7_PbeF7XfgbjoMzgJXZDJZ945CJcMZSQnpUWnOUkvYZ8jxdZMciQe2jM85GSQy0EwO6h_Hvm/s1600/13724697_New+CN-235+MPA+TNI-AU.+Credit+to+Marchel..jpgPemerintah menyediakan dana NIA melalui Indonesia Exim bank untuk memberikan pembiayaan ekspor atas transaksi atau proyek yang secara komersial sulit terlaksana, namun dinilai perlu.

Pada tahun 2016, dana yang tersedia dalam NIA mencapai Rp 2,2 triliun dan tidak sepenuhnya terpakai.

Pada tahun depan, pemerintah kembali menyuntikkan dana ke dalam NIA hingga total dana yang tersedia pada 2017 mencapai Rp 4,2 triliun.

Dana yang disiapkan Indonesia Exim bank cukup besar, dan itu dana bergulir,” kata Haris.

Sementara itu, Direktur Utama Budi Santoso menjelaskan, dana Indonesia Exim bank akan digunakan untuk mendukung rencana ekspor pesawat N-235 dan N-212.

PT DI mengajukan penggunaan dana NIA senilai Rp 400 miliar untuk mendukung aktivitas ekspor perusahaan ke beberapa negara Afrika dan Asia.

"Kami mencoba untuk ekspor, beberapa negara punya uang, tetapi beberapa negara masih butuh financing,” tuturnya.

Menurut Budi, kedua jenis pesawat tersebut layak mendapatkan dukungan dana dari NIA karena merupakan produk hasil pengembangan nasional hingga dikuasai 100 persen oleh PT DI.

"Pesawat-pesawat itu adalah milik kita seluruhnya. Harga pesawat N-235 sekitar 25 juta dollar AS, sedangkan N-212 kira-kira separuhnya,” ujarnya.
 

  Kompas  

Kamis, 17 November 2016

Kemenperin Dukung Ekspor Pesawat PT Dirgantara Indonesia

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxf1XYWVKMPPHhcAIBLttdDUCPYj6mCyJvZkjTpx4-6FEoY2tGftQuar-kjja7sqpNGNlMUnrtHRwxQKuXy3lP2ov-iJPjk2EG2zYzbPIy-j6O9PcPDw0ywjA1mO7tYR2RWJUphrN8T6n0/s1600/n219-ptdi.jpgIlustrasi N219 PTDI

P
ementerian Perindustrian mendukung ekspor pesawat yang dilakukan PT Dirgantara Indonesia (DI) ke beberapa negara menggunakan pembiayaan buyer's credit dengan skema National Interest Account (NIA) oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank.

Demikian disampaikan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian Haris Munandar usai mendampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bertemu direksi PT DI.

"Ini kan masalah pembiayaan. Nah ini nanti dukungan dari pemerintah untuk tahap pertama ini adalah buyer's credit untuk beberapa negara yang memang memerlukan pembiayaan dari kita. Jadi kita memberikan kredit kepada asing yang mau membeli pesawat," kata Haris di Jakarta, Rabu.

Menurut Haris, nilai dari pembiayaan tersebut mencapai Rp 400 miliar untuk ekspor pesawat PT DI ke beberapa negara seperti seperti Thailand, Filipina, Nepal, Senegal dan Uni Emirat Arab.

"Tapi, tidak semuanya memanfaatkan pembiayaan tersebut, karena hanya beberapa negara yang membutuhkan seperti Nepal dan Senegal. Kalau negara kaya ya tidak perlu," ungkap Haris.

Kendati demikian, pembiayaan yang diajukan juga dapat digunakan sebagai modal kerja PT DI untuk meningkatkan daya saing produknya yang akan diekspor.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCCn6_r1JXjJO7NiJL3wSRp5hZfvC2RTAT1OwyglH9WcNWvgEwqGDrx_NH6tyZJvRmDDuj7_PbeF7XfgbjoMzgJXZDJZ945CJcMZSQnpUWnOUkvYZ8jxdZMciQe2jM85GSQy0EwO6h_Hvm/s1600/13724697_New+CN-235+MPA+TNI-AU.+Credit+to+Marchel..jpg"Kalau Thailand dan Uni Emirat Arab kan tidak perlu. Maka, buyer's credit yang diajukan akan menjadi modal kerja, sehingga harga pesawat tersebut akan kompetitif jika dijual ke luar negeri," pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT DI Budi santoso menyampaikan, perusahaan tengah berupaya menggenjot ekspor hingga 2018.

"Kalau kita melihat pangsa pasar kita, kita tidak bisa ketergantungan pada APBN, pada pembelian dari pemerintah. Nah, kita targetkan 2018 akan meningkatkan ekspor," ujar Budi.

Budi menilai, PT DI akan menyasar negara-negara di Afrika untuk pasar ekspor selanjutnya, karena melihat potensi yang kebituhan yang tinggi.

Menurutnya, skema pembiayaan dari LPEI dapat menunjang ekspor pesawat ke negara Afrika yang notabene membutuhkan pendanaan dalam pembeliannya.

"Dengan adanya NIA ini, kenapa tidak di push ekspor untuk pendapatan negara. Jadi, bisa dimanfaatkan untuk pendanaan maupun kami sebagai produsen untuk working capital," tukasnya.

Adapun beberapa negara saat ini telah menggunakan pesawat buatan PT DI, di antaranya Vietnam, Filipina dan Thailand untuk jenis pesawat NC212.

Sementara Uni Emirat Arab dan Korea Selatan menggunakan pesawat CN235 buatan PT DI.

  ★ Antara  

Selasa, 15 November 2016

Operasi “Benteng Ambalat”

➶ Jet Tempur T50i Dikerahkan➶ Jet Tempur T50i [TNI AU]

Lima jet tempur milik TNI Angkatan Udara (AU) akan bermanuver di langit Tarakan, Kalimantan Utara, dan sekitarnya selama kurang lebih seminggu ke depan.

Kehadiran lima pesawat tempur dari Skuadron 15 Pangkalan Udara (Lanud) Iswahyudi Madiun ini dalam rangka mendukung operasi “Benteng Ambalat” untuk menjaga kedaulatan NKRI.

Lima jet tempur yang terdiri dari tiga pesawat jenis Golden Eagle T-50 atau T-50i buatan Korea Selatan, sudah tiba di Lanud Tarakan sejak Senin (14/11).

Selain itu, juga ikut pesawat pengintai jenis Boeing 737 dalam operasi ini.

Benteng Ambalat adalah tugas yang dilaksanakan oleh TNI AU dengan TNI AL. Tugasnya pengamanan Ambalat. Di udaranya kita melaksanakan patroli udara, dikombinasi dengan Angkatan Laut yang melaksanakan patroli laut Ambalat,” ujar Komandan Lanud Tarakan Kolonel (Pnb) Umar Fathurrohman, Selasa (15/11).

Menurutnya, jet-jet tempur ini memang sudah mendapat tugas langsung dari Mabes TNI AU untuk patroli di Ambalat.

Namun, di sela patroli pihaknya memberikan kesempatan bagi Skuadron 15 untuk singgah di Tarakan guna mengisi keperluan.

Selain itu, kehadiran jet-jet tempur ini sebagai ajang unjuk kekuatan kepada warga Tarakan akan kemampuan TNI AU dalam menjaga perbatasan.

Karena itu, pihaknya membuka waktu bagi masyarakat untuk melihat dari dekat pesawat militer ini.

TNI Angkatan Udara berusaha untuk mengamankan wilayah perbatasan, salah satunya Ambalat agar masyarakat atau pun rakyat Indonesia bisa tidur tenang. Karena jika ada ancaman dari luar, bisa kita deteksi. Selama kita masih ada, TNI udara berpatroli, tidak akan ada serangan udara,” tegasnya.

Bagi Skaudron 15 Lanud Iswahyudi, kehadiran jet-jet tempur ini tidak sekadar melaksanakan operasi tapi juga menjadi ajang latihan bagi prajurit-prajurit barunya untuk menjadi pilot tempur yang handal.

Selain kita melaksanakan operasi, juga melaksanakan kegiatan latihan di home base untuk memproduksi penerbang-penerbang baru, yang baru datang dari sekolah penerbang kemudian yang masuk ke jurusan tempur. Maka kita upgrate kualifikasinya untuk menjadi penerbang tempur,” ujar Komandan Skuadron 15 Lanud Iswahyudi Semarang Letkol (Pnb)Budi Susilo.

Pesawat yang ditugaskan dalam operasi ini merupakan keluaran baru dan telah dilengkapi peralatan tempur yang canggih.

Untuk pesawat T-50i buata Korsel, baru tiga tahun dibeli pemerintah Indonesia, tepatnya pada 2013 lalu.

Karakteristiknya kurang lebih seperti pesawat jenis F-16. Namun, oleh TNI AU pesawat ini tidak hanya dijadikan sebagai jet tempur, tapi juga sebagai pesawat latih bagi prajurit yang baru lulus dari sekolah penerbang.

Budi memaparkan bahwa pesawar tempur T-50i punya kemampuan lengkap.

Bisa melaksanakan tugas apa saja baik sebagai interseptor maupun sebagai bantuan tembakan dari udara ke udara, dan dari udara ke darat.

Pesawat ini juga mampu membawa missil jenis apa pun sesuai dengan kemampuannya.

Bahkan, bom berdaya ledak besar seperti jenis MK-84, 82, 81 maupun jenis roket, juga bisa dibawa oleh pesawat tempur T-50i.

Sementara itu, dalam unjuk kekuatan di hadapan warga Tarakan nanti, pihaknya juga akan memamerkan beberapa posisi siaga dalam pertempuran.

Semua ini untuk menunjukkan bahwa TNI AU siap menjaga kedaulatan NKRI di perbatasan. (*/mrs/fen/sam/jpnn)

   JPNN  

[Dunia] Pesawat Tempur MiG-29 Rusia Jatuh ke Laut Tengah

൬ Ilustrasi MiG-29 Rusia

Sebuah jet tempurMiG-29 Rusia jatuh ke Laut Tengah atau Laut Mediterania karena gagal dalam upayanya untuk mendarat di kapal induk Admiral Kuznetsov, ungkap kementerian pertahanan negara itu.

Pilot selamat setelah berhasil melontarkan diri dari pesawat, kata kementerian itu.

Admiral Kuznetsov adalah bagian dari sekelompok kapal perang Rusia yang belum lama ini dikerahkan ke dekat pantai Suriah.

NATO telah menyatakan kecemasan bahwa pesawat-pesawat dari kapal induk tersebut akan digunakan untuk menyerang warga sipil di kota Aleppo, Suriah.

 Memicu kontroversi

Kementerian pertahanan mengatakan kecelakaan itu merupakan akibat dari 'masalah teknis' selama penerbangan pelatihan.

Jet itu menukik beberapa kilometer dari kapal induk, kemudian pilotnya dijemput oleh tim penyelamat.

"Kesehatan pilot tidak dalam bahaya," kata kementerian pertahanan Rusia, yang menambahkan bahwa ia sudah siap untuk terbang lagi.

Dikatakan bahwa operasi-operasi penerbangan tidak ditangguhkan.

Para pejabat AS yang dikutip Fox News mengatakan bahwa pesawat yang jatuh itu adalah MiG-29K.

Washington Post melaporkan, pesawat tampaknya mendapat masalah mekanik tak lama setelah lepas landas.

Pesawat itu dirancang khusus untuk menangani kesulitan beroperasi dari sebuah kapal induk di laut, dan diyakini merupakan versi pemutakhiran dari MiG-29, yang sudah beroperasi sejak tahun 1980-an.

Admiral Kuznetsov - yang merupakan satu-satunya kapal induk pengangkut jet Rusia - dapat membawa puluhan pesawat pembom tempur dan helikopter.

Bulan lalu armadanya berlayar dari Rusia ke Mediterania melalui Selat Inggris bulan lalu.

Kapal-kapal itu mengisi bahan bakar di lepas pantai Afrika Utara setelah rencana untuk merapat di pelabuhan Ceuta milik Spanyol dibatalkan di tengah kekhawatiran NATO atas misi mereka.

Dalam rombongan itu terdapat juga sebuah kapal perang bertenaga nuklir, dua kapal perang anti-kapal selam dan empat kapal pendukung, yang kemungkinan dikawal oleh kapal selam.

Kapal-kapal ini ini bergabung dengan sekitar 10 kapal Rusia lainnya sudah berada di lepas pantai Suriah.

Rusia mendukung pasukan pemerintah Suriah dalam perang saudara di negara itu. Keterlibatan terbaru mereka adalah dalam serangan yang menyasar pemberontak di Aleppo timur.

Para pemimpin Barat menganggap serangan udara Rusia dan Suriah di Aleppo bisa digolongkan kejahatan perang, namun Rusia menolak tuduhan itu.

Serangan udara terhadap Aleppo ditangguhkan baru-baru ini tetapi ada kekhawatiran bahwa kehadiran armada angkatan laut sekarang ini berarti serangan akan dilanjutkan lagi. (nwk/nwk)
 

  detik  

Senin, 14 November 2016

Gemuruh Pesawat Hawk 100/200 Elang Khatulistiwa Kembali Terdengar

Sejak sepuluh hari yang lalu suara gemuruh dari pesawat Hawk 100/200 Elang Khatulistiwa Skadron Udara 1 Lanud Supadio tidak terdengar ditelinga warga kota Pontianak dan sekitarnya. Namun suara gemuruh itu kembali terdengar, Jum’at (11/11) pasalnya Elang Khatulistiwa telah kembali ke sarangnya setelah melaksanakan misi latihan Weapon Delivery dan Maverick di Lanud Iswahjudi, Madiun.

Komandan Lanud Supadio Marsekal Pertama (Marsma) TNI Minggit Tribowo, S.IP didampingi para pejabat dijajaran Lanud Supadio menyambut kedatangan para penerbang dan ground crew di Crew Room Skadron Udara 1 Lanud Supadio. Menurut Danskadron Udara 1 Letkol Pnb Bagus Hariyadi kedatangan pesawat Hawk 100/200 Elang Khatulistiwa selesai melaksanakan misi latihan weapon delivery dan maverick di Lanud Iswahjudi. Latihan ini rutin dilaksanakan setiap tahun yang berlangsung selama sepuluh hari mulai tanggal 1 November hingga saat ini kembali ke Bumi Khatulistiwa.

Dalam latihan ini Skadron Udara 1, lanjut Danskadud 1, mengerahkan 5 pesawat Hawk 100/200 dan didukung oleh 64 personel. Kedatangan personel dari Lanud Iswahjudi menggunakan 2 pesawat Hercules masing-masing dari Skadron Udara 31 Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta dan Skadron Udara 32 dari Lanud Abdurahman Saleh, Malang.

Berkat kerja keras dari anggota Skadud 1 dan dukungan dari pimpinan serta doa dari segenap warga Kalimantan Barat latihan ini dapat dilaksanakan dengan baik dan kami pulang ke home base dengan selamat,” ujar Danskadud 1.
 

  TNI AU