Tampilkan postingan dengan label Pindad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pindad. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 November 2016

Pindad dan Theon Luncurkan Pindad Optronics Workshop

✈ Multi Purpose Night Vision Sight Pada pagelaran Indo Defence 2016, PT Pindad (Persero) dan perusahaan system optronic dari Yunani, Theon meluncurkan proyek kerjasama bersama yang diber nama PIndad Optronics Workshop. Menteri Pertahanan Yunani, Panos Kammenos menghadiri acara peluncuran ini dengan didampingi dengan Direktur Utama PT Pindad (Persero) Abraham Mose dan jajaran manajemen.

Ruang lingkup kerjasama Pindad dan Theon meliputi produksi bersama Teropong Bidik Senapan Malam (TBSM) di Pindad, pembangunan lini assembly dan penjualan bersama. MoU kerjasama telah ditandatangani sejak Februari 2015, saat ini pembangunan fasilitas dan lini produksi memasuki tahap akhir sehingga pada awal 2017 dapat memasuki proses produksi.

TBSM hasil kerjasama Pindad dan Theon ini akan diproduksi di Indonesia dengan memaksimalkan penggunaan material dari dalam negeri, didesain untuk memiliki resolusi tinggi, performa yang baik dan praktis penggunaannya. Teropong dibuat untuk memenuhi kebutuhan prajurit di lapangan dalam operasi militer di malam hari dan memenuhi Minimum Esential Force (MEF) TNI dengan potensi pasar meliputi Mabes TNI, TNI AD, Polri dan pasar Ekspor.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiOBVkynP7GSRdReDgItHHQU_5AYFdzwM9F4Q8iMKQCHz_z5GllY_QGyis5ZcO9vmBFQRcN9vZYF_Rkx2kTcA475ydDkbywFRvi73oh-AHTd3kQRa1mKQwxZHci0sj8VSMdDPZMIqPwp_M/s1600/NX-122C.jpg"Senapan kami sudah mendukung performa TNI sejak lama dan menjadi senjata organik yang dipakai para prajurit di lapangan. TBSM yang akan kami produksi bersama akan didesain khusus agar kompatibel dengan senjata yang diproduksi Pindad dan sudah dipergunakan di lapangan," tutur Direktur Utama Pindad, Abraham Mose.

Teropong tersebut nantinya dapat dipasang untuk berbagai senjata, terutama buatan Pindad yang telah tersebar di berbagai satuan seperti SS2 dan kompatibel dengan Trijicon. Tipe teropong yang akan dibuat meliputi Damon, Erebus, Mini Weapon Sight serta jenis night vision lainnya sesuai kebutuhan.

Instrumen Optik dalam TBSM dibuat dengan teknologi tinggi yang memungkinkan pemakainya melihat dalam keadaan gelap pada kondisi malam hari, di dalam hutan dan medan dengan kondisi cahaya yang minim.

Kerjasama yang dirintis Pindad dengan salah satu pemimpin pasar global memiliki harapan bahwa proses alih teknologi yang dilakukan akan berjalan secara lebih maksimal dan akan berujung pada penguasaan teknologi perusahaan akan meningkat. (Anggia)

  Pindad  

Selasa, 08 November 2016

Pindad Gandeng Meprolight

Kembangkan Optik Senapan http://angkasa.co.id/wp-content/uploads/2016/11/Pindad-Mepro-X4-696x464.pngOptik Pindad Mepro X4 

M
asa-masa ketika seorang prajurit harus mengintip ke lubang pisir dan menyelaraskannya ke tiang pejera mekanik sudah lama berlalu di negara-negara maju. Penggunaan optik sudah menggejala bahkan sudah lama menjadi standar.

Bukan apa-apa, optik yang terpasang di atas senapan standar prajurit memang sudah merevolusi doktrin infanteri. Tidak hanya meningkatkan kecepatan akuisisi sasaran, kewaspadaan situasional penembak jadi meningkat drastis berkat penggunaan sistem optik tersebut. Hal ini krusial dalam situasi pertempuran jarak dekat di dalam ruangan sempit, karena banyaknya sudut dan titik mati yang butuh kewaspadaan.

Nah, dalam Indo Defence 2016, PT Pindad tampil beda. Jika pada IDEF 2014 Pindad menggunakan ragam optik dari perusahaan yang berbeda-beda untuk dipasangkan ke atas senjata produksinya seperti Finmeccanica Thermal Sight, Trijicon ACOG dan Trijicon Reflex, maka pada IDEF 2016 Pindad sudah merujuk ke satu merk saja yang menjadi penyedia optik untuk senapan-senapannya.

Perusahaan yang digandeng untuk menyediakan optik adalah Meprolight, perusahaan yang bernaung di bawah Mako Group asal Israel. Optik buatan Meprolight sudah menjadi standar dari prajurit IDF (Israeli Defense Force). Di dalam TNI, Kostrad tercatat menggunakan optik jarak dekat Meprolight M21I berbasis tritium untuk senapan serbu SS-1R5 yang digunakan Batalion Raider Kostrad.

Ada dua jenis optik Mepro yang dibawa Pindad, yang satu adalah optik jarak menengah Mepro X4 yang dipasangkan dengan senapan tempur SS-3. Mepro X4 bolehlah dikatakan sebanding dengan Trijicon ACOG, menawarkan pembesaran tetap 4x yang berguna untuk menyasar sasaran pada jarak 400-600 meter. Retikulanya dilengkapi kompensator untuk titik jatuh peluru sehingga penembak tak perlu sulit menyetel kenop elevasi.

Satu-satunya kenop pengatur retikula yang tersedia adalah kenop putar di sisi kanan untuk mengatur simpangan angin pada retikula. Berbeda dengan ACOG yang mengandalkan tritium, X4 menggunakan pencahayaan berbasis baterai sehingga tingkat kecerlangannya dapat diatur melalui kenop di sisi atas tubuh X4. X4 memiliki fitur mati otomatis apabila tidak digunakan dalam jangka waktu lama untuk mengantisipasi apabila penembak lupa mematikannya.

Untuk optik jarak dekat, tersedia Meprolight M21I yang dipasangkan ke PM3, pistol mitraliur atau submachinegun baru gacoan Pindad. Berbeda dengan X4 yang masih memasang logo Meprolight kecil, pada M21I sudah ada label Pindad berukuran besar yang disablonkan ke sisi kiri badan optik.

Pemasangan logo Pindad sudah pasti menunjukkan adanya suatu skema kerjasama antara Meprolight dengan Pindad, terutama untuk alih teknologi sebagai syarat penjualan alutsista ke dalam negeri. M21I dilengkapi pencahayaan tritium untuk retikula, sehingga tidak membutuhkan baterai untuk sumber tenaga. Tritium pada M21I dapat bertahan menyala selama 10-15 tahun, sesuai dengan penggunaan di lapangan.

Dengan lensa berawarna biru, M21I memudahkan transisi dari tempat terang ke gelap dan sebaliknya, sehingga tidak membuat mata penembak cepat lelah. M21I versi Pindad sudah dilengkapi ARD (Anti Reflective Device) berbentuk silinder yang dipasang di depan lensa optik, untuk meminimkan pantulan dan mengurangi glare pada lensa optik. Menurut pengalaman pribadi penulis yang pernah menggunakan optik ini beberapa kali, akuisisi sasaran dan nyala retikulanya memang memadai untuk kondisi di luar dan dalam ruangan, dengan FoV (Field of Vision) alias bidang pandang lebar yang lebih baik dari Aimpoint Comp M2.

Dengan lengkapnya portofolio Pindad yang sudah memiliki lini optik sendiri, tentu diharapkan akan ditindaklanjuti dengan pembelian oleh para penggunannya. Tidak hanya demi standarisasi alutsista dan kompetisi dengan negara lain, tetapi tentu juga untuk mendukung kemajuan TNI maupun Polri dalam menghadapi ancaman dalam dan luar negeri.

Author: Aryo Nugroho

  Angkasa  

Senin, 07 November 2016

[Video] Kerjasama Saab dengan PT Pindad

RBS 70 NG dan Radar Giraffe 1X AESA di rantis Komodo https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh80668wbs31eb6S_wN89IMUmjQ4O5B3JhiX9cHJPyVqov990mljxC3aa1DjmgfKEifrDSdiLir9qsPfK9YGOyJ9mzxIvXhhswgTRfWowpjXmt8mfzQK2qHgqQCC68YJ1l6e7zlLSmkdzU9/s1600/14908199_komodo+girafe+X1+def.pk.jpgIlustrasi model radar Giraffe 1X dipasang pada rantis Komodo [defence.pk] ☆

Seperti banyak negara lain, dalam mengembangkan industri pertahanan dalam negeri, transfer teknologi dan penawaran offset menjadi prioritas utama bagi Indonesia dalam kesepakatan dengan mitra internasional.

Salah satu perusahaan barat yang membantu Indonesia dalam membangun kemampuan dalam negeri tersebut adalah perusahaan Swedia, Saab, yang telah menandatangani perjanjian dengan PT Pindad untuk fokus pada Ground Base Air Defence (GBAD).

Perjanjian dimaksud adalah sistem rudal RBS 70 NG dan radar Giraffe 1X AESA, yang akan diintegrasikan dengan kendaraan Komodo 4×4 produk PT Pindad. Contoh itu diperlihatkan di pameran Indo Defence 2016, di Jakarta.

Transfer teknologi direncanakan akan dilakukan pada pembuatan komponen less-advanced dari kedua sistem. Harapannya bahwa di masa depan, setelah Indonesia memperoleh pengalaman teknis yang memadai, mereka akan dapat memproduksi bagian-bagian yang lebih kompleks dan akhirnya mencapai transfer teknologi penuh.

Salah satu langkah pertama yang akan menjadi program pelayanan seumur hidup untuk rudal RBS 70 Indonesia, ujar Rickard Svensson, direktur bisnis Saab untuk kawasan Asia Pasifik. [Shephardmedia]

 Video liputan shephardmedia dari youtube : 


  Garuda Militer  

Minggu, 06 November 2016

TNI Gunakan Lebih dari 200 Panser Anoa

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPXGwgRJ3noiidRIzwQth_ySJ44Tn0UavcxyenRA0c-aUGzQq6PD_RR1G5JMkdedh2UH1uwMHNEUQVC2We3fWBPv9p0EhQNtJkXSgwOR_K_VSGeCQw_GlK-900tV4M5dEiVoqwir9lR0W4/s1600/armored-vehicle-pindad.jpgKendaraan militer produk PT Pindad

Menteri Pertahanan Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu mengatakan, hingga kini. Tentara Nasional Indonesia sudah menggunakan lebih dari 200 panser angkut pasukan Anoa 6 x 6. Untuk meningkatkan produksi alat utama sistem persenjataan dalam negeri, Kementerian Pertahanan akan terus memesan. termasuk produk baru dari PT Pindad (Persero).

Kita sudah pakai produk PT Pindad. Kita lihat itu ada panser Badak dengan meriam 90 milimeter, panser Anoa tipe amfibi, dan kendaraan taktis Sanca. Kami akan pesan juga, kata Ryamizard seusai menyaksikan demonstrasi berbagai kendaraan tempur dan kendaraan taktis dalam dan luar negeri di sela kunjungan ke Pameran Indo Defence 2106, di Jakarta, Sabtu, 15 November 2016.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJEGYSetmvcxR5JDvWCwPSahb89_mSC7nilikkg2Qy1KEAf8QBU-9TQg-4M1JsKfdY4l6TzdtIl4VuPyrjngIeI9PLXIMKQeXVF_XKS6ZzW4z41zbI0gGx3nAIlY5NOuSV3XaLGROC3B-a/s1600/pindad02pr1v4t33r.jpgMenhan puas melihat pengembangan produk alutsista. Produksi dalam negeri diakuinya sudah dapat bersaing sehingga pihaknya memegang komitmen untuk selalu menggunakan produksi dalam negeri. Pembelian panser Badak yang bersenjatakan meriam Cockerill 90 milimeter dan kendaraan taktis Sanca akan dibahas lebih Ianjut oleh pihak Kemhan.

Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan Laksamana Muda (TNI) Leonardi dalam kesempatan sama mengatakan, hingga kini, sekurangnya ada 250 panser Anoa yang sudah digunakan oleh berbagai satuan TNI yang dibuat Pindad. Kami sudah memesan, yang diserahkan dalam beberapa tahun terakhir ini sudah beberapa ratus unit, kata Leonardi.

Pemesanan alutsista, seperti panser Badak dan kendaraan taktis Sanca, lanjut Leonardi, menunggu permintaan pengguna yakni matra TNI, Darat, Laut, dan Udara. Pihaknya juga selalu berkomunikasi dengan pabrikan alutsista, baik BUMN maupun swasta.

 Siap kembangkan 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiXPqFDeVToQC0Xcp2XsvumJcTC0BdUn6jyMZhapbVEn6Tooe4QPq01YW1JYku3w9aq3-v5JCdKGrJB1TLV78g_kUp-9_CVbpx71Bia5O5MKNNW_wgb4Il4y70PLRzT1dpf4irBQKUGL1iG/s1600/14564875_defence.pk.jpgBeberapa waktu lain, Direktur Utama PT Pindad Abraham Mose mengatakan, pihaknya selalu siap rnengembangkan berbagai produk alutsista dan meningkatkan kapasitasnya. Sementara Dirjen Perencanaan Pertahanan Kemhan Marsekal Muda (TNI) NI Syaugi berharap, pabrikan dalam negeri lebih aktif berkomunikasi dengan Kemhan dan matra TNI selaku pemakai alutsista.

Sementara itu, di salah satu sudut pameran Indo Defence 2016, salah satu pabrikan alutsista dalam negeri, PT Sari Bahari, menampilkan drone sebagai sasaran tembak, berbagai roket, dan bom latih yang dikembangkan untuk varian jet tempur Sukhoi dan NATO.

  TNI AD  

Tank Buatan Pindad Seharga Rp 50 Miliar

Pengembangan medium Tank sendiri melibatkan TNI AD dalam hal ini Dislitbang, Pussenkav dan Pusdikpal sebagai pengguna.Medium tank PT Pindad dan FNSS [FNSS]

Indonesia memiliki mimpi besar terhadap kemandirian Industri pertahanan. Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) pun menyusun tujuh program nasional yaitu program pesawat tempur KFX/IFX, kapal selam, industri propelan, roket, peluru kendali, radar, dan medium tank.

"Sudah seharusnya kita mandiri. Kita punya SDM yang bagus, industri kita juga sudah mulai bangkit. Mari bangun industri hulu dan hilir kita agar tidak tergantung pihak asing dan membantu perekonomian kita," ucap Anggota KKIP bidang teknologi Laksamana Muda (purn) Rachmad Lubis di pameran Indodefence 2016, Kemayoran, Jakarta.

PT. Pindad sendiri dipercayakan mengembangkan medium tank bekerjasama FNSS asal Turki. Kerjasama joint development medium tank telah dimulai pada 29 Juni 2010 silam setelah Kementerian Pertahanan kedua negara menandatangani persetujuan kerjasama industri pertahanan (Defence Industry Cooperation) di Ankara Turki.

Di lokasi yang sama, Kepala Divisi Pengembangan Proses PT Pindad Hery Mochtadi mengatakan saat ini pengembangan medium tank telah masuk proses pembuatan Hull di Turki. Bulan Desember 2016 beberapa komponen akan di kirim ke Indonesia untuk dirakit disini.

"Sekarang ini kita sudah mulai proses pembuatan body hull di Turki untuk prototipe pertama. Mungkin nanti awal Desember sudah dikirim ke Indonesia body kit hullnya untuk di las di Indonesia. Jadi secara produknya mungkin sekitar 30 persen. tapi untuk desain kita sudah 95 persen tinggal fabrikasinya," tutur Hery.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKIgPmkBU121etusgS3Z-BUkzBm8XZYwf7HVFAwqtlrQlPudY12pcSd0_ktRSXRWzlIPLp_PIDgwTpbeU61oOB5r3MvAAjUhVh8rlKrFCNB9MQWE8hAZZ0Q5rW2nwRTjDMjYWswjquJ91x/s1600/pindad.jpg"Kita untuk tahun ini sudah kirim 20 orang. Jadi tim engineering kita sudah 20 orang udah selesai nah sekarang yang kita kirim adalah tim manufaktur sekarang ada 4 orang di Turki. Nanti akhir November kita akan kirim lagi 3 orang. Target kita kira-kira 50 orang kita latih dari sisi engineering, manufacture sampai quality. Itu kita latih untuk bisa menangani project ini," tambahnya.

Pengembangan medium Tank sendiri melibatkan TNI AD dalam hal ini Dislitbang, Pussenkav dan Pusdikpal sebagai pengguna.

"Jadi persyaratan requirementnya, itu kita dapat dari TNI AD ada opsreqnya. Di sana ada Pussenkav dan Ditpalad itu sebagai mitra kita dalam pengembangan desain ini. Ini hasil kolaborasi desain ini. Hingga ke Turki," jelasnya.

 Kecepatan dan Harga
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEikUUcuST50VftCUqt_iKoZgbopcCyDDY9IPOzn7yB1jaNXLf_PioLTaRGGN4BGt3hA5G6Hdi08pte93YT-wzFMyPYvDCAPW3DrMmJ-I6p599xqLoBIgvGNCvNJMde6yhgOP2TQjn3GhAec/s1600/CwQK59fUEAA_TAl.jpgMenurut Hery, banyak keunggulan medium tank yang sedang dikembangkan ini mulai kecepatan hingga masalah harga. Medium Tank PT Pindad dan FNSS ini bakal lebih murah dibanding kompetitor.

"Kecepatan bisa sampai 70 km/jam, tank rata2 cuman bisa sampai 60 km/jam. Kalau harga kita punya pesaing misalnya K21 Korea itu harganya sekitar Rp 45 milliar, CV 90 itu Rp 60 milliar tapi turetnya lebih kecil. Untuk kita harapannya di bawah mereka, tapi dengan 105 mm. Perkiraannya harganya tidak jauh dengan Korea di angka Rp 45-50 milliar per unit," tambahnya.

Tidak sampai disitu, armour medium tank juga bisa di upgrade hingga STANAG 4569 level 5 yakni mampu menahan munisi kaliber 25 mm APDS-T. Sedangkan untuk peralatan misi disiapkan Wireless Crew Intercom System, Navigation System, Battlefield Management System (BMS), Laser Warning System (LWS) hingga perlindungan 360 derajat.

Dengan mengadopsi lambung V shaped, Medium Tank dapat meminimalisir resiko ranjau darat hingga level 4. Medium tank ini juga harus bisa menanjak di sudut 37 derajat dan untuk jarak jelajahnya hingg 450 km.

"Untuk armour level 5 bisa sampai 30 mm, untuk APDS bisa 25 mm itu bisa sampai kesana. Untuk main protectionnya level 4 bisa 10 kg TNT. Selain itu, ini turretnya modular, kita bisa pakai 105, 90, atau 35 tergantung usernya," jelasnya.

Untuk Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN)nya, Hery menambahkan pihaknya menggandeng sejumlah perusahaan dalam negeri. Diharapkan, keikutsertaan perusahaan dalam negeri ini membuat TKDN menjadi besar.

"Untuk TKDN secara mesin, atau Turet kita masih dari luar tapi untuk fabrikasinya kita bisa dalam negeri. Untuk Alat komunikasinya kita pakai PT Len, BMS dari PT Hariff Daya Tunggal Engineering, dan track linknya juga kita bisa dalam negeri seperti di Indopulley," kata Hery.

Mediun Tank PT Pindad dan FNSS ini memiliki lebar 3.2 meter, tinggi 2.7 meter dan panjang hampir 7 meter. Menggunakan mesin diesel generasi baru dengan di tambah transmisi otomatis Medium tank memiliki power to weight ratio 20 hp/ton dan bobot tidak lebih dari 30 ton.

"Harapannya 5 Oktober tahun depan nanti sudah hadir di Indonesia dan kita bisa hadirkan di HUT TNI," tutupnya.
 

  Otonomi